Ummat Islam sebagaimana yang dikabarkan oleh Nabi Saw dalam hadits yang hasan, akan terpecah belah menjadi 73 golongan, semuanya di neraka kecuali satu yaitu Al Jama’ah. Siapakah Al Jama’ah yang dimaksud disini? Tentang hal ini kelak akan ada bahasannya. Namun disini kita akan membahas tentang satu golongan yang masih sangat eksis hingga sekarang, yaitu Syi’ah. Apakah mereka masuk ke dalam 72 golongan atau justru diluar.

Al Barbahari (w. 329) meriwayatkan dalam Syarhus Sunnah dari Abdullah bin Al Mubarak (w. 181), ia berkata: Muara dari 72 golongan 4 golongan. Dari 4 golongan inilah bercabang hingga 72 golongan; (4 golongan ini adalah:) Qadariyah, Murji’ah, Syi’ah dan Khawarij.

Kemunculan Syi’ah

Secara bahasa, kata “Syiah”  berarti “aliansi” atau “pendukung”. Pada masa awal Islam, saat terjadi perpecahan akibat terbunuhnya Utsman radhiyallahu ‘anhu, muncul istilah “Syi’ah”. Pada waktu itu penggunaan kata ini dipakai hanya sebatas untuk menunjukkan keberpihakan politik. Perselisihan yang terjadi tentang cara dan waktu penegakan hukum atas orang-orang yang membunuh Utsman, menjadikan kaum muslimin terbelah. Sebagian menyatakan keberpihakannya kepada Ali Radhiyallahu Anhu sehingga disebut Syi’ah Ali, dan sebagian lainnya berpihak kepada Mu’awiyah Radhiyallahu Anhu dan disebut Syi’ah Mu’awiyah. Namun secara akidah tidak satu pun dari kedua kelompok ini yang menampakkan perbedaan dengan prinsip-prinsip akidah Islam. Kondisi ini terus bertahan sampai munculnya kelompok yang ghuluw terhadap Ali Radhiyallahu ‘anhu. Fakta ini diakui oleh kaum Sunni & Syi’ah. Dalam kitab Nahjul Balaghahyang merupakan rujukan utama kaum Syi’ah, pada halaman 448 tertulis;

“Awal mula perkara kami adalah saat kami dan kaum dari penduduk Syam (kubu Muawiyah) saling berhadapan. Padahal tampak jelas bahwa Tuhan kami adalah satu, Nabi kami satu, dan seruan kami dalam Islam adalah satu. Kami tidak meminta tambahan kepada mereka dalam hal keimanan kepada Allah dan pembenaran kepada Rasul-Nya (karena keimanan mereka sudah sempurna), dan mereka pun tidak meminta tambahan hal itu kepada kami. Perkara kami (aqidah kami) adalah satu, kecuali apa yang kami perselisihkan mengenai (tuntutan qishash atas) darah Utsman, sementara kami berlepas diri dari (pembunuhan) itu.”

Demikianlah asal-usul penggunaan kata “Syi’ah” pada awal kali kemunculannya, hingga kemudian istilah ini bergeser dan menjadi identik kepada loyalis Ali dan berkembang hingga menjadi ajaran sendiri yang berbeda dari Islam sama sekali. Proses evolusi ini digambarkan dengan rapih oleh Al Hafizh Ibnu Hajar (w. 852) pada definisinya. Dalam Hady As-Saari, halaman 646 ia berkata;

“At-Tasyayyu’ (aliran Syi’ah) artinya mencintai Ali dan mendahulukannya dari sekalian shahabat Nabi. Barangsiapa mendahulukan Ali dari Abu Bakr dan Umar maka dia ekstrimis Syi’ah dan disebut Rafidhi (pengikut aliran Rafidhah). Tapi apabila tidak sampai begitu, maka ia cukup disebut sebagai Syi’i (pengikut aliran Syi’ah). Apabila disamping itu (mendahulukan Ali dari Abu Bakr dan Umar) dia juga mencaci dan terang-terangan menampakkan kebencian kepada keduanya, maka dia Ghulat Rafidhi (ekstrimis Rafidhah). Apabila disamping itu (mencaci Abu Bakr dan Umar) dia meyakini akidah raj’ah (kembalinya Ali) ke dunia maka dia ekstrimis garis kerasnya. -selesai.

Maka mengatakan bahwa Syi’ah adalah aliran dalam Islam yang lahir dari kekecewaan politik di masa lampau, tidak salah. Tapi kita tidak boleh berhenti pada fase itu dan menutup mata dari evolusi yang terjadi setelahnya. Padahal tidak sama Syi’ah dulu dengan sekarang!

Dr. Ihsan Ilahi Dhahiir (w. 1407), seorang pakar Syi’ah dari Pakistanberkata; Kendati begitu dahulu mereka (Syi’ah dulu) tidak berbeda dengan ummat Islam yang lain dalam hal akidah dan pemikiran. Syi’ah dulu tidak mengingkari Al Qur’an dan (tidak) meyakini telah terjadi penyelewengan pada Al Qur’an dan perubahan. Syi’ah dulu tidak mengingkari Sunnah Nabawiyah. Sebagaimana Syi’ah dulu juga tidak mengkafirkan para shahabat Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam dan tidak mengingkari keutamaan mereka. Bahkan Syi’ah dulu tidak memiliki mazhab tersendiri yang keluar dari mazhab muslimin pada umumnya, tidak pula dalam cara ibadah, (atau memiliki) syi’ar-syi’ar dan ciri-ciri yang membedakan mereka dari ummat Islam (lainnya).

Beliau juga mengatakan: Tidak ada pada masa itu kebencian kepada sabiqunal awwalun dari kalangan Muhajirin dan Anshar sebagaimana yang dibuat-buat orang Syi’ah sekarang. Bahkan tidak ada pada para loyalis Ali dahulu akidah yang ada pada orang-orang Syi’ah sekarang, yang bersumber kepada kebencian terhadap salafus shalih, terkhusus Abu Bakr, Umar, Utsman dan istri-istri Nabi para Ummahatul Mukminin. Begitu pula tidak ada pada loyalis Ali dahulu akidah yang ada pada orang-orang Syi’ah sekarang yang dibangun diatas pengingkaran terhadap Al Qur’an yang ada ditangan ummat Islam saat ini, begitu pula pengingkaran terhadap sunnah Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam. Bahkan dahulu mereka mencintai para shahabat Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam yang pimpinannya adalah Abu Bakr, Umar dan Utsman serta istri-istri Nabi yang suci dan disucikan.

Realita ini tidak hanya terekam dalam literatur sunni saja, ia bahkan diakui oleh tokoh-tokoh Syi’ah sekarang. Dr. Ahmad Al Wa’ili (w. 1423) seorang ulama Syi’ah terkenal yang berasal dari Irak, khatib al mimbar mengatakan; Berdasarkan penelusuranku terhadap kitab-kitab tarikh, tidak aku dapati setelah wafatnya Nabi sampai berakhirnya masa kekuasaan khalifah-khalifah satu pun orang yang mencaci sahabat Al Imam (Ali) yang mendahuluinya sebagai khalifah (Abu Bakr, Umar dan Utsman). Sampai di zaman kekuasaan Bani Umayyah, dahulu mayoritas Syi’ah berhati-hati dari mencela seorang pun dari para shahabat dan tabi’in.  Asy-Syi’ah wa At-Tasyayyu’ halaman 161

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah (w. 728) mengatakan: Syi’ah pertama yang membersamai Ali atau hidup pada masa itu tidak berselisih dalam persoalan mendahulukan Abu Bakr dan Umar. Perselisihan mereka hanya dalam persoalan mendahulukan Ali dari Utsman. Hal ini diantara perkara yang diakui oleh para pembesar ulama Syi’ah sendiri dulu dan sekarang.

Syarik bin Abdillah An-Nakha’i (w. 177), seorang salaf yang dikategorikan ke dalam barisan loyalis Ali generasi pertama suatu hari ditanya; Siapakah yang lebih utama Abu Bakar atau Ali? Ia menjawab; Abu Bakr. Lalu si penanya itu berkata: Kamu katakan ini padahal anda seorang Syi’ah? Syarik menjawab: Iya! Barangsiapa yang tidak mengatakan ini maka dia bukan Syi’ah. Sungguh demi Allah, Ali Radhiyallahu ‘Anhu telah naik ke atas mimbar ini dan berkata: “Sebaik-baik ummat ini setelah nabinya adalah Abu Bakr kemudian Umar.” Bagaimana bisa kita menolak ucapannya dan mendustakannya. Sungguh Ali bukan seorang pendusta. Mukhtashar Al Minhaj, halaman 11.

Bukti-bukti lain

Diantara fakta lain yang menunjukkan perbedaan Syi’ah dulu dan sekarang adalah bahwa Syi’ah dulu tidak memendam kebencian kepada Khulafa’ur Rasyidin dari Abu Bakr, Umar dan Utsman. Hal ini tercermin pada sikap Ali, Hasan dan Husein berikut:

Pemberian Nama Anak: Ali bin Abi Thalib menamai putra-putranya yang lain dengan nama Abu Bakar, Umar, dan Utsman. Fakta ini diakui oleh ulama Syiah seperti Al-Mufid dalam Al-Irsyad (hal. 186). Tradisi penamaan anak dan keturunan seperti ini pun diteruskan oleh Hasan dan Husain.

Pernikahan Silang; Literatur ahli nasab mencatat puluhan pernikahan antara keturunan Ali dengan Bani Umayyah pasca konflik. Misalnya, putri Ali yang bernama Ramlah menikah dengan Muawiyah bin Marwan bin Al Hakam. Lalu cucu Ali, Zainab binti Husein menikah dengan Zaid bin Amr bin Utsman. Begitu pula cucu Ali yang lain, anak perempuan Husein, Fatimah menikah dengan cucu Utsman yang lain yakni Muhammad bin Amr bin Utsman dstnya.

Dr. Ihsan Ilahi Dhahir mengatakan; Para ulama nasab telah menghitung jumlah pernikahan silang ini sampai lebih dari dua puluh yang semuanya terjadi pasca perselisihan antara Ali dan Mu’awiyah dan setelah terjadinya perang Jamal dan Shiffin.

Syarat perdamaian; Diantara bukti lain bahwa Syi’ah terdahulu tidak memendam benci kepada Abu Bakr, Umar dan Utsman adalah Hasan mensyaratkan kepada Mu’awiyah untuk memerintah sesuai ajaran yang ditinggalkan Khulafaur Rasyidin sebelumnya, Abu Bakr, Umar dan Utsman Radhiyallahu ‘Anhum

Bukti lain; Bukti lainnya Hasan dan Husein membaiat Mu’awiyah dan sering mengunjunginya dan Mu’awiyah memuliakan keduanya. Begitu pula, keduanya shalat bermakmum di belakang penguasa-penguasa Bani Umayah seperti di belakang Marwan dan selainnya.

Apabila diketahui fakta-fakta ini lantas darimanakah datangnya permusuhan dan akidah-akidah rusak yang ada pada orang-orang yang mengaku Syi’ah sekarang? Bagian ini kami bahas pada edisi berikutnya.

Wallahua’lam

By admin

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *