ANTARA MENAHAN LAPAR DAN MERUNTUHKAN AGAMA
Ramadhan adalah bulan yang agung, tamu mulia yang dinanti-nanti oleh setiap mukmin. Inilah bulan diturunkannya Al-Qur’an. Di bulan ini, pintu-pintu surga dibuka selebar-lebarnya, pintu-pintu neraka ditutup rapat, dan setan-setan dibelenggu. Allah Subhanahu wa Ta’ala mewajibkan puasa di dalamnya agar hamba-hamba-Nya mencapai derajat takwa, sebagaimana firman-Nya:
“Wahai orang-orang yang beriman! Diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.” (QS. Al-Baqarah: 183)
Semangat kaum muslimin dalam menyambut Ramadhan sungguh luar biasa. Masjid-masjid menjadi makmur, lantunan Al-Qur’an menggema, dan suasana religius begitu terasa di setiap sudut kota. Bahkan, saudara-saudara kita yang mungkin di hari-hari biasa jarang terlihat beribadah, tiba-tiba muncul dengan semangat membara untuk menunaikan puasa. Ini adalah sebuah kebaikan yang patut kita syukuri sebagai syiar Islam.
Fenomena “Puasa Kencang, Shalat Bolong”
Ada pemandangan ironis yang sering kita jumpai di bulan Ramadhan. Banyak orang yang super gigih menahan lapar dan dahaga di bawah terik matahari selama belasan jam. Dijaga betul agar tidak ada setetes air pun yang membatalkan puasa. Namun anehnya, mereka justru kalah melawan kewajiban shalat yang hanya butuh waktu 5-10 menit. Logika yang terbalik sering terjadi: mereka takut puasanya batal hanya karena mencicipi masakan, tapi anehnya tidak takut keislamannya batal karena meninggalkan shalat. Alhasil, statusnya “sedang berpuasa”, tapi seharian hanya dihabiskan untuk tidur atau main game sampai Maghrib tanpa menyentuh air wudhu sama sekali.
Kenapa Sih Bisa Begini? (Sebuah Renungan)
Jika kita renungkan, kenapa fenomena “Puasa Yes, Shalat No” ini begitu menjamur? Ternyata ada tiga “jebakan” pola pikir utamanya:
1. Salah Motivasi: “Malu Sama Tetangga, Bukan Sama Allah”
Di masyarakat kita, makan siang saat Ramadhan dianggap aib sosial yang memalukan. Sebaliknya, meninggalkan shalat dianggap ranah pribadi yang tak terlihat orang lain. Akhirnya, banyak yang berpuasa hanya demi menjaga citra di depan manusia (social pressure), namun lupa menyembah Sang Pencipta.
2. Jebakan Rasa Malas
Puasa itu ibadah pasif; cukup niat dan menahan lapar, bahkan bisa dilakukan sambil tiduran. Sedangkan shalat adalah ibadah aktif; butuh wudhu (kadang dingin) dan gerakan fisik. Bagi jiwa yang belum terbiasa, memutus aktivitas duniawi sejenak untuk shalat terasa jauh lebih berat daripada sekadar menahan lapar seharian.
3. Terlena Euforia “Festival Kuliner”
Ramadhan sering bergeser makna menjadi ajang wisata kuliner dan reuni berkedok “Bukber”. Saking asyiknya berburu takjil viral dan mengantre makanan saat berbuka, waktu shalat Maghrib seringkali terlewat atau dikerjakan secepat kilat di sisa waktu.
Benarkah Masih Muslim Jika Tidak Shalat?
Sebelum kita membahas apakah puasanya diterima atau tidak, ada pertanyaan yang jauh lebih besar dan menakutkan: Masihkah dianggap Muslim seseorang yang mengaku beriman tapi menolak bersujud kepada Tuhannya? Apakah label “Islam di KTP” saja sudah cukup untuk menyelamatkan kita?
Ini bukan perkara remeh. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah memberikan teguran keras melalui sebuah kejadian nyata yang dialami oleh sahabat bernama Mihjan. Mari kita simak kisahnya:
“Mihjan pernah berada di majelis bersama Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, lalu dikumandangkan azan untuk shalat. Kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berdiri, lalu mengerjakan shalat. Sedangkan Mihjan masih duduk di tempat semula. Kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengatakan, “Apa yang menghalangimu shalat, bukankah engkau adalah seorang muslim?” Lalu Mihjan mengatakan, “Betul. Akan tetapi saya sudah melaksanakan shalat bersama keluargaku.” Lalu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengatakan padanya, “Apabila engkau datang, shalatlah bersama orang-orang, walaupun engkau sudah shalat.” (HR. An-Nasa’i dan Ahmad).
Perhatikan pertanyaan Nabi disini yang mengatakan: “Bukankah engkau seorang Muslim?”
Kalimat ini menyiratkan pesan yang sangat tajam: Jika kamu Muslim, kamu pasti shalat. Jika kamu tidak shalat, maka keislamanmu dipertanyakan.
Ibnul Qayyim rahimahullah dalam kitab As-Shalah (hlm. 41) menjelaskan logika ini dengan sangat cerdas: “Sama saja seperti orang bertanya, ‘Kenapa kamu tidak bicara, bukankah kamu punya mulut?’ atau ‘Kenapa diam saja, bukankah kamu masih hidup?’ Seandainya seseorang bisa disebut Muslim tanpa perlu shalat, maka Nabi tidak akan bertanya seperti itu.”
Kesepakatan (Ijma’) Para Sahabat Batalnya Islam Orang yang Tidak Shalat
Perhatikanlah perkataan Amirul Mukminin Umar bin Al-Khattab radhiyallahu ‘anhu saat menjelang sakratul maut setelah ditusuk, beliau berkata: “Tidak ada Islam bagi orang yang meninggalkan shalat.” Riwayat ini disebutkan oleh Ibnul Qayyim dalam Ash Shalah, hlm. 41-42.
Mayoritas sahabat Nabi menganggap bahwa orang yang meninggalkan shalat dengan sengaja adalah kafir. Hal ini ditegaskan oleh seorang tabi’in senior, Abdullah bin Syaqiq Al-‘Aqliy: “Dulu para sahabat Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam tidaklah pernah menganggap suatu amal yang apabila ditinggalkan menyebabkan seorang kafir kecuali shalat.” (HR. Tirmidzi).
Ucapan ini menunjukkan bahwa di mata para sahabat, dosa meninggalkan shalat lebih berat daripada dosa-dosa besar lainnya. Shalat adalah batas pemisah yang nyata antara keimanan dan kekafiran.
Hukum Puasa Tapi Tak Shalat
Berdasarkan dalil-dalil yang sangat kuat di atas, bagaimanakah akhirnya nasib puasa orang yang meninggalkan shalat?
Dalam Majmu’ Fatawa wa Rasa’il (17/62), Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin rahimahullah memberikan fatwa yang sangat jelas: “Puasa yang dilakukan oleh orang yang meninggalkan shalat tidaklah diterima karena orang yang meninggalkan shalat telah kafir dan murtad.” Beliau berdalil dengan firman Allah Ta’ala: “Jika mereka bertaubat, mendirikan shalat dan menunaikan zakat, maka (mereka itu) adalah saudara-saudaramu seagama.” (QS. At-Taubah: 11).
Ayat ini mengisyaratkan bahwa persaudaraan seiman hanya terjalin jika seseorang bertaubat dari kesyirikan dan menegakkan shalat. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda: “Pembatas antara seorang muslim dengan kesyirikan dan kekafiran adalah meninggalkan shalat.” (HR. Muslim). Serta sabda beliau yang lain: “Perjanjian antara kami dan mereka (orang kafir) adalah mengenai shalat. Barangsiapa meninggalkannya maka dia telah kafir.” (HR. An-Nasa’i, Tirmidzi, Ibnu Majah, dan Ahmad).
Oleh karena itu, apabila seseorang berpuasa namun dia meninggalkan shalat, puasa yang dia lakukan tidaklah sah dan tidak diterima di sisi Allah. Syaikh Utsaimin menutup penjelasannya dengan kalimat yang patut kita renungkan: “Kami katakan, ‘Shalatlah kemudian tunaikanlah puasa’. Adapun jika engkau berpuasa namun tidak shalat, amalan puasamu akan tertolak karena orang kafir tidak diterima ibadahnya.”
Penutup
Hendaknya seorang hamba tidak membiarkan lapar dan dahaganya berujung sia-sia hanya karena melalaikan shalat. Sebab diterima tidaknya amal puasa -bahkan semua amalan- sangat tergantung kepada tegaknya shalat sebagai pondasi agama. Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam telah mengingatkan hal ini dalam sabdanya: “Sesungguhnya seorang hamba apabila diletakkan di kuburnya ditanya tentang shalatnya. Shalatnya adalah perkara pertama yang akan ditanya. Apabila shalatnya baik, diperiksalah amalan lain selain shalatnya. Tapi apabila buruk, amalan lain selain shalatnya tidak dilihat lagi setelahnya.” Hadits ini diriwayatkan oleh Al Imam Al Marwazi dalam kitab Ta’dzim Qadr As-Shalat.
Maka perbaikilah shalat agar seluruh amal ibadah di bulan ini dan bulan-bulan lainnya sempurna dan diterima Allah Ta’aala.
Wallahul Muwaffiq ila Aqwam Ath-Thariq