Pertanyaan (1):

Karena Anda hidup dalam lingkungan (Syi’ah) Zaidiyah dan mempelajari mazhab (Syi’ah) Zaidi dari mereka, lalu apa alasan Anda pindah kepada manhaj Ahlussunnah wal Jama’ah?

Jawab:

Benar, kami tinggal di lingkungan Zaidiyah (dimana) orang-orang tua kami tidak mengenal selain Zaid bin Ali dan Al Hadi dan Al Hasan dan Al Husain dan Ali bin Abi Thalib. Tapi perlu diketahui bahwa kami tidak bisa menamakan orang-orang awamnya Zaidiyah, kecuali mereka yang mempelajari mazhab Zaidi dan mengambilnya sebagai tuntunan. Adapun orang awam, mereka mengikuti siapa saja yang mereka percayai. Mereka menyangka bahwa orang yang mendakwahi mereka atau mereka ikuti berada di atas Kitabullah dan Sunnah Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam.

Adapun perkara meninggalkan mazhab Zaidi dan pindahnya (saya) kepada sunnah Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam adalah karena taklid itu haram. Rabbul Izzah berfirman dalam kitabnya yang mulia;

وَلَا تَقْفُ مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ ۚ إِنَّ السَّمْعَ وَالْبَصَرَ وَالْفُؤَادَ كُلُّ أُولَٰئِكَ كَانَ عَنْهُ مَسْئُولًا

Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggunganjawabnya. (QS. 17:36)

Dan Allah Subhanahu wa Ta’aala berfirman;

اتبعوا ما أنزل إليكم من ربكم ولا تتبعوا من دونه أولياء قليلا ما تذكرون

Ikutilah apa yang diturunkan kepadamu dari Rabbmu dan janganlah kamu mengikuti pemimpin-pemimpin selainNya. Amat sedikitlah kamu mengambil pelajaran (dari padanya). (QS. 7:3)

Banyak ulama yang pernah mempelajari mazhab Zaidi kemudian keluar darinya. Mereka berlepas diri darinya dan menjauhinya. Diantara mereka; Ulama besar Yaman, Muhammad bin Ibrahim Al Wazir. Asy-Syaukani berkata tentangnya; “Jika kamu bilang penduduk Yaman tidak pernah melahirkan orang seperti dia, ucapanmu tidak jauh dari kebenaran.” Dan setelahnya ada Shalih bin Mahdi Al Maqbali, penulis Al ‘Alam Asy-Syamikh yang pernah mengatakan:

Ilmu itu wahai sahabat, adalah yang diucapkan oleh Pencipta kita

Dan Musthafa, maka buanglah sesukamu dari kitab-kitab

Meskipun Al Maqbali tidak optimal kepada sunnah. Dia berada dipertengahan antara Ahlussunnah dan Syi’ah dan Mu’tazilah. Dia tidak menyisakan seorang pun kecuali diserang olehnya, sampai-sampai Ahlussunnah sekalipun. Bahkan Al Imam Al Bukhari (juga).

Dan sesudah mereka ada Muhammad bin Ismail Al Amir, penulis kitab Subulus Salam dan penulis kitab-kitab berguna yang ada ditangan ummat Islam.

Kemudian sesudahnya ada Muhammad bin Ali Asy-Syaukani, seorang hakim agung Yaman. Ia juga menjauh dari mazhab Zaidi. Ulama seperti mereka berempatlah yang sepatutnya ditanya, kenapa mereka meninggalkan mazhab Zaidi? Mereka meninggalkannya karena mereka mempelajarinya dan mengenali isi ajarannya, kemudian mendapati bahwa mazhab ini jauh dari tuntunan Kitabullah dan Sunnah Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam.

Adapun aku sendiri, aku belajar di Sa’dah setelah aku mempelajari sedikit dari Sunnah dan mencintai sunnah Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam kira-kira selama tiga tahun. Setiap kali bertambah pengetahuanku tentang mazhab Zaidi, semakin bertambah kebencianku kepada mazhab ini. Kenapa? Karena dalam perkara akidah (Zaidiyah) mengambil dari mazhab Mu’tazilah sebagaimana hal ini telah aku jelaskan dalam kaset Mazhab Zaidi Mabni ‘Alal Hayam. Dan dalam perkara hukum dan ibadah, mengambil dari mazhab Hanafi. Dan dalam tasyayyu’ (akidah Syi’ah) mengambil dari mazhab Rafidhah.

Maka sudah sepatutnya bagi seorang muslim untuk berlepas dari bid’ah ini dan macam-macam khurafat seperti ini. Allah Subhanahu wa Ta’aala berfirman berkenaan dengan nabi kita Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam;

وإن تطيعوه تهتدوا

Jika kamu mentaati dia, kamu mendapat petunjuk. (Qs. Annur: 54)

Dan Rabbul Izzah berkata dalam kitab-Nya yang mulia;

وَمَا آتَاكُمُ الرَّسُولُ فَخُذُوهُ وَمَا نَهَاكُمْ عَنْهُ فَانتَهُوا

Apa yang diberikan Rasul kepadamu maka terimalah dia. Dan apa yang dilarangnya bagimu maka tinggalkanlah. (QS. 59:7)

Dan Dia berfirman;

لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِمَنْ كَانَ يَرْجُو اللَّهَ وَالْيَوْمَ الْآخِرَ وَذَكَرَ اللَّهَ كَثِيرًا

Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah. (QS. 33:21)

Maka (fanatisme) mazhab bukan merupakan bagian dari agama Islam. Bahkan Imam Ibnu Abdil Bar berkata: “Ulama telah sepakat (ijma’) bahwa muqallid (pentaklid) tidak terhitung sebagai ahli ilmu.” Maka segala puji bagi Allah yang telah memberi kita taufik kepada sunnah Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam sejak pertama kali menuntut ilmu yang sesungguhnya. Maksud sejak pertama kali menuntut ilmu yang sesungguhnya  karena kami menuntut ilmu di kuttab yaitu tempat dimana seorang pelajar mulai mengenal huruf hijaiyah, menghafal atau membaca Al Qur’an. Disana kami membaca bacaan yang kami tidak bisa merasakan manisnya bacaan dan kami tidak tahu kenapa kami harus membaca. Kemudian setelah itu masa-masa dimana umur saya habis sia-sia dan setelahnya Alhamdulillah kami mendapat taufik mempelajari sunnah Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam dari sejak dini. Segala puji hanya milik Allah yang telah menunjuki kami kepada jalan ini. Sungguh kami tidak akan mendapat petunjuk ini kalau bukan Allah yang menunjuki kami.

Ijabatus Saa’il (hal 639-640)

 

 

Faidah Fikih Dakwah:

Tapi perlu diketahui bahwa kami tidak bisa menamakan orang-orang awamnya Zaidiyah, kecuali mereka yang mempelajari mazhab Zaidi dan mengambilnya sebagai tuntunan. Adapun orang awam, mereka mengikuti siapa saja yang mereka percayai. Mereka menyangka bahwa orang yang mendakwahi mereka atau mereka ikuti berada di atas Kitabullah dan Sunnah Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *