Siapa saja yang menelusuri dakwah nabi Ibrahim Alaihissalaam akan mendapati dakwah beliau hidup di atas tauhid pada setiap kondisi dan keadaannya.

Dalam dakwahnya Ibrahim melalui beberapa fase. Dimulai dari mendakwahkan keluarga kemudian masyarakatnya, rakyat dan pemerintahannya. Hal ini nyata tertera pada firman Allah Subhanahu Wa Ta’ala,

“Dan (ingatlah) di waktu Ibrahim berkata kepada bapaknya Aazar: “Pantaskah kamu menjadikan berhala-berhala sebagai ilah-ilah. Sesungguhnya aku melihat kamu dan kaummu dalam kesesatan yang nyata”…. Ketika malam menjadi gelap, dia melihat sebuah bintang (lalu) dia berkata:”Inilah Rabbku” Tetapi tatkala bintang itu tenggelam dia berkata:”Saya tidak suka kepada yang tenggelam”…. Kemudian tatkala dia melihat matahari terbit dia berkata:”Inilah Rabbku, ini yang lebih besar”, maka tatkala matahari itu telah terbenam, dia berkata:”Hai kaumku, sesungguhnya aku berlepas diri dari apa yang kamu persekutukan. Sesungguhnya aku menghadapkan diriku kepada (Rabb) yang menciptakan langit dan bumi dengan cenderung kepada agama yang benar, dan aku bukanlah termasuk orang-orang yang termasuk mempersekutukan-Nya”. (QS. Al An’am: 74-79)
Di sini beliau menempuh metode paling ampuh dalam berargumen dan debat dalam rangka menegakkan hujjah Allah dan mematahkan kesyirikan dan syubhat-syubhatnya. Dakwah yang kuat dan berapi-api kepada tauhid dan mengajak kepada mengikhlaskan ibadah hanya untuk Allah semata dan mencampakkan kesyirikan dan memangkasnya dari pokoknya.
Dan pada surat Maryam ayat 41-50 Allah mengisahkan bagaimana Ibrahim Alaihissalaam berusaha memahamkan ayahnya dengan lemah lembut dan dengan mengemukakan alasan-alasan yang logis dan realistis agar sang ayah menerima hidayah Allah dan shirathal mustaqim. Akan tetapi semua itu dibalas dengan sikap ta’asshub (fanatik buta) yang dibangun di atas kejahilan dan hawa nafsu serta pembangkangan dan kesombongan yang besar.
“Ingatlah ketika ia (Ibrahim) berkata kepada bapaknya:”Wahai bapakku, mengapa kamu menyembah sesuatu yang tidak medengar, tidak melihat dan tidak dapat menolong kamu sedikitpun. Wahai bapakku, sesungguhnya telah datang kepadaku sebahagian ilmu pengetahuan yang tidak datang kepadamu, maka ikutilah aku, niscaya aku akan menunjukkan kepadamu jalan yang lurus. Wahai bapakku, janganlah kamu meyembah syaitan. Sesungguhnya syaitan itu durhaka kepada Yang Maha Pemurah. Wahai bapakku, sesungguhnya aku khawatir bahwa kamu akan ditimpa azab oleh Yang Maha Pemurah, maka kamu menjadi kawan bagi syaitan”. Berkata bapaknya: “Bencikah kamu kepada ilah-ilahku, hai Ibrahim Jika kamu tidak berhenti, maka niscaya kamu akan kurajam, dan tinggalkanlah aku buat waktu yang lama”. (QS. Maryam: 42-46)
Setelah fase-fase ini, beliau beranjak membawa dakwah yang mulia ini kepada rajanya yang dzalim, thaghut yang mengaku sebagai tuhan dengan segenap keberanian dan kekuatan. Dan hal ini Allah kisahkan di dalam Kitab-Nya,
“Apakah kamu tidak memperhatikan orang yang mendebat Ibrahim tentang Rabbnya (Allah) karena Allah telah memberikan kepada orang itu pemerintahan (kekuasaan)? Ketika Ibrahim mengatakan, “Rabbku ialah yang menghidupkan dan mematikan,” orang itu berkata, “Saya dapat menghidupkan dan mematikan.” Ibrahim berkata, “Sesungguhnya Allah menerbitkan matahari dari timur, maka terbitkanlah dia dari barat,” lalu heran terdiamlah orang kafir itu; dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim.” (QS. Al Baqarah: 258)
Pada ayat ini Allah mengisahkan bagaimana Ibrahim mendakwahkan tauhid kepada thagut ini, akan tetapi dia menjadi sombong dari menyambut tauhid dan tidak mau rujuk dari pengakuannya sebagai tuhan. Maka Ibrahim pun mendebatnya dengan hujjah-hujjah yang kuat dan bukti-bukti yang terang dengan mengatakan; “Rabbku ialah yang menghidupkan dan mematikan,” yakni hanya Dialah Yang Maha Tunggal dalam penciptaan, pengaturan, menghidupkan dan mematikan. Akan tetapi raja sombong lagi bodoh ini justru berkata: “Saya dapat menghidupkan dan mematikan.” Yakni saya membunuh siapa saja yang saya ingin bunuh dan saya biarkan hidup siapa saja yang saya ingin dia tetap hidup.

Pada jawaban raja sombong ini jelas sekali pengelabuan dan penyesatan orang-orang bodoh dan lari dari jawaban yang sebenarnya. Karena maksud Ibrahim Alaihissalaam adalah bahwa Rabbnya lah yang mengadakan kehidupan pada manusia, hewan dan tumbuh-tumbuhan dari sebelumnya tidak ada, kemudian menjadikannya mati kembali dengan kekuasaan-Nya dan bahwasanya Dia-lah yang mewafatkan manusia dan hewan apabila telah datang masanya dengan sebab-sebab yang tampak atau tidak. Maka tatkala Ibrahim melihat sang raja melakukan pengelabuan dan pembohongan yang mungkin menjebak orang-orang bodoh dan awam, Ibrahim mengemukakan hujjah pamungkas yang menjadikan sang raja terdiam dan menyadari kesalahan pengakuannya sebagai tuhan: “Sesungguhnya Allah menerbitkan matahari dari timur, maka terbitkanlah dia dari barat,” lalu heran terdiamlah orang kafir itu.”
Dari sini kita mengetahui bahwa dakwah tauhid adalah andalan segenap anbiya’ dan kebanggaan mereka dengannya mereka menerjang kebatilan, kejahilan dan kesyirikan. Maka tidak mau tahu terhadap ilmu ini merupakan kebodohan yang mematikan dan racun yang membunuh akal dan pikiran.
Dan pada dakwah Ibrahim kepada rajanya ini terdapat pelajaran yang berharga bagai mereka yang berakal dan mau mengambil pelajaran. Sesungguhnya dakwah tauhid merupakan realisasi dari puncak keikhlasan, kebijaksanaan, kecerdasan, dakwah yang bertolak dari titik yang Allah Subhanahu Wa Ta’ala inginkan. Bukan ajang perebutan kekuasaan dan bukan pula perlombaan kepada kepemimpinan. Karena apabila ini yang menjadi tujuan Ibrahim tentulah beliau akan menempuh selain manhaj ini dan Ibrahim akan mendapati orang-orang yang mensupport dan mendukungnya. Akan tetapi Allah enggan, begitu pula para nabi-Nya dan da’i-da’i yang shalih dari pengikut para nabi yang sesungguhnya di setiap zaman dan segenap negeri, mereka enggan selain menempuh jalan dakwah menerangkan al hak dan menegakkan hujjah kepada orang-orang yang sombong dan membangkang.
Sungguh Ibrahim telah menunaikan tugas yang besar ini dengan sebaik-baiknya. Beliau menegakkan hujjah kepada bapaknya dan kaumnya, pemerintah dan rakyatnya. Maka tatkala ia melihat pembangkangan mereka di atas kesyirikan dan kekufuran dan tetap berada di atas kebatilan dan kesesatan beliau pun beranjak mengingkari dan merubah dengan tangan dan kekuatan dengan petunjuk Rabnya.

Jafar Salih

7 Mei 2010

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *