Rasulullah Saw bersabda,

ويلٌ للذي يحدِّثُ بالحديثِ ليُضحكَ به القومَ فيكذبُ ويلٌ له ويلٌ له 

“Celakalah orang yang bercerita dan berdusta untuk membuat orang tertawa. Celakalah dia, celakalah dia.” (HR Tirmidzi & Abu Daud)

Selain aspek akidah dan ibadah, Islam juga sangat memperhatikan akhlak. Akhlak seperti yang dijelaskan para ulama adalah ekspresi batin yang lahir dalam bentuk sikap dan perilaku. Perbuatan dan ucapan seseorang adalah cerminan dari kondisi batinnya. Kata Nabi Saw., “Sesungguhnya di dalam sebuah jasad terdapat gumpalan. Apabila dia baik maka baiklah seluruh jasadnya. Dan apabila ia rusak maka rusaklah semua jasadnya. Gumpalan itu adalah jantung (hati).” 

Setinggi-tingginya akhlak adalah akhlak kepada Allah dengan mentauhidkan-Nya. Oleh sebab itu, Allah memuji Nabi-Nya karena kesempurnaan tauhid dan keluhuran budi pekertinya.  

وَإِنَّكَ لَعَلَىٰ خُلُقٍ عَظِيمٍ

“Dan sesungguhnya engkau (Muhammad) benar-benar berada di atas akhlak yang agung.” (QS Al-Qalam: 4) 

Islam telah menjadikan akhlak Nabi Saw. sebagai standar keluhuran dan keteladanan pada semua aspek kehidupan tanpa terkecuali, termasuk hiburan. Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah.”  (QS Al-Ahzab: 21)

Menghibur diri dengan yang mubah atau bersenang-senang tanpa berlebihan tidak dilarang dalam Islam sebagaimana hal ini tampak pada keseharian Rasulullah dengan para sahabatnya. Akan tetapi, saat sebagian orang-orang munafik bergurau dengan simbol-simbol agama, Allah menurunkan ayat-Nya. 

“Apakah dengan Allah, ayat-ayat-Nya dan Rasul-Nya kamu selalu berolok-olok?” Tidak usah kamu minta maaf karena kamu kafir sesudah beriman.” (QS At-Taubah: 66)

Hiburan bukan ruang hampa nilai. Oleh karena itu, klaim bahwa “ini hanya bercanda” adalah klaim yang secara ilmiah lemah dan secara moral menyesatkan. Sekalipun ditambahkan embel-embel “menurut keyakinan saya”, jelas terlihat keculasannya. Ucapan tersebut tidak lebih dari sekadar bumper yang disiapkan untuk lari dari tanggung jawab secara hukum dunia, tetapi tidak untuk hukum akhirat.

Setelah At-Taubah ayat 66 turun, orang-orang munafik yang disebutkan dalam ayat itu bergegas mendatangi Rasulullah Saw. Mereka beralasan, “Sesungguhnya kami hanya bersenda gurau dan main-main saja.” (QS At-Taubah: 65). Akan tetapi, Nabi Saw. tidak menambah selain apa yang Allah firmankan. Beliau hanya mengulang-ulang firman-Nya, “Apakah dengan Allah, ayat-ayat-Nya dan Rasul-Nya kamu selalu berolok-olok?” Tidak usah kamu minta maaf karena kamu kafir sesudah beriman.” (QS At-Taubah: 66)

Acara stand-up comedy Mens Rea yang dipopulerkan Panji, tidak bisa dilepaskan dari kritik serius. Sulit disangkal bahwa acara tersebut dipenuhi dengan gibah, kata-kata kotor, ejekan, bahkan pelecehan terhadap agama. Islam melarang semua itu.

Mens Rea bukan sekadar selera humor, tetapi benturan nilai antara keluhuran Islam dengan perilaku yang rendah. Rasulullah Saw. bersabda, “Sesungguhnya Allah Mulia dan mencintai kemuliaan. Allah mencintai keluhuran akhlak dan membenci kerendahan.” (HR Abdurrazzaq dalam Mushannaf) 

1. Larangan menggibah atau menggunjing

Islam telah melarang dari berbuat gibah, yaitu menyebutkan kejelekan saudaramu di belakangnya yang dia tidak suka. Allah Taala berfirman, “Dan janganlah sebagian kalian menggunjing sebagian yang lain. Sukakah salah seorang di antara kalian memakan daging saudaranya yang telah mati? Maka tentu kalian jijik.(QS Al-Hujurat: 12)

Analogi ekstrem pada ayat ini, memakan bangkai saudara sendiri, menunjukkan betapa menjijikkannya moral gibah. Suatu moral yang rendah tentu tidak pantas menjadi hiburan, apalagi dirayakan.

2. Larangan mengejek, mencela, dan merendahkan orang lain

Allah Taala melarang hamba-Nya saling mengejek dan merendahkan orang lain dalam ayat berikut. 

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah sekumpulan laki-laki merendahkan kumpulan yang lain, boleh jadi yang ditertawakan itu lebih baik dari mereka. Dan jangan pula sekumpulan perempuan merendahkan kumpulan lainnya, boleh jadi yang direndahkan itu lebih baik. Dan janganlah suka mencela dirimu sendiri dan jangan memanggil dengan gelaran yang mengandung ejekan.” (QS Al-Hujurat: 11)

Dalam banyak materi komedi Mens Rea, baik individu maupun kelompok tidak luput dari gibah dan ejekan. Meski dengan bahasa satir, maksud untuk mengundang gelak tawa bukan lampu hijau bagi siapa pun untuk durhaka kepada Allah.

3. Larangan mengolok-olok agama dan menjadikan simbol-simbolnya sebagai bahan tertawaan.

Lebih buruk dari gibah dan mengejek adalah menjadikan simbol-simbol agama yang harus diagungkan sebagai ejekan dan bahan tertawaan. Telah disampaikan sebelumnya penyebab turunnya ayat 65–66 surat At-Taubah. Ada hadits menceritakan peristiwa ini dengan lebih detail lagi. Orang-orang munafik itu berkata, “Kami tidak dapati orang yang paling banyak makan, banyak berbohong, dan penakut saat bertemu musuh seperti halnya mereka.” Yang dimaksud orang-orang munafik itu adalah Rasulullah Saw. dan para sahabatnya. Oleh karena itu, Allah menjelaskan hukuman atas mereka, “Jangan kalian mencari-cari alasan, kalian telah kafir setelah keimanan kalian.”

Ketiga perbuatan ini hanya sebagian dari banyak pelanggaran agama yang sering terjadi pada acara stand up comedy seperti Mens Rea. Wajib bagi siapa pun yang beriman kepada Allah dan hari akhir mengingkarinya, meninggalkannya, dan tidak menikmatinya, apalagi sampai mengatakan “merasa terwakili” olehnya. Allah berfirman, “Dan janganlah kamu cenderung kepada orang-orang yang zalim yang menyebabkan kamu disentuh api neraka.” (QS Hud: 113)

Seorang muslim tidak sepatutnya hadir di tempat-tempat kedurhakaan

Tidak diragukan bahwa Mens Rea adalah kedurhakaan kepada Allah Swt. Ghibah, mencela dan mengejek orang lain, di hadapan atau di belakang mereka tidak hanya merusak keharmonisan antar manusia semata, tapi ia juga merusak hubungan antara hamba dan penciptanya. Bahkan jika orang yang diejek sekalipun merasa tidak tersinggung, perbuatan-perbuatan ini tidak serta merta menjadi halal dan boleh dilakukan karena disamping hak sesama perlu dijaga, juga ada hak Allah yang tidak boleh dilanggar. Nabi Saw bersabda; “Barangsiapa beriman kepada Allah dan hari akhir hendaknya dia berkata baik atau diam.” Hadits ini menjelaskan korelasi antara akhlak dengan keimanan. Bahwa orang yang beriman bagus akhlak dan perilakunya.

Bahkan lebih jauh lagi Islam melarang menghadiri tempat-tempat disitu Allah Swt didurhakai dan memerintahkan siapa saja yang berada di tempat tersebut untuk meninggalkan tempat itu dan angkat kaki dari situ. Allah Swt berfirman; “Dan sungguh Allah telah menurunkan kekuatan kepada kamu di dalam Al Quran bahwa apabila kamu mendengar ayat-ayat Allah diingkari dan diperolok-olokkan (oleh orang-orang kafir), maka janganlah kamu duduk beserta mereka, sehingga mereka memasuki pembicaraan yang lain. Karena sesungguhnya (kalau kamu berbuat demikian), tentulah kamu serupa dengan mereka. Sesungguhnya Allah akan mengumpulkan semua orang-orang munafik dan orang-orang kafir di dalam jahannam bersama-sama.” (Qs. An-Nisa’: 140)

Maka sebagaimana menjaga lisan untuk tidak melakukan ghibah dan semisalnya adalah akhlak dan keimanan, begitu pula menjaga sikap untuk tidak ikut serta dan pergi meninggalkan tempat-tempat seperti itu juga akhlak dan keimanan. Nabi Saw bersabda; “Sesungguhnya diantara peninggalan dari ajaran-ajaran para nabi terdahulu yang masih ada adalah ucapan: Kalau kamu tidak punya malu, lakukanlah sesukamu.”  (HR. Al Bukhari)

Wallahua’lam. (js)

By admin

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *