Sikap Ahlussunnah Terhadap Ummahatul Mukminin (Istri-istri Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam)

 

Istri-istri Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam adalah mereka yang diperistri oleh Nabi melalui jalan pernikahan. Jumlah mereka ada sebelas; Khadijah, Saudah, ‘Aisyah, Hafshah, Zainab binti Jahsy, Zainab binti Khuzaimah Ummu Salamah, Shafiyyah, Maimunah, Ummu Habibah, dan Juwairiyah. Merekalah yang disebut dengan Ummahatul Mukminin di dalam Al Qur’an;

النبي أولى بالمؤمنين من أنفسهم وأزواجه أمهاتهم

“Nabi itu (hendaknya) lebih utama bagi orang-orang mukmin dari diri mereka sendiri dan isteri-isterinya adalah ibu-ibu mereka.” (QS. Al Ahzab; 6)

Mereka adalah ibu bagi orang-orang yang beriman seperti layaknya ibu kandung bagi mereka. Orang yang beriman menghormati mereka, mengagungkan mereka dan haram menikahi mereka. Allah Ta’aala berfirman;

وما كان لكم أن تؤذوا رسول الله ولا أن تنكحوا أزواجه من بعده أبدا إن ذلكم كان عند الله عظيما

“Dan tidak boleh kamu menyakiti (hati) Rasulullah dan tidak (pula) mengawini isteri-isterinya selama-lamanya sesudah ia wafat. Sesungguhnya perbuatan itu adalah amat besar (dosanya) di sisi Allah.” (QS. Al Ahzab: 53)

Adapun terkait dengan hukum khalwat dengan mereka dan melihat kepada mereka, kedudukan mereka adalah seperti layaknya orang lain (bukan ibu) bagi mereka. Allah Ta’aala berfirman;

وإذا سألتموهم متاعا فاسألوهن من وراء حجاب

“Apabila kamu meminta sesuatu (keperluan) kepada mereka (isteri-isteri Nabi), maka mintalah dari belakang tabir.” (QS. Al Ahzab; 53)

Maka mereka adalah ibu bagi orang-orang yang beriman dalam hal perlakuan dan penghormatan bukan dalam hal mahram.

 

Berkata Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah dalam “Aqidah Washitiyah” (Muhammad Khalil Harras, Syarah Aqidah Washitiyahhal 245, Cet. Maktabah Ibnu Taimiyah, Sa’dah, Yaman);

ويتولون أزواج رسول الله صلى الله عليه وسلم أمهات المؤمنين، ويؤمنون بأنهم أزواجه في الآخرة خصوصا خديجة رضي الله عنها أم أكثر أولاده وأول من آمن به وعاضده على أمره وكان لها منه المنزلة العالية، والصديقة بنت الصديق رضي الله عنها التي قال فيها النبي صلى الله عليه وسلم : فضل عائشة على النساء كفضل الثريد على سائر الطعام

“Dan (Ahlussunnah) mencintai istri-istri Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam, para ummahatul mu’minin (ibunya orang yang beriman) dan mengimani bahwa mereka adalah istri-istrinya di akhirat terlebih lagi Khadijah Radhiyallahu ‘Anha, ibu dari mayoritas anak-anaknya (Nabi) dan orang yang pertama kali beriman kepadanya (Nabi) dan (yang pertama) menguatkan dirinya (Nabi) dalam urusan ini. Sehingga Khadijah memiliki tempat yang tinggi disisi beliau. Dan juga Ash-Shiddiqah (Aisyah) putri dari Ash-Shiddiq (Abu Bakr) Radhiyallahu ‘Anhuma, istri yang Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam sebut pada sabdanya; “Keutamaan ‘Aisyah dari sekalian wanita adalah seperti kedudukan tsarid dibandingkan semua makanan.”

 

Perbandingan antara Khadijah dengan ‘Aisyah Radhiyallahu ‘Anhuma. Siapakah yang lebih utama?

Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin rahimahullah berkata; “Yang tampak dari ucapan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah (diatas) kedudukan kedua istri Nabi ini (Khadijah dan ‘Aisyah) adalah sama dan setara karena beliau berkata; “… terlebih lagi Khadijah Radhiyallahu ‘Anha…dan juga Ash-Shiddiqah (‘Aisyah)…” beliau tidak menggunakan kata tsumma / kemudian (yang menunjukkan perbedaan).

Ada perbedaan pendapat di kalangan ulama dalam perkara ini;

Sebagian mereka berpendapat Khadijah lebih utama, karena ia memiliki keutamaan yang tidak bisa dikejar oleh ‘Aisyah Radhiyallahu ‘Anha.

Sebagian lainnya berpendapat bahkan ‘Aisyah lebih utama berdasarkan hadits “Keutamaan ‘Aisyah dari sekalian wanita adalah seperti kedudukan tsarid dibandingkan semua makanan.” Dan karena dia memiliki keutamaan yang tidak dimiliki Khadijah Radhiyallahu ‘Anha.

Dan sebagian ulama lainnya merinci. Mereka mengatakan; masing-masing mereka memiliki keutamaan yang tidak dimiliki selainnya. Pada masa awal kenabian tidak diragukan bahwa keutamaan yang dimiliki Khadijah tidak bisa disusul oleh ‘Aisyah Radhiyallahu ‘Anhuma bahkan tidak mungkin juga bisa menyamainya. Adapun setelah wafatnya Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam keutamaan menyebarkan ilmu, menebarkan sunnah dan menyampaikan petunjuk kepada ummat adalah milik ‘Aisyah dan tidak dimiliki oleh Khadijah Radhiyallahu ‘Anhuma.

Dari sini (diketahui) tidak boleh menganggap salah satunya lebih utama dari yang lain secara mutlak, bahkan yang benar kita katakan; Khadijah lebih utama dari satu sisi dan ‘Aisyah lebih utama dari sisi yang lain. Dengan ini berarti kita telah menempuh jalan yang paling adil dan tidak mengingkari keutamaan salah seorang dari mereka. [Syarah Al Aqidah Al Washitiyah, jilid 2 halaman 281-282, Cetakan; Daar Ibnul Jauzi]

 

Benarkah Ibnu Taimiyah Merendahkan Istri Nabi?

Merendahkan istri Nabi sama seperti merendahkan Nabi. Karena tentu seseorang dinilai dari siapa yang menjadi pendamping hidupnya. Allah Ta’aala berfirman;

الْخَبِيثَاتُ لِلْخَبِيثِينَ وَالْخَبِيثُونَ لِلْخَبِيثَاتِ ۖ وَالطَّيِّبَاتُ لِلطَّيِّبِينَ وَالطَّيِّبُونَ لِلطَّيِّبَاتِ

“Wanita-wanita yang tidak baik adalah untuk laki-laki yang tidak baik, dan laki-laki yang tidak baik adalah buat wanita-wanita yang tidak baik (pula), dan wanita-wanita yang baik adalah untuk laki-laki yang baik dan laki-laki yang baik adalah untuk wanita-wanita yang baik (pula).” (Qs. Nur: 26)

Ayat ini turun setelah turunnya ayat-ayat yang menerangkan bersihnya ‘Aisyah Radhiyallahu ‘Anha dari tuduhan yang dilemparkan oleh pimpinan munafikin Abdullah bin Ubay bin Salul bahwa ‘Aisyah Radhiyallahu ‘Anha adalah wanita yang bersih dan terhormat.

Abdurrahman bin Zaid bin Aslam berkata;

“Dahulu Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam adalah thayyib (baik), sehingga yang paling pantas mendampinginya wanita yang thayyibah (baik). Dan dahulu ‘Aisyah Radhiyallahu ‘Anha thayyib (baik), sehingga yang paling pantas mendampinginya pria yang thayyib (baik) juga.” [Tafsir Al Qurthubi 12/211]

Maka termasuk menghormati Nabi menjaga kehormatan istri-istrinya tanpa pengecualian. Dan tindakan merendahkan salah seorang dari mereka jelas bertentangan dengan tujuan ini.

Terkait dengan benarkah Ibnu Taimiyah telah merendahkan Khadijah Radhiyallahu ‘anha, sejauh ini saya belum mendapati satu pun sumber yang mengatakan hal ini selain dari kelompok Syi’ah. Apabila pembaca masukkan kata kunci ابن تيمية يطعن خديجة (Ibnu Taimiyah merendahkan Khadijah) ke mesin pencari Google pembaca akan melihat sekian banyak situs-situs Syi’ah mempopulerkan kebohongan ini. Namun apabila diteliti satu persatu ternyata satu-satunya alasan yang mereka jadikan pegangan adalah ucapan Syaikhul Islam dalam kitab Minhaj As-Sunnah An-Nabawiyah.

Konteks ucapan Ibnu Taimiyah rahimahullah dalam Minhaj adalah bantahan kepada seorang Rafidhah (Syi’ah) yang tidak terima ‘Aisyah Radhiyallahu ‘Anha dinilai lebih utama dari Khadijah Radhiyallahu ‘Anha. Rafidhah (Syi’ah) ini berdalil dengan sebuah riwayat dimana suatu hari ‘Aisyah Radhiyallahu ‘Anha berkata kepada Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam;

“Sesungguhnya engkau sering-sering menyebut Khadijah, padahal Allah telah berikan pengganti yang lebih baik darinya.”

Lalu Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam berkata; “Demi Allah aku tidak diberi pengganti yang lebih baik darinya. Dia membenarkanku disaat orang-orang mendustakanku, menampungku disaat orang-orang mengusirku, dia membahagiakan aku dengan hartanya, dan Allah memberiku rezki darinya anak disaat aku tidak diberi anak dari selain dia.”

Dalam penjelasannya Syaikhul Islam menerangkan bahwa Ahlussunnah tidak sepakat (ijma’) ‘Aisyah Radhiyallahu ‘Anha dianggap lebih utama dari istri-istri nabi lainnya, namun ini merupakan pendapat mayoritas dimana minoritas Ahlussunnah berpendapat bahwa Khadijah Radhiyallahu ‘Anha lebih utama. Kemudian setelahnya beliau membawakan sanggahan kelompok ini terhadap pendapat minoritas yang berdalil dengan hadits di atas dalam menetapkan bahwa Khadijah Radhiyallahu ‘Anha yang paling utama. Beliau berkata;

“Kelompok Ahlussunnah yang menilai bahwa ‘Aisyah Radhiyallahu ‘Anha lebih utama berpendapat bahwa ucapan Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam tentang Khadijah “…aku tidak diberi pengganti oleh Allah yang lebih baik darinya.” Jika benar maknanya demikian, bahwa Allah tidak memberi pengganti yang lebih baik untukku dari pada Khadijah, hal ini disebabkan karena Khadijah telah memberi manfaat kepada beliau di awal kemunculan Islam. Dan manfaat ini tidak diberikan oleh selain Khadijah Radhiyallahu ‘Anha sehingga Khadijah lebih baik bagi nabi dari sisi ini dimana ia telah membantunya pada saat-saat bantuan sangat dibutuhkan. Tapi ‘Aisyah Radhiyallahu ‘Anha telah menemani nabi di penghujung kehidupan Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam dan disaat agama telah sempurna, sehingga ia mendapatkan ilmu dan keimanan yang tidak didapatkan oleh yang hidup hanya di awal masa kenabian, karenanya ‘Aisyah Radhiyallahu ‘Anha lebih utama dengan kelebihan ini. Karena ummat telah banyak mengambil manfaat darinya dibandingkan dengan istri-istri nabi lainnya. Dan ‘Aisyah telah mencapai tingkat keilmuan dan pengetahuan tentang sunnah yang tidak dicapai oleh selainnya.

Maka kebaikan Khadijah hanya terbatas kepada diri Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam saja dan ia belum sempat menyampaikan apa pun dari Nabi kepada ummat dan ummat belum sempat mengambil manfaat darinya sebagaimana halnya ‘Aisyah Radhiyallahu ‘Anhuma. Dan di awal Islam agama belum sempurna sehingga ia tidak bisa mengajarkannya dan mendapatkan kesempurnaan iman seperti yang didapat oleh yang mengajarkannya dan beriman dengannya setelah Islam sempurna.” [Mukhtashar Minhaj As-Sunnah An-Nabawiyah, hal 188-189, Cetakan Daar Ash-Shiddiq Shan’a, Yaman]

Maka dengan sekedar membaca uraian ini siapa pun dengan mudah dapat memahami bahwa Ibnu Taimiyah rahimahullah hanya sebatas mengutip pendapat sebagian Ahlussunnah yang melebihkan ‘Aisyah Radhiyallahu ‘Anha dari istri-istri nabi lainnya. Dan sekalipun kutipan tersebut mau dianggap sebagai pendapat Ibnu Taimiyah rahimahullah tidak didapati disana satu kata pun yang bisa dijadikan alasan bahwa Ibnu Taimiyah rahimahullah telah merendahkan Khadijah Radhiyallahu ‘Anha karena konteks pembicaraan tentang perbandingan. Apalagi jika ucapannya disini dipertemukan dengan ucapannya yang lain di tempat yang berbeda seperti yang telah diuraikan diatas dari kitab beliau Aqidah Washitiyah.

Dan jika ada yang bertanya, lalu dimana sisi bantahan Ibnu Taimiyah atas pernyataan Rafidhah (Syi’ah) diatas? Jawabannya; Sisi bantahan beliau ada pada pernyataannya bahwa Ahlussunnah tidak sepakat berpendapat bahwa ‘Aisyah Radhiyallahu ‘Anha lebih utama dibandingkan istri-istri beliau lainnya.

Lalu dimanakah sandaran mereka yang menuduh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah telah merendahkan Khadijah Radhiyallahu ‘Anha?!

 

Kaum Syi’ah merendahkan istri-istri Nabi

Apabila telah jelas bahwa tuduhan kepada Ibnu Taimiyah rahimahullah dalam hal ini hanyalah kedustaan kelompok Syi’ah semata, perlu diketahui bahwa sumber-sumber ilmiyah Syi’ah justru dipenuhi dengan cacimaki dan penistaan kepada istri-istri Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam terutama ‘Aisyah binti Ash-Shiddiq dan Hafshah binti Umar Radhiyallahu ‘Anhum Jami’an, amin.

Dibawah ini adalah beberapa contoh saja dari cacimaki orang Syi’ah terhadap ‘Aisyah Radhiyallahu ‘Anha dan istri-istri nabi lainnya yang tidak mungkin mengutip seluruhnya disini karena terlalu banyak celaan dan makian mereka terlebih kepada istri Nabi yang paling beliau cintai, ‘Aisyah Radhiyallahu ‘Anha.

1- ‘Aisyah Radhiyallahu ‘Anha murtad

“Dahulu ‘Aisyah bersikukuh memerangi Ali dan tidak bertaubat. Ini menunjukkan akan kekufurannya dan pembangkangannya.” [Abu Ja’far At-Thusi, Al Iqtishad fima Yata’allaq bil I’tiqad hal 36]

2- Syi’ah berlepas diri dari ‘Aisyah dan Hafshah Radhiyallahu ‘Anhuma dan menuduh mereka seburuk-buruk ciptaan Allah dimuka bumi

“Sesungguhnya kami berlepas diri dari empat berhala; Abu Bakar, Umar, Utsman dan Mu’awiyah. Dan dari empat wanita ‘Aisyah, Hafshah, Hindun dan Ummul Hakam dan dari semua loyalis dan pengikut mereka dan bahwasanya mereka adalah seburuk-buruknya ciptaan Allah di muka bumi.” [Muhammad Baqir Al Majlisi, Haqqul Yakin hal 519]

3- ‘Aisyah Radhiyallahu ‘Anha di neraka

“’Aisyah wanita kafir dan berhak masuk ke neraka dan ini demi hak kami dan hak imam-imam kami yang dua belas.” [Muhammad Thahir Asy-Syirazi, Kitab Al Arba’in fi ‘Aimmat Al Muthahharin, hal 615]

4- ‘Aisyah dan Hafshah telah membunuh Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam

“Sesungguhnya Al Ayyasyi telah meriwayatkan dengan sanad yang mu’tabar dari Ash-Shadiq bahwa ‘Aisyah dan Hafshah semoga laknat Allah atas keduanya dan kedua orang tua mereka, keduanya telah membunuh Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam dengan racun yang sudah mereka persiapkan.” [Al Majlisi, Hayat Al Qulub 2/700]

5- ‘Aisyah dan Hafshah dan ayah mereka berdua adalah berhala Quraisy

Orang Syi’ah memiliki doa yang mereka berinama dengan “Doa Dua berhala Quraisy”

اللهم صلى على محمد وآل محمد والعن صنمي قريش وطاغوتيهما وإفكيهما وابنتيهما اللتين خالفا أمرك وأنكرا وحيك وجحدا إنعامك وعصيا رسولك وقلبا دينك وحرفا كتابك اللهم العنهما بكل أية حرفوها وفريضة تركوها

“Ya Allah sampaikanlah shalawat kepada Muhammad dan keluarga Muhammad, laknatlah dua berhala Quraisy dan dua thaghut Quraisy dan dua anak perempuan mereka yang telah melanggar perintah-Mu, mengingkari wahyu dan nikmat-Mu dan bermaksiat kepada rasul-Mu dan merubah agama-Mu serta menyelewengkan kitab-Mu. Ya Allah laknatlah mereka berdua atas setiap huruf yang mereka selewengkan, atas setiap kewajiban yang mereka tinggalkan…” [An-Nuri At-Thubrisi, Fashlul Khitab hal 221-222]

6- ‘Aisyah dan shahabat lainnya lebih buruk daripada anjing dan babi. [Khumaini, Kitab Thaharah 3/337]

7- ‘Aisyah Radhiyallahu ‘Anha adalah ibu kejahatan

Al Bayadhi dalam kitabnya Ash-Shirath Al Mustaqim (3/165) membuat sebuah bab tentang ‘Aisyah Radhiyallahu ‘Anha yang ia beri judul: Fashlun fi Ummi Syurur (Pasal tentang Ibu Kejahatan) dimuat didalamnya caci maki yang dialamatkan kepada kekasih Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam.

Semua ini hanya sebagian kecil dari bukti-bukti yang valid dari sumber Syi’ah sendiri yang menunjukkan kebencian mereka yang besar kepada ‘Aisyah Radhiyallahu ‘Anha. Bahkan pada hari Jum’at tanggal 17 Ramadhan 1431 Hijriyah (20 Agustus 2010) seorang Syi’ah dari Kuwait Yasir Habib membuat sebuah perayaan besar di kota London memperingati wafatnya ‘Aisyah Radhiyallahu ‘Anha dengan slogan “Kebahagiaan besar, ‘Aisyah di Neraka”.   

 

Penutup;

Dari uraian diatas tampaklah siapa sebenarnya yang telah melakukan kekejian merendahkan istri-istri Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam. Ada pepatah orang arab yang cocok bagi orang Syi’ah dalam kaitannya dengan masalah ini,

رمتني بدائها وانسلت

Terjemahan bebasnya: “Lempar batu sembunyi tangan” dan bahasa prokemnya; “Maling teriak maling” !

Semoga uraian singkat ini bisa menjadi pencerahan bagi siapa saja yang bicara atas nama agama walau seorang ustad sekali pun untuk lebih berhati-hati dan tidak bahu membahu dengan syaithan dalam menyesatkan anak Adam.

Wallahua’lam bis shawab

 

30-10-2015

Tajurhalang, Bogor

 

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *