Pada edisi sebelumnya, kita telah dihadapkan pada sebuah fakta sejarah yang tak terbantahkan: Syi’ah generasi awal yang merupakan loyalis murni Ali bin Abi Thalib hidup dengan rukun, saling menghormati, dan bahkan menjalin puluhan ikatan pernikahan dengan keluarga para Sahabat lain, termasuk Bani Umayyah. Sosok mulia seperti Ali, Hasan, dan Husain radhiyallahu ‘anhum tidak pernah memendam kebencian kepada Abu Bakar, Umar, apalagi Utsman. Lantas, sebuah pertanyaan besar mengemuka: Jika generasi awalnya begitu harmonis, dari manakah datangnya racun permusuhan, caci-maki, dan akidah-akidah rusak yang kini dianut oleh orang-orang yang mengaku sebagai Syi’ah?

Perubahan drastis dari sekadar faksi politik menjadi sekte berakidah menyimpang tentu tidak terjadi secara kebetulan. Sejarah mencatat kemunculan seorang provokator ulung berdarah Yahudi dari Yaman, bernama Abdullah bin Saba’ (dikenal juga sebagai Ibnu Sauda’). Bermodalkan kepura-puraan masuk Islam di masa kekhalifahan Utsman bin Affan, ia mulai mengorganisir gerakan bawah tanah. Strateginya sangat licik: ia memanipulasi slogan “Cinta Ahlul Bait” untuk menyuntikkan ajaran-ajaran asing warisan Yahudi dan Majusi ke dalam tubuh umat Islam. Fakta tentang Ibnu Saba’ ini bukanlah karangan kaum Sunni sebagaimana yang dituduhkan. Tokoh-tokoh besar pakar sejarah dan perawi Syi’ah sendiri mengakui rekam jejaknya dengan gamblang, sebagaimana dicatat oleh ulama Syi’ah abad ke-3 Hijriah, An-Nawbakhti:

Kelompok Sabaiyyah adalah pengikut Abdullah bin Saba’… Dialah orang pertama yang memasyhurkan doktrin wajibnya keimaman Ali ‘alaihissalam, dan orang yang pertama kali menampakkan permusuhan kepada musuh-musuhnya (yakni memulai tradisi mencaci Abu Bakar dan Umar)… Dari sinilah orang-orang yang menyelisihi Syi’ah mengatakan bahwa asal mula paham Rafidhah (Syi’ah ekstrem) itu diambil dari agama Yahudi.  Lihat Firaq Asy-Syi’ah karya An-Nawbakhti, hal. 43-44.

Saking bencinya Ahlul Bait terhadap sosok penyusup ini, Imam Ali Zainal Abidin, cucu Husain Radhiyallahu ‘anhu, sampai bereaksi keras saat nama Ibnu Saba’ disebut di hadapannya:

“Semoga Allah melaknat orang yang berdusta atas nama kami. Sungguh, saat aku teringat Abdullah bin Saba’, maka berdirilah seluruh bulu kuduk di tubuhku. Dia telah mengklaim perkara yang sangat besar (menuhankan Ali)… Demi Allah, Ali ‘alaihissalam hanyalah seorang hamba yang saleh dan saudara Rasulullah Saw.” Lihat Rijal Al-Kasyi hal. 100.

Kebencian dan kebohongan kelompok Sabaiyyah ini tidak berhenti pada sekadar merusak akidah. Merekalah dalang utama yang merancang pertumpahan darah di antara para Sahabat Nabi. Setelah sukses memprovokasi massa untuk membunuh Khalifah Utsman bin Affan, mereka menyusup ke dalam barisan pasukan Ali untuk mencari perlindungan.

Peran licik mereka paling berdarah terjadi pada malam menjelang Perang Jamal. Kala itu, di Basrah, pasukan Ali dan pasukan Aisyah bersama Thalhah dan Zubair sebenarnya sudah mencapai kesepakatan damai. Malam itu, umat Islam tertidur lega karena perang saudara berhasil dihindari. Namun kelompok Sabaiyyah panik luar biasa. Mereka sadar jika umat Islam berdamai mereka akan diadili dan dieksekusi atas pembunuhan Utsman. Maka di saat gelap gulita mereka melancarkan aksi adu domba berdarah, menyulut peperangan antara pasukan Ali melawan Aisyah. Peristiwa ini dicatat oleh Imam Ath-Thabari dalam Tarikhnya Juz 5 halaman 202-203. Beliau berkata:

“Orang-orang (dari kedua kubu) tidur di malam itu dengan sebaik-baik malam (karena kesepakatan damai telah tercapai). Namun para pembunuh Utsman tidur dengan seburuk-buruk malam. Mereka berunding dan sepakat untuk menyalakan api peperangan di waktu gelap gulita menjelang subuh… lalu setiap kelompok dari mereka menyerang kaumnya masing-masing… Maka berkatalah pasukan (Aisyah): ‘Penduduk Kufah (pasukan Ali) telah menyerang kita di malam hari dan mengkhianati kita…’ (Dan terjadilah peperangan).”

Karena sabotase kotor inilah, pasukan Aisyah mengira Ali telah berkhianat, dan pasukan Ali mengira hal yang sama bahwa Aisyahlah yang berkhianat. Sehingga pecahlah perang saudara yang sangat menyayat hati tersebut. Karakter pengkhianat, pengecut, dan pembuat fitnah dari kelompok Sabaiyyah ini kemudian terus diwariskan kepada para pengikut mereka di Kufah, yang akhirnya membawa kita pada lembaran sejarah kelam berikutnya: Tragedi Karbala!

Kita sering kali disuguhi narasi ratapan pilu bahwa Ahlul Bait selalu dizalimi oleh penguasa. Namun, mari kita telusuri secara objektif, siapa sebenarnya yang menjerumuskan Husain ke medan pembantaian? Kala itu, penduduk Kufah—yang merupakan basis utama pendukung (Syi’ah) Ali—mengirimkan puluhan ribu surat. Mereka berjanji dan bersumpah akan membela Husain dengan nyawa mereka jika beliau bersedia datang memimpin di Irak. Mengetahui tabiat buruk kaum Kufah yang suka berkhianat, sepupu Husain yang sangat cerdas, Abdullah bin Abbas, memohon agar Husain membatalkan perjalanannya. Ibnu Abbas memperingatkan: “Wahai anak pamanku… Sesungguhnya mereka (penduduk Kufah) adalah kaum yang telah engkau ketahui dan engkau uji tabiatnya. Mereka adalah orang-orang yang dulu menjadi pengikut ayah dan kakakmu (namun akhirnya mengkhianati mereka berdua), dan besok mereka jugalah yang akan menjadi pembunuhmu bersama amir mereka… Demi Allah, aku sangat takut engkau akan dibunuh sebagaimana Utsman dibunuh.”  Lihat Muruj Adz-Dzahab karya seorang sejarawan Syi’ah Al-Mas’udi Juz 3, hal. 55.

Firasat itu terbukti benar. Ketika Husain tiba di Karbala, puluhan ribu orang Kufah yang mengundangnya justru lari ketakutan karena ancaman penguasa. Ironisnya, sejarah mencatat bahwa yang mengepung dan membantai Husain secara langsung adalah orang-orang Syi’ah Kufah itu sendiri. Al-Mas’udi sendiri mengakui fakta ini. Tuturnya: “Dan semua tentara yang hadir dalam pembunuhan Husain, yang memeranginya dan turun langsung membunuhnya, adalah murni penduduk Kufah (yakni orang-orang Syi’ahnya sendiri). Tidak ada satu pun orang Syam (pasukan Yazid dari Suriah) yang hadir di sana.” Lihat Muruj Adz-Dzahab karya Al-Mas’udi, Juz 3, hal. 61.

Maka wajar jika kelak, saat wanita-wanita Kufah meratap menangisi tawanan keluarga Husain, Ali Zainal Abidin menyindir mereka dengan ucapan yang telak: “Kalian menangisi kami?! Memangnya siapa yang telah membunuh kami, kalau bukan kalian sendiri?!” Lihat Tarikh Al-Ya’qubi (1/235)

Bukannya bertaubat, kelompok Syi’ah Kufah ini justru semakin ekstrem (ghuluw). Caci maki kepada para Sahabat Nabi. Dan sikap itu pada akhirnya mulai dijadikan standar keimanan mereka. Puncaknya terjadi ketika Zaid bin Ali (cucu Husain) memimpin perlawanan terhadap penguasa Bani Umayyah. Orang-orang Syi’ah Kufah datang menawarkan dukungan, tetapi dengan satu syarat: Zaid harus bersedia melaknat Abu Bakar dan Umar. Zaid, yang berakidah lurus, dengan tegas menolak dan memuji kedua Sahabat tersebut. Fakhruddin Ar-Razi mencatat momen perpecahan ini:

“Mereka dinamakan Ar-Rawafidh (Rafidhah) karena ketika Zaid bin Ali memberontak… pasukannya (dari kalangan Syi’ah) malah mencaci-maki Abu Bakar. Zaid pun melarang mereka melakukan itu. Akibatnya, mereka menolak dan meninggalkan Zaid hingga tak tersisa bersamanya kecuali 200 pasukan saja. Zaid bertanya: ‘Kalian rafadhtumuni (menolak aku)?’ Mereka menjawab: ‘Ya’. Maka sejak saat itulah nama Rafidhah melekat pada mereka.”  Lihat I’tiqadat Firaq al-Muslimin wa al-Musyrikin karya Ar-Razi, hal. 52.

Dari kelompok pembangkang inilah cikal bakal Syi’ah Itsna Asyariyah (Sekte 12 Imam/Imamiyah) yang eksis dan berkuasa di Iran saat ini terbentuk. Sementara itu, segelintir pengikut Zaid yang setia kelak disebut Zaidiyah.

By admin

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *