Pada surat Az-Zumar ayat 38 Allah Swt berfirman; “Dan jika kamu bertanya kepada mereka: “Siapakah yang menciptakan langit dan bumi?”, niscaya mereka menjawab: “Allah”.
Seperti itulah keyakinan orang-orang musyrik di masa Rasulullah Saw dulu. Meskipun status mereka kafir berdasarkan nas Al Qur’an, mereka masih percaya tuhan. Berbeda dengan orang-orang atheis yang tidak percaya keberadaan tuhan, atau orang-orang agnostik yang memilih untuk tidak mau tahu apakah tuhan itu ada atau tidak.
Sebab Kafirnya Kaum Musyrik Dulu
Kafirnya masyarakat musyrik dahulu adalah akibat pergeseran nilai-nilai tauhid. Berlalunya masa yang panjang dan tidak adanya orang berilmu (ulama) yang menjadi penerang adalah sebab utama yang melatarbelakangi munculnya kesyirikan. Mereka beribadah kepada selain Allah dari orang shalih seperti Latta, atau pohon seperti Uzza, atau batu seperti Manat dengan alasan “ini cuma tawassul!” Kesyirikan mereka yang membungkus peribadahan kepada selain Allah dengan argumen tawassul seperti ini telah Allah Swt kabarkan dalam Al Qur’an pada ayat 18 dari surat Yunus dan ayat 3 dari surat Az-Zumar. Allah Swt berfirman; “Dan mereka beribadah kepada selain Allah dari apa-apa yang tidak bisa mencelakakan mereka dan tidak bermanfaat bagi mereka. Mereka beralasan; Orang-orang itu adalah perantara-perantara kami disisi Allah.”(Qs. Yunus: 18)
“Dan orang-orang yang mengambil pelindung selain Dia (berkata), “Kami tidak menyembah mereka melainkan (berharap) agar mereka mendekatkan kami kepada Allah dengan sedekat-dekatnya.”(Qs. Az-Zumar: 3)
Tapi sekalipun mereka kafir karena peribadahan kepada perantara, mereka masih percaya tuhan (Allah) sebagai satu-satunya pencipta alam semesta, pemiliknya dan yang mengaturnya. Allah Swt mengabarkan keyakinan mereka ini di dalam Al Qur’an; “Dan sesungguhnya jika kamu tanyakan kepada mereka: “Siapakah yang menjadikan langit dan bumi dan menundukkan matahari dan bulan?” Tentu mereka akan menjawab: “Allah”.(Qs. Al Ankabut: 61)
Bahkan pada kesyirikan mereka kepada Allah kata penulis Subulus Salam, Syarah Bulughul Maram Muhammad bin Ismail Ash-Shan’ani (w. 1768) terdapat pengakuan keberadaan tuhan (Allah) sebagai pencipta dan penguasa alam semesta. “Perbuatan mereka menjadikan bagi Allah sekutu, sekaligus merupakan pengakuan mereka terhadap Allah.” (That-hiir Al I’tiqad)
Sebab Kafirnya Kaum Anti Tuhan
Sedangkan munculnya paham atheis dan agnostik secara garis besar adalah akibat dari kesombongan mereka yang menuhankan akal. Penganut kedua paham ini sepakat bahwa keberadaan Allah sebagai pencipta dan penguasa alam semesta (rububiyah) sulit dibuktikan secara empiris dan logis. Bahkan penemuan-penemuan baru dalam bidang ilmu pengetahuan seperti astronomi, biologi dan fisika bagi mereka adalah bukti yang menyanggah teori keberadaan tuhan yang selama ini dipercayai oleh kaum beragama.
Teori evolusi Darwin misalnya, teori ini mereka yakini telah mengguncang argumentasi yang membela keberadaan tuhan (Allah) sebagai pencipta. Begitu pula teori penciptaan alam semesta yang terjadi karena ledakan besar atau “big bang”, menurut mereka hanya proses alami yang tidak membutuhkan intervensi tuhan. “Maha suci Allah yang Maha Tinggi lagi Maha Besar dari apa yang mereka tuduhkan.”
Atheisme Modern adalah Kelanjutan Paham kufur Kaum Dahriyah Dulu
Atheisme dan agnostik bukanlah fenomena baru yang muncul belakangan. Sudah ada sebelum Atheisme modern kaum Dahriyah yang diberitakan oleh Qur’an. Mereka meyakini bahwa kehidupan & kematian tidak lebih hanya siklus alami (seleksi alam) yang berulang dan tidak ada tuhan (Allah). Pada ayat 24 dari surat Al Jatsiyah Allah Swt berfirman; “Dan mereka berkata: “Kehidupan ini tidak lain hanyalah kehidupan di dunia saja, kita mati dan kita hidup dan tidak ada yang akan membinasakan kita selain masa (waktu).” Dengan kata lain, Atheisme dan agnostik yang ramai digandrungi pemuda saat ini tidak lain hanyalah pengulangan kekufuran lama yang dikemas ulang dengan bungkus “sains” dan “logika”.
Percaya tuhan adalah nilai standar (fitrah) setiap insan. Karena manusia sesuai fitrahnya tidak dapat menyangkal keberadaan tuhan (Allah) sebagai pencipta dan penguasa. Fir’aun yang mengatakan “Akulah tuhan kalian yang tertinggi” pada akhirnya tunduk dan mengakui bahwa klaimnya hanya ekspresi kesombongannya. Fir’aun tidak pernah benar-benar menyangkal keberadaan Tuhan Sang Maha Pencipta dan Penguasa alam semesta. Mulutnya benar menyangkal, tapi lubuk hatinya mengakui. Allah Swt menerangkan hal ini pada firman-Nya; “Dan mereka mengingkarinya karena kezaliman dan kesombongan (mereka) padahal hati mereka meyakini (kebenaran)nya.”(Qs. An-Naml: 14)
Maka seperti halnya Fir’aun begitu pula tokoh-tokoh pencetus ajaran ini, teori-teori anti tuhan yang mereka buat tidak benar-benar mereka yakini sebagai kebenaran hakiki selain hanya sekedar ekspresi kesombongan dan rasa takjub mereka kepada diri sendiri (ujub). Karena itu tidak satu pun ulama menilai atheisme dan yang semisalnya sebagai kejeniusan. Sebaliknya mereka justru menganggap atheisme sebagai hukuman akibat tertutupnya fitrah oleh syubhat dan syahwat.
Akal yang Sehat dan Fitrah yang Bersih Mengakui Keberadaan Allah
Sebagaimana ayat dan hadits membuktikan keberadaan Allah dan bahwa Dia satu-satu Nya sesembahan yang hak, akal yang sehat dan nalar yang lurus juga mengakuinya. Adanya makhluk yang banyak dan beraneka ragam, matahari, bulan dan benda-benda langit lainnya yang timbul dan tenggelam, serta manusia, hewan dan tumbuhan yang lahir, tumbuh dan berkembang kemudian layu dan mati mengikuti siklus yang teratur dan berulang adalah bukti keberadaan Allah Swt Sang Maha Pencipta dan Maha Pengatur. Sungguh celaka kaum Atheisme dulu dan sekarang. Allah menitipkan tanda-tanda kebesaran-Nya pada alam semesta & pada diri mereka sendiri sebagai bukti bahwa Allah satu-satunya yang berhak disembah, tapi tanda-tanda kebesaran-Nya itu malah menjadi alasan mereka untuk mengingkari keberadaan-Nya!! Maha Suci Allah yang Maha Memberi Petunjuk dan Menyesatkan.
Pengakuan keberadaan tuhan (Allah) sebagai satu-satunya pencipta, pemilik dan pengatur alam semesta atau yang disebut rububiyah adalah persoalan yang tidak memerlukan teori. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah menerangkan; “Pengakuan terhadap Sang Pencipta lebih jelas daripada pengakuan terhadap apa pun.” (Dar’ Ta’arudh al-‘Aql wa an-Naql). Ia adalah aksioma yang tidak memerlukan pembuktian. Karena itu Al Qur’an menempatkan perkara ini sebagai asumsi dasar dalam seruannya kepada uluhiyah (tauhid), bahwa hanya Allah satu-satunya yang berhak disembah. Islam menolak keyakinan kaum musyrik bukan karena mereka tidak percaya tuhan, tapi karena mereka menyembah banyak tuhan. Sedangkan Islam mengajak menyembah hanya kepada Allah sebagai satu-satunya penguasa rububiyah. Allah Swt berfirman; “Atau siapakah yang telah menciptakan langit dan bumi dan yang menurunkan air untukmu dari langit, lalu Kami tumbuhkan dengan air itu kebun-kebun yang berpemandangan indah, yang kamu sekali-kali tidak mampu menumbuhkan pohon-pohonnya? Apakah ada ilah (sesembahan yang lain) disamping Allah?! Bahkan (sebenarnya) mereka adalah orang-orang yang menyimpang (dari kebenaran).” (Qs. An-Naml: 60)
Maka bandingkanlah antara kaum musyrik dulu dengan kaum anti tuhan Atheisme dan Agnostik, siapakah yang lebih kafir kepada Rabnya?
Wallahul muwaffiq ‘ila Aqwamit-Thariq