Barangsiapa memanggil-manggil Ali bin Abi Thalib maka ia kafir. Dan barangsiapa ragu akan kafirnya orang ini, ia pun kafir.

Jika demikian kondisi orang yang ragu akan kafirnya orang kafir, padahal ia tetap memusuhinya, membencinya. Maka bagaimana jadinya orang yang meyakini si kafir ini masih muslim dan tidak mau memusuhinya?! (Lebih jauh lagi) bagaimana dengan orang yang (justru) mencintai si kafir?! Atau membelanya dan membela cara beragamanya dan beralasan bahwa kami tidak mampu memusuhi mereka (orang-orang kafir) karena bisnis dan perlu mencari rezki. Padahal Allah Ta’aala berfirman (mencela musyrikin Makkah yang mengetahui kebenaran namun tidak mau mengikutinya dengan alasan keselamatan):

((Dan musyrikin berkata: Jika kami mengikuti jalan kebenaran bersamamu (Muhammad) kami akan diculik dari tempat-tempat tinggal kami)) Al Qashash: 57)

jikalah seperti ini Allah mencela orang-orang yang abstain dari menampakkan kebenaran dan mengamalkan tauhid serta memusuhi musyrikin dengan alasan khawatir akan keselamatan keluarga dan kerabatnya, bagaimana dengan orang-orang yang abstain dalam hal ini tapi dengan alasan rejeki?!

Namun perkara ini persis seperti yang diucapkan Umar Radhiyallahu ‘Anhu: “Akan lepas tali Islam seutas demi seutas. Jika tumbuh di dalam Islam orang-orang yang tidak mengetahui perkara Jahiliyah.”

Al Imam Muhammad bin Abdul Wahhab Rahimahullah dalam “Mufidul Mustafid” 149-150 Cet. Maktabah Ar-Rusyd

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *