Seorang muslim yang hidup di tanah air perlu mengenal bagaimana tuntunan Islam dalam menyikapi perayaan-perayaan agama lain. Karena meski muslimin di sini merupakan yang terbesar di dunia, tapi keberadaan non muslim ditengah-tengah mereka adalah suatu kenyataan. Sehingga terciptalah interaksi timbal balik antar mereka pada banyak kesempatan. Sampai disini tidak ada yang salah, selagi seorang muslim masih setia dengan batasan-batasan agamanya. Tapi masalah mulai timbul ketika seseorang tidak lagi membedakan mana ranah yang dibolehkan dan mana yang terlarang. Sebagai contohnya adalah hari-hari perayaan pada agama lain.

Sebagian orang yang keliru, menafsirkan hidup berdampingan dengan memberikan toleransi seluas-luasnya kepada penganut agama lain tanpa menjaga batasan. Sehingga banyak muslimin yang ikut-ikutan dengan kebiasaan-kebiasaan non muslim/kafir. Imlek misalnya atau yang dikenal dengan tahun baru China yang diikuti dengan perayaan Cap Go Meh pada hari ke 15-nya. Sejatinya budaya ini bagi bangsa Tionghoa tidak terpisah dengan kepercayaan agama mereka. Karena berdasarkan legenda mereka, Imlek dirayakan ketika mereka berhasil mengalahkan hewan mitos/Nian yang muncul setiap hari pertama tahun baru untuk memangsa ternak, memakan hasil pertanian dan anak-anak. Sehingga mereka meletakkan makanan di depan pintu. Kemudian jika Nian datang dan mengambil makanan itu, hal ini diyakini sebagai pertanda bahwa Nian tidak lagi menyerang warga. Maka setiap tahun baru, orang-orang Tionghoa yang kaya selalu menyediakan 12 macam makanan dan aneka kue yang masing-masingnya melambangkan 12 macam shio. Adapun orang miskinnya cukup membuat mie yang mereka namakan dengan “mie panjang umur” (Siu Mie/Shou Mian) yang disajikan tanpa putus sebagai lambang dan pengharapan dipanjangkan umurnya.

Mitos dan kepercayaan diatas adalah sedikit dari banyak contoh ajaran takhayul yang ada pada agama orang China. Dimana agama mereka adalah percampuran antara Khonghuchu dan Thao. Hasil dari percampuran ini melahirkan tiga bentuk peribadatan:

–          Kepada nenek moyang, sebagai penghargaan yang tinggi kepada sifat taat kepada ibu bapak.

–          Kepada berhala yang terdiri dari dewa-dewi, watak dalam cerita epic dan tokoh-tokoh sejarah (pahlawan). Orang China meyakini menyembah berhala dapat menjamin keselamatan hidup sehari-hari

–          Kepada datuk tanah (penunggu).

Oleh karena itu, apa pun agama orang China, adat tradisi ini tetap mereka jaga dan lakukan kecuali yang masuk Islam. Karena hanya Islam ajaran yang memiliki konsep yang jelas dalam masalah ketuhanan. Sehingga didapati pada sebagian mereka kebencian terhadap Islam. Sering kita dengar keluarga China yang masing-masing anggotanya memiliki agama yang berbeda-beda tapi mereka saling “menghormati” dalam perbedaan. Namun ketika ada salah seorang dari mereka masuk Islam, si muslim ini mereka usir bahkan mereka kucilkan dan tidak lagi dianggap sebagai keluarga.

Hal ini menandakan bahwa hanya Islam yang memiliki garis pemisah yang jelas dengan ajaran-ajaran lain dengan konsep tauhidnya.

Tauhid dalam Islam

Tauhid merupakan dasar agama Islam, intisari dan pondasi baginya. Orang yang masuk Islam diminta mengucapkan kalimat Tauhid: Laa ilaa Illallah, kalimat yang merupakan pengikraran lisan bahwa hanya Allah yang berhak dan pantas menerima ibadah dan selain-Nya tidak. Allah berfirman;

ذَٰلِكَ بِأَنَّ اللَّهَ هُوَ الْحَقُّ وَأَنَّ مَا يَدْعُونَ مِنْ دُونِهِ الْبَاطِلُ وَأَنَّ اللَّهَ هُوَ الْعَلِيُّ الْكَبِيرُ

“Demikianlah, karena sesungguhnya Allah, Dia-lah yang hak dan sesungguhnya apa saja yang mereka seru selain dari Allah itulah yang batil; dan sesungguhnya Allah Dialah Yang Maha Tinggi lagi Maha Besar”. (Qs. Luqman: 30)

Dan pada ayat sebelumnya Allah menerangkan kekuasaan-Nya dalam penciptaan dan pengaturan alam semesta, mengganti siang dengan malam dan sebaliknya serta mengatur peredaran matahari dan bulan;“Tidakkah kamu memperhatikan, bahwa sesungguhnya Allah memasukkan malam ke dalam siang dan memasukkan siang ke dalam malam dan Dia tundukkan matahari dan bulan masing-masing berjalan sampai kepada waktu yang telah ditentukan, dan sesungguhnyaAllah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan”.

Berkenaan dengan ini Al Imam Ibnu Katsir menjelaskan: Terangnya tanda-tanda kekuasaan Allah adalah agar kalian membangun sikap diatasnya bahwa hanya Dia yang hak, maksudnya  hanya Dia satu-satunya sesembahan yang benar dan bahwa selainnya (adalah sesembahan) yang batil. Karena Dialah Yang Maha Kaya yang tidak butuh kepada siapa pun, sedangkan semua yang ada tergantung kepada-Nya. (selesai)

Maka orang Islam yang benar standar keislamannya adalah orang yang mengakui hal ini, bahwa hanya Allah yang berhak menerima peribadatan disamping ia melakukan ibadah hanya kepada Allah. Dan ia menolak dan inkar terhadap peribadatan kepada apa pun dan siapa pun selain Allah dari nenek moyang, orang suci maupun jin-jin penunggu.

Ibnu Abdil Wahhab Rahimahullah mengatakan:

Pokok ajaran Islam dan kaidahnya dua: (pertama) perintah beribadah kepada Allah semata tidak ada sekutu bagi-Nya, berdakwah kepadanya, membangun kesetiaan diatasnya dan mengkafirkan orang yang meninggalkannya. (Kedua) memperingatkan dari kesyirikan dalam peribadahan kepada-Nya, tegas diatasnya, membangun permusuhan diatasnya dan mengkafirkan orang yang melakukannya. (selesai)

Maka ajaran yang sejelas ini garisnya, tidak mungkin bisa dimasuki paham-paham atau aliran takhayul dan khurafat musyrikin Jawa Kejawen, Sunda Karuhun, Dayak Kaharingan atau kesyirikan bangsa Thionghoa secara terang-terangan atau dengan bungkus kebudayaan.

إِنَّ إِبْرَاهِيمَ كَانَ أُمَّةً قَانِتًا لِلَّهِ حَنِيفًا وَلَمْ يَكُ مِنَ الْمُشْرِكِينَ

“Sesungguhnya Ibrahim adalah seorang imam yang dapat dijadikan teladan lagi patuh kepada Allah dan hanif. Dan sekali-kali bukanlah dia termasuk orang-orang yang mempersekutukan (Rabb).” (Qs. An-Nahl: 120)

Maka seorang muslim tidak condong kepada musyrikin apalagi bergabung atau ikut-ikutan perayaan-perayaan mereka.

Wabillahit-Taufik

Jafar Salih

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *