Pernah dengar ucapan “semua orang Islam masuk surga”? Ya, itu benar. Tapi persoalannya adalah kapan seseorang dikatakan berislam dan mati di atas Islam? Ini yang kurang mendapat perhatian. Islam memiliki kriteria seperti halnya istilah-istilah lainnya dalam agama. Shalat misalnya adalah semua ucapan dan perbuatan yang diawali dengan takbir dan diakhiri dengan salam dalam rangka mendekatkan diri kepada Allah. Lantas apa itu Islam? Dan kapan seseorang disebut muslim? Islam adalah berserahdiri, dan seseorang tidak disebut muslim hakiki sampai ia memenuhi kriterianya yang empat: (1) mengucapkan syahadatain, (2) memahami maknanya, (3) mengamalkan kandungannya, (4) tidak melakukan satu pun dari pembatal-pembatalnya.

Arti tauhid & syahadat Laa ilaaha Illallah

Masuk surga, seperti yang disebutkan dalam hadits yang diriwayatkan Abu Dawud,

من كان آخر كلامه لا إله إلا الله دخل الجنة

“Barangsiapa yang ucapan terakhirnya adalah Laa ilaaha Illallah maka dia masuk surga” adalah salah satu dari keutamaannya. Tapi seseorang yang hanya mengucapkannya, namun tidak memahami artinya atau salah dalam mengartikannya ucapannya tidak berguna baginya. Karena orang yang tidak paham bagaimana bisa mengamalkan dan lebih jauh tentunya tidak aman dari kesalahan melakukan pembatalnya. Itulah sebabnya kenapa ucapan ini dinamakan syahadat yang artinya kesaksian. Sebagaimana dalam suatu kesaksian seseorang saksi dituntut benar-benar mengetahui, begitu juga halnya disini seorang yang bersaksi dengan Laa ilaaha Illallah tapi tidak memahami kesaksiannya tertolak. Allah Ta’aala berfirman;

إلا من شهد بالحق وهم يعلمون

“Hanyalah orang-orang yang mempersaksikan kebenaran dan mereka mengetahui.” (Qs. Az-Zukhruf: 86)

            Ucapan Laa ilaaha Illallah yang sering kita ucapkan adalah merupakan kesaksian bahwa tidak ada satu pun yang berhak diibadahi selain Allah. Dia terdiri dari dua bagian yang disebut rukun; yang pertama nafi (meniadakan), dan yang kedua itsbat (menetapkan). Yakni meniadakan apa pun yang diibadahi selain Allah, dan menetapkan Allah sebagai satu-satunya yang wajib diibadahi sebagaimana firman-Nya:

ذلك بأن الله هو الحق وأن ما يدعون من دونه الباطل

“…yang demikian itu adalah karena hanya Allah Dialah satu-satunya yang hak, dan apa-apa yang mereka seru (ibadahi) selain Dia adalah batil.” (Qs. Al-Hajj: 62). Inilah kewajiban pertama yang Allah Ta’aala amanatkan kepada hamba-Nya: mentauhidkan-Nya sebagaimana firman-Nya;

وما خلقت الجن والإنس إلا ليعبدون

“Dan tidaklah Aku ciptakan jin & manusia selain untuk beribadah kepada-Ku (saja).” (Qs. Adz-Dzariyat: 56). Karena ucapan-Nya; “selain untuk beribadah kepada-Ku (saja)” memenuhi kedua rukun tauhid diatas nafi & itsbat yakni menjadikan Allah sebagai satu-satunya yang diibadahi dan menolak selain Allah sebagai yang berhak diibadahi dan disembah.

            Seseorang apabila sudah memahami Laa ilaaha Illallah belum selamat sepenuhnya sampai ia mengamalkan kandungannya berupa mengibadahi Allah dan menjauhi kesyirikan dengan segala macam bentuknya. Karena makna syahadat ini bukan sekedar teori tanpa bukti. Sedangkan pembuktiannya adalah dengan mengamalkannya, yakni beribadah kepada Allah dengan mengerjakan apa-apa yang Allah cintai dan Allah ridhai dari ucapan dan perbuatan yang tampak seperti tilawah, zikir, shalat, puasa dstnya atau yang tersembunyi seperti mencintai Allah dan rasul-Nya dan mencintai apa-apa yang Allah dan rasul-Nya cintai dan lain sebagainya dari amalan-amalan yang dilakukan oleh hati. Seluruhnya hanya boleh diberikan kepada Allah semata. Inilah ibadah yang hakiki. Karena sebagaimana shalat tidak disebut shalat tanpa bersuci, begitu pula ibadah bukan ibadah kecuali di atas tauhid. Allah Ta’aala berfirman;

واعبدوا الله ولا تشركوا به شيئأ

“Beribadahlah kalian kepada Allah dan jangan kalian menyekutukan Dia dengan suatu apa pun.”  (Qs. An-Nisaa’: 36)

Arti syirik

            Kesyirikan adalah lawan dari tauhid. Keduanya tidak pernah bertemu pada diri seseorang. Kapan terdapat tauhid hilang kesyirikan. Dan kapan terdapat syirik tauhid pun pergi. Kesyirikan adalah dosa yang paling besar, dan tidak terampuni. Yakni kapan seorang mati dan dia belum bertaubat dari dosa kesyirikan nasibnya adalah kekal di neraka selama-lamanya, wal ‘iyadzu billah. Allah berfirman;

إن الله لا يغفر أن يشرك به ويغفر ما دون ذلك لمن يشاء

“Sesungguhnya Allah tidak mengampuni dosa syirik, dan mengampuni dosa selainnya bagi siapa yang Allah kehendaki.” (Qs. An-Nisaa’: 48)Dan Dia juga berfirman:

إنه من يشرك بالله فقد حرم الله عليه الجنة ومأواه النار وما للظالمين من أنصار

“Sesungguhnya barangsiapa menyekutukan Allah (melakukan syirik) maka Allah haramkan atas dia surga dan tempat kembalinya adalah neraka dan tidak ada bagi orang-orang zalim itu seorang pun penolong.” (Qs. Al Maidah: 72)

Sebagaimana tauhid adalah hanya beribadah kepada Allah, maka syirik sebagai lawan dari tauhid berarti memberikan ibadah kepada selain Allah, atau menurut definisi lain, disaat kamu sudah beribadah kepada Allah kamu juga beribadah kepada selain-Nya. Maka sesuai pengertian kedua orang yang sudah beribadah kepada Allah, ibadahnya bukan jaminan bahwa dia tidak terjatuh melakukan kesyirikan seperti yang banyak didapati di masyarakat. Seperti orang yang shalat tapi juga melakukan pesugihan atau menyembelih untuk jin atau kuburan. Allah Ta’aala berfirman memperingatkan para nabi-Nya dari melakukan kesyirikan:

ولقد أوحي إليك وإلى الذين من قبلك لئن أشركت ليحبطن عملك ولتكونن من الخاسرين بل الله فاعبد وكن من الشاكرين

“Sungguh telah diwahyukan kepadamu dan nabi-nabi sebelum kamu. Kalau kamu melakukan kesyirikan Allah akan gugurkan amalanmu dan kamu akan benar-benar menjadi termasuk orang-orang yang merugi. Tapi kepada Allah sematalah hendaknya Kamu beribadah dan jadilah kamu termasuk orang-orang yang bersyukur.” (Qs. Az-Zumar: 65).

Seorang tabi’in, Ibrahim bin Yazid At-Taimi rahimahullah berkata setelah membawakan doa Nabi Ibrahim Alaihissalam yang terdapat di dalam Al Qur’an (Ibrahim: 35):

واجنبني وبني أن نعبد الأصنام

“…dan jauhkanlah aku dan anak keturunanku dari peribadahan kepada berhala.” Kata At-Taimi: Siapakah yang merasa aman dari bala’ (kesyirikan) kalau Nabi Ibrahim saja tidak merasa aman?!

Keutamaan selamat dari kesyirikan

            Selamat dari kesyirikan adalah keberuntungan terbesar. Karena orang yang selamat dari kesyirikan dan mati sebagai muslim adalah tujuan utama semua yang beriman sebagaimana yang Allah firmankan tentang ucapan orang-orang yang telah beriman kepada Musa Alaihissalam saat menerima ancaman Fir’aun:

ربنا أفرغ علينا صبرا وتوفنا مسلمين

“Wahai Rab kami limpahkanlah kesabaran kepada kami dan wafatkanlah kami sebagai muslim.” (Qs. Al A’raf: 126)

            Lalu apa benar semua muslim masuk surga? Jawabnya benar, semua muslim masuk surga. Tapi masuk surga ada dua: masuk surga bersama-sama dengan gelombang pertama, tanpa hisab tanpa azab dan masuk surga setelah sebelumnya diazab. Tapi baik golongan pertama maupun kedua, mereka adalah orang-orang yang tidak melakukan kesyirikan atau jika pernah melakukannya mereka sempat bertaubat darinya sebelum kematian.

            Keutamaan lain orang yang selamat dari kesyirikan adalah dosa-dosanya memiliki peluang diampuni Allah begitu saja tanpa diazab. Tapi keutamaan ini tidak berlaku kepada semua orang yang menauhidkan Allah melainkan hanya bagi siapa yang Allah kehendaki. Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda pada hadits qudsi, bahwa Allah berkata: “Wahai anak Adam kalau kamu mendatangi-Ku dengan membawa seberat bumi dosa, selagi kamu tidak menyekutukan Aku dengan suatu apa pun, Aku akan datang menemuimu dengan membawa seberat bumi ampunan.” HR Tirmidzi dari Anas bin Malik Radhiyallahu ‘Anhu. Pengampunan atas dosa-dosa selain syirik atas orang yang menjaga tauhidnya pada hadits ini harus dipahami dalam bingkai firman Allah pada surat An-Nisaa’: 48 yang telah disebutkan diatas, yakni hanya bagi siapa yang Allah kehendaki.

            Al Mubarakfuri dalam Mir’atul Mafatih syarah Misykatul Mashabih berkata: Barangsiapa datang ke akhirat membawa tauhid dan dosa seberat bumi sekaligus, Allah akan menemuinya dengan membawa seberat bumi ampunan. Tapi ini tergantung kepada kehendak Allah Azza wa Jalla. Apabila Allah menghendaki Dia akan mengampuni semua dosa-dosanya. Tapi jika tidak Allah akan hukum dia sesuai kadar dosa-dosanya dan dia tidak kekal selamanya di neraka, melainkan dia akan keluar darinya dan masuk ke dalam surga.

Berdakwah kepada tauhid

            Siapa yang mengetahui keutamaan sesuatu mengajak kepadanya. Maka siapa yang memahami tauhid dan keutamaannya serta keutamaan selamat dari kesyirikan dia mengajak orang lain kepadanya. Karena itu menjadi wujud kasih sayang Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam yang terbesar kepada ummatnya adalah mengajak mereka kepada tauhid dan meninggalkan kesyirikan. Allah berfirman;

ولقد بعثنا في كل أمة رسولا أن اعبدوا الله واجتنبوا الطاغوت

“Sungguh Kami telah mengutus pada setiap ummat seorang rasul (yang menyeru): beribadahlah (kalian) kepada Allah dan jauhilah thaghut.” (Qs. An-Nahl: 36). Dan dalam hadits Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam berkata: “Wahai sekalian manusia ucapkanlah Laa ilaaha Illallah kalian akan menang.” HR Ahmad.

            Bahkan berdakwah kepada tauhid adalah pondasi pertama dakwah ke jalan Allah yang Allah perintahkan. Abdurrahman bin Qasim dalam Hasyiyah-nya berkata: Berdakwah ke jalan Allah adalah berdakwah mengajak kepada menauhidkan-Nya, beriman kepada-Nya dan kepada semua ajaran yang dibawa para rasul-Nya. Terkandung di dalamnya berdakwah kepada rukun-rukun Islam dan pokok-pokok keimanan dan ihsan. Memerintahkan kepada apa yang Allah perintahkan dan melarang dari apa yang Allah larang. Tanpa mengajak kepadanya dakwah tidak dikatakan dakwah ke jalan Allah. Dan pondasinya adalah mengajak kepada tauhid yang merupakan arti dari kalimat syahadat. Sebagaimana dahulu para rasul dan orang-orang yang mengikuti mereka. -selesai. Maka siapa yang mengaku paham tauhid dan mengetahui keutamaannya namun acuh tak acuh kepada dakwah atau bahkan meninggalkannya sebenarnya pengakuannya adalah dusta dan dia belum memahami tauhid dan keutamaannya. Wallahua’lam.

By admin

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *