Dimana ada kesyirikan, disitu ada kemaksiatan. Dua macam musibah dan bencana ini seolah selalu setia bersandingan. Di zaman jahiliyah dulu misalnya, kehidupan musyrikin masa itu juga dikenal gemar kepada maksiat disamping agama dan keyakinan mereka yang rusak.

Dalam peribadatan mereka menyekutukan Allah dengan menjadikan makhluk sebagai tandingan bagi Allah.

–          Diantara mereka ada yang menyembah ciptaan-ciptaan-Nya yang shalih seperti malaikat, nabi dan wali.

–          Dan diantara mereka ada yang menyembah ciptaan-ciptaan-Nya dari benda-benda mati. Sebagaimana disebutkan pada kisah yang diceritakan Abu Waqid Al Laitsi Radhiyallahu ‘Anhu, haditsnya terdapat pada Jami At-Tirmidzi dan dishahihkan Asy-Syaikh Albani Rahimahullah.

Abu Waqid mengisahkan bahwa sebagian shahabat yang baru masuk Islam ketika itu meminta kepada Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam untuk dibuatkan tempat ngalap berkah dengan menggantungkan senjata di  pohon yang disebut dzaatu anwath. Mendengar permintaan mereka Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam pun mengingkari permintaan mereka dan menyamakannya dengan apa yang pernah diminta Bani Israil kepada Musa Alaihis Salam. Yaitu ketika mereka minta kepada Nabinya untuk dibuatkan ilah(sesembahan) seperti yang dimiliki orang-orang yang mereka lihat. Kisahnya Allah ceritakan dalam firman-Nya:

Dan Kami seberangkan Bani Israil ke seberang lautan itu, maka setelah mereka sampai kepada suatu kaum yang tengah menyembah berhala mereka, Bani Israil berkata:“Hai Musa, buatlah untuk kami sebuah ilah (berhala) sebagaimana mereka mempunyai beberapa ilah (berhala)”. Musa menjawab:”Sesungguhnya kamu ini adalah kaum yang tidak mengetahui (sifat-sifat Ilah)”. (QS. Al A’raf: 138)

Peribadatan kepada orang-orang shalih

Kemudian selain kepada jamadat (benda-benda mati), musyrikin dahulu juga beribadah kepada orang-orang shalih seperti malaikat, nabi dan wali. Hal ini dengan jelas Allah terangkan dalam firman-Nya;

وَيَوْمَ يَحْشُرُهُمْ جَمِيعًا ثُمَّ يَقُولُ لِلْمَلَائِكَةِ أَهَٰؤُلَاءِ إِيَّاكُمْ كَانُوا يَعْبُدُونَ قَالُوا سُبْحَانَكَ أَنْتَ وَلِيُّنَا مِنْ دُونِهِمْ ۖ بَلْ كَانُوا يَعْبُدُونَ الْجِنَّ ۖ أَكْثَرُهُمْ بِهِمْ مُؤْمِنُونَ

Dan (ingatlah) hari (yang di waktu itu) Allah mengumpulkan mereka semuanya kemudian Allah berfirman kepada malaikat: “Apakah mereka ini dahulu menyembah kamu? Malaikat-malaikat itu menjawab:”Maha Suci Engkau. Engkaulah pelindung kami, bukan mereka; bahkan mereka telah menyembah jin; kebanyakan mereka beriman kepada jin itu”. (QS. 34:41)

Ibnu Katsir menjelaskan: Allah mengabarkan bahwa Ia menghardik orang-orang musyrikin di hadapan semua makhluk. Dia bertanya kepada para malaikat, dimana orang-orang musyrikin menganggap bahwa mereka beribadah kepada tandingan-tandingan (yang dibuat) menyerupai malaikat dengan maksud agar malaikat-malaikat itu mendekatkan diri-diri para penyembahnya kepada Allah dengan sedekat-dekatnya. (Lihat tafsir Ibnu Katsir pada ayat ini)

Dan pada surat Al Maidah ayat 116, dijelaskan bahwa nabi dan orang shalih juga dijadikan objek peribadatan pada masa itu. Allah berfirman;

وَإِذْ قَالَ اللَّهُ يَا عِيسَى ابْنَ مَرْيَمَ أَأَنْتَ قُلْتَ لِلنَّاسِ اتَّخِذُونِي وَأُمِّيَ إِلَٰهَيْنِ مِنْ دُونِ اللَّهِ ۖ 

Dan (ingatlah) ketika Allah berfirman: “Hai ‘Isa putera Maryam, adakah kamu mengatakan kepada manusia: “Jadikanlah aku dan ibuku dua orang ilah (sesembahan lain) selain Allah.” (QS. Al Maidah: 116)

Dalil-dalil ini menjadi pelajaran bagi kita bahwa musyrikin dahulu bukan menjadi musyrik semata-mata karena objek ibadah mereka benda-benda mati, sebagaimana anggapan banyak orang. Mereka musyrik justru disebabkan peribadatan mereka kepada selain Allah, apakah selain Allah itu benda-benda mati atau selain Allah itu berupa ciptaan-ciptaan-Nya yang shalih seperti malaikat, nabi, wali dan orang-orang shalih. Semua peribadatan ini dinilai sama di dalam Islam, sama-sama merupakan kesyirikan dan sama-sama diperangi Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam.

“Semua mereka diperangi Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam dan beliau tidak membeda-bedakan mereka.” 

Al Qawa’id Al Arba’

Ragam cara peribadatan musyrikin

Adapun cara pelaksanaan ibadah mereka adalah seperti yang Allah ceritakan di dalam Al Qur’an.

–          Diantara mereka ada yang minta hajat kebutuhannya kepada makhluk, menyerunya, memanggil-manggil namanya.

–          Dan diantara mereka ada yang sebatas menjadikan selain Allah itu sebagai wasilah/sarana dalam meminta kepada Allah. Dan semua mereka seragam sama-sama memberikan peribadahannya kepada selain Allah. Allah berfirman menjelaskan hakikat peribadatan mereka;

وَالَّذِينَ اتَّخَذُوا مِنْ دُونِهِ أَوْلِيَاءَ مَا نَعْبُدُهُمْ إِلَّا لِيُقَرِّبُونَا إِلَى اللَّهِ زُلْفَىٰ

Dan orang-orang yang mengambil pelindung selain Allah (berkata): “Kami tidak menyembah mereka melainkan supaya mereka mendekatkan kami kepada Allah dengan sedekat-dekatnya“. (QS. 39:3)

Dan pada surat Yunus ayat 18, Allah menerangkan sifat peribadatan mereka kepada tuhan-tuhan mereka:

وَيَعْبُدُونَ مِنْ دُونِ اللَّهِ مَا لَا يَضُرُّهُمْ وَلَا يَنْفَعُهُمْ وَيَقُولُونَ هَٰؤُلَاءِ شُفَعَاؤُنَا عِنْدَ اللَّهِ ۚ قُلْ أَتُنَبِّئُونَ اللَّهَ بِمَا لَا يَعْلَمُ فِي السَّمَاوَاتِ وَلَا فِي الْأَرْضِ ۚ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَىٰ عَمَّا يُشْرِكُونَ

Dan mereka menyembah selain daripada Allah apa yang tidak dapat mendatangkan kemudharatan kepada mereka dan tidak pula kemanfa’atan, dan mereka berkata:”Mereka itu adalah pemberi syafa’at kepada kami di sisi Allah”(QS. Yunus: 18)

Masing-masing dari Az-Zumar ayat ke 3 dan Yunus ayat 18 saling menjelaskan akan sifat dan hakikat peribadatan musyrikin yang Nabi kita Shallallahu ‘Alaihi Wasallam diutus kepada mereka.

Bahwa peribadatan musyrikin kepada orang-orang shalih tersebut tidak lain hanyalah dalam bentuk tasyaffu’ (mengharap syafaat) dan mengambil perantara dalam meminta kepada Allah Ta’aala.

Tapi kendati pun demikian, pada Az-Zumar ayat 3 Allah Ta’aala nilai perbuatan mereka sebagai kedustaan/kaadzib dan sebagai pengingkaran yang besar/ kaffar (kekufuran). Sesungguhnya Allah tidak menunjuki orang-orang yang pendusta dan sangat ingkar”. Adapun pada Yunus ayat 18 Allah menilai perbuatan tersebut sebagai kesyirikan. Maha Suci Allah dan Maha Tinggi dari apa yang mereka mempersekutukan (itu).”

Dari sini jelaslah ucapan para penyembah kubur disetiap zaman, atas ritual-ritual yang biasa mereka lakukan di makam-makam kramat, kuburan-kuburan orang shalih, nabi, wali, kyai, habib serta selain mereka, bahwa: “Kami tidak meminta kecuali kepada Allah”, atau “Kami hanya mencari perantara atau wasilah” atau “Kami hanya tawassulan atau minta syafa’at”. Ucapan seperti ini terhadap ritual-ritual syirik diatas tidak serta merta menjadikan ritual-ritual tersebut terbebas dari penilaiannya sebagai kesyirikan yang besar sebagaimana berlalu penjelasannya pada ayat-ayat diatas.

Dan jika demikian kondisi keadaan orang yang memberikan ibadahnya kepada selain Allah dalam rangka bertawassul atau mencari wasilah/sarana untuk semakin dekat kepada Allah, maka apa yang dilakukan musyrikin disetiap zaman dari peribadatan kepada benda-benda mati seperti gunung, lautan, pohon, air terjun, sungai dan selainnya dari makluk-makhluk ciptaan Allah. Atau seperti keris, benda-benda pusaka, kelambu makam serta benda-benda mati lainnya, semua ini lebih dahsyat dan lebih buruk lagi kekufurannya dibandingkan dengan yang sekedar tasyaffu’ / tawassulan sebagaimana dijelaskan diatas.

Demikianlah gambaran singkat kesyirikan musyrikin pada saat Nabi kita Shallallahu ‘Alaihi Wasallam diutus. Sengaja kami ketengahkan disini agar jelas bagi semua yang menginginkan petunjuk bahwa seperti ajang-ajang petilasan yang tersebar di pelosok nusantara serta kirab-kirab pusaka atau ritual-ritual persembahan kepada tempat-tempat sakral dan kramat bagaimana pun dibungkus sehingga seolah islami dan dipimpin seorang habib, kyai, ustadz atau selain mereka, ia adalah kesyirikan yang sama yang dahulu diperangi Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam atau bahkan lebih buruk lagi!

Kerusakan akidah sumber kerusakan moral

Kemudian kerusakan akidah kepada Allah pada masa itu, berakibat pada kerusakan moral masyarakatnya. Sehingga dikenal ditengah-tengah mereka berbagai bentuk kedzaliman dan kesewenangan yang dianggap lumrah. Segala macam kerusakan yang ada di zaman sekarang, pada zaman jahiliyah dahulu juga ada, bahkan lebih. Pada masa itu memiliki anak perempuan adalah aib, sehingga menguburnya merupakan jalan satu-satunya selamat dari cemoohan. Pada masa itu seorang anak dianggap legal dan sah menikah dengan mantan istri bapaknya sendiri. Dua contoh ini mungkin dizaman sekarang sudah tidak ada.

Artinya kerusakan moral, akhlak, perilaku sehingga terjadi antar dua pihak saling mendzalimi, saling melakukan kesewenangan, saling bunuh, saling rampas, saling menjatuhkan, perzinahan, pelanggaran terhadap hak orang lain dan seterusnya, memiliki benang merah dengan kerusakan akidah, penyelewengan terhadap tauhid. Bahkan keyakinan yang rusak kepada Allah lah sumber penyelewengan yang melahirkan kemaksiatan-kemaksiatan dan kemerosotan moral.

Sehingga beragam kemaksiatan yang didapati ditengah-tengah masyarakat jahiliyah dahulu, dapat dengan mudah didapati contoh dan jiplakannya pada masyarakat sekarang ini. Meski sebagiannya telah mengalami inovasi pada nama maupun bentuknya, tapi esensinya tidak keluar dari kemaksiatan. Khamr adalah khamr meski orang-orang menyebutnya bir atau anggur, zina adalah zina meski orang-orang menyebutnya prostitusi dan pelakunya disebut psk atau pahlawan keluarga dan seterusnya.

Maka masyarakat mana pun yang lemah tauhid dan penghambaannya kepada Allah akan kita dapati kemaksiatan menjadi konsumsi sehari-hari mereka. Dan eskalasinya (kemaksiatan) semakin bertambah kuat ditempat-tempat petilasan dan ajang-ajang pesta kesyirikan. Sebagaimana masyarakat kafir barat, Eropa dan Parsi yang rusak agamanya kepada Allah mengalami kerusakan moral yang akut, seperti itu pula nasib masyarakat yang meniru-niru jejak mereka, pun akan mengalami kerusakan akut pada moral dan interaksi mereka terhadap sesama.

Maka keimanan yang benar dan melahirkan amalan yang benar bersambung dengan baiknya kehidupan di dunia dan akhirat.

مَنْ عَمِلَ صَالِحًا مِنْ ذَكَرٍ أَوْ أُنْثَىٰ وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَلَنُحْيِيَنَّهُ حَيَاةً طَيِّبَةً ۖ وَلَنَجْزِيَنَّهُمْ أَجْرَهُمْ بِأَحْسَنِ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ

Barangsiapa yang mengerjakan amal saleh, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan sesungguhnya akan Kami berikan balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan. (QS. An-Nahl: 97)

Ibnu Katsir menjelaskan: Ini merupakan janji Allah bagi mereka yang mengerjakan amalan shalih, yaitu amalan yang sesuai Kitabullah dan sunnah Nabi-Nya Shallallahu ‘Alaihi Wasallam baik ia laki-laki atau perempuan dari anak keturunan Adam, sedangkan hati mereka beriman kepada Allah dan rasul-Nya. Bahwa Allah akan berikan kepadanya kehidupan yang baik di dunia dan memberikan kepadanya balasan yang lebih baik atas apa yang mereka kerjakan kelak di akhirat. Dan kehidupan yang baik (disini) mencakup beragam ketenangan dari sisi apa pun.

Gunung Kemukus

Di tanah air beberapa tempat yang merupakan pusat kesyirikan kita dapati sekaligus juga merupakan pusat kemaksiatan.

Di Jawa Tengah misalnya, terkenal sebuah tempat yang disebut Gunung Kemukus. Tempat ini sekarang menjadi pusat pesugihan. Di puncaknya terdapat sebuah makam yang dikeramatkan dan dipercayai sebagai kuburan Pangeran Samudro, seorang putra Raja Majapahit terakhir yang dilahirkan dari seorang selir. Konon ia pernah berguru kepada Sunan Kalijaga di Kesultanan Demak hingga akhirnya wafat di sebuah dusun dan dimakamkan di bukit dimana ia pernah beristirahat disana.

Saat ini setiap hari selalu ada peziarah yang datang ke makamnya. Dan setiap hari Kamis malam Jum’at pengunjung yang datang lebih banyak lagi. Puncak kunjungan peziarah adalah pada malam Jum’at Pon dan malam Jum’at Kliwon. Tidak kurang 10.000 peziarah dari berbagai daerah di Jawa dan luar Jawa datang berziarah ke tempat ini.  Dan pada hari pertama di bulan Suro/Muharam diadakan ritual pencucian selambu makam Pangeran Samudro, yang biasa disebut dengan ritual Larab Slambu/Larab Langse, kemudian dilanjutkan dengan pentas wayang kulit semalam suntuk sebagai acara rutin tahunan di objek wisata ini.

Para peziarah datang ke tempat ini dengan beragam tujuan, mereka berdoa dan bertawassul dipusaranya. Bahkan tidak sedikit peziarah yang melakukat ritual dan menjalani berbagai pantangan demi terkabulnya permohonan.

Kesyirikan gamblang dan kekufuran yang tidak samar di tempat ini masih dibumbui acara seks bebas sebagai persyaratan. Seorang peziarah bahkan jika ingin permintaannya terkabul diharuskan berhubungan intim dengan lawan jenis yang sama, yang bukan istri/suaminya sebanyak 7 kali dalam 7 purnama.

Pada awalnya mereka yang melakukan perbuatan bejat ini laki-laki dan perempuan dari sesama peziarah. Tapi belakangan mulai bermunculan penginapan-penginapan yang menyediakan jasa “teman tidur” untuk ritual ini. Diantara PSK ada yang beroperasi terang-terangan dan sebagian lainnya menyusup ke tengah-tengah peziarah. Lihatlah bagaimana syaithan mempermainkan para musyrikin!

Sungguh andaikan disana tidak ada kesyirikan yang jelas seperti peribadatan kepada makhluk, sex bebas yang mereka lakukan sudah cukup menjerumuskan mereka kepada kemurkaan atau bahkan kekufuran jika hal ini mereka anggap sebagai suatu yang sah-sah saja / legal (halal), lantas bagaimana kondisinya jika kenistaan ini dibungkus dengan kesyirikan?!

Dan apabila kita layangkan pandangan lebih luas lagi, Indonesia sebagai negara dengan jumlah muslimin terbesar ternyata begitu akrab dengan kesyirikan. Ajang-ajang kesyirikan dan tempat-tempat petilasan serta peribadatan kepada jin tersebar di kota-kota besar, desa, kabupaten bahkan sampai pelosok-pelosok. Sehingga keberadaan sebuah dakwah kepada tauhid ibarat oase di gurun nan gersang, bagaimana pun badai menerpa selagi keikhlasan yang menjadi landasan, Allah Yang Memiliki dakwah ini, Dia juga yang akan melindungi.

Wabillahit-Taufiq

Buletin Jum’at Tahun 1/ Vol. 1/ Ed. 2

 

Download versi PDF siap cetak disini

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *