Pertanyaan Fatwa no 998:

Kemudian para shahabat Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam telah minta kepada Nabi agar mereka memiliki sebuah pohon yang disitu mereka menggantungkan senjata-senjata mereka dan mengambil darinya keberkahan dan kemenangan. Tapi Nabi tidak memenuhi permintaan mereka, melainkan mengingkari mereka dengan sangat keras karena mereka terjatuh kepada maksiat kesyirikan. Maka peringatan (terhadapnya) adalah (peringatan) kepada pokok mendasar dari pokok-pokok agama. Dan beliau telah memberi mereka udzur disebabkan karena kejahilan mereka, karena mereka orang yang baru masuk Islam. Dari sini berarti kejahilan merupakan udzur berdasarkan peristiwa ini. Berikut ini nas haditsnya:

Dari Abu Waqid Al Laitsi, ia berkata: Kami pergi bersama Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam ke Hunain. Dan waktu itu kami belum lama masuk Islam. Sedangkan orang-orang musyrikin memiliki pohon sidr sebagai tempat i’tikaf mereka. Disitu mereka menggantungkan senjata-senjata mereka, pohon ini disebut dengan Dzatu Anwath.  Lalu kami pun melewati sebuah pohon sidr, maka kami bilang: Wahai Rasulullah, buatkan untuk kami Dzatu Anwath seperti mereka punya Dzatu Anwath. Lalu Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam berkata: Allahu Akbar! Sesungguhnya ini adalah ajaran, apa yang kalian –demi Dzat yang jiwaku ada di Tangan-Nya- persis seperti yang pernah diucapkan Bani Israil kepada Musa ((Buatkan untuk kami sesembahan seperti mereka punya sesembahan-sesembahan. Maka Musa berkata: Sesungguhnya kamu adalah kaum yang jahil)) [Al A’raf: 138] Sungguh kalian akan mengikuti jejak-jejak orang sebelum kalian. HR Tirmidzi dan dishahihkan oleh Al Albani.

Dan jika ada pada Asy-Syaikh Abu Abdil Mu’iz hafidzahullah penjelasan lain yang benar selain yang disebutkan, mohon dijelaskan kepada kami dan kami sangat bersyukur sekali.

 

Jawab:

Segala puji hanya milik Allah Rab semesta alam. Shalawat dan salam semoga tercurah kepada orang yang Dia utus sebagai rahmat bagi segenap alam. Dan kepada keluarga, shahabat serta kawan-kawannya sampai hari kiamat. Amma ba’du;

Penjelasan yang diminta terhadap peristiwa ini tampak dengan jelas, bahwa para shahabat Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam hanyalah meminta kemiripan dengan musyrikin bukan (minta) kesyirikan. Dimana permintaan mereka kepada beliau dibuatkan Dzatu Anwath mirip dengan permintaan Bani Israil kepada Musa Alaihis Salam yang minta dibuatkan sesembahan selain Allah, bukan minta kesyirikannya. Karena kemiripan disatu sisi bukan berarti mirip pada semua sisi, seperti ketergantungan hati seorang pecandu khamr pada sabda Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam ((Pecandu minuman keras seperti orang yang beribadah kepada berhala)) HR Ibnu Majah dishahihkan oleh Al Albani.

Sisi kemiripan antara keduanya bahwa seorang pecandu hampir sulit meninggalkan khamr seperti seorang penyembah berhala yang sulit meninggalkan peribadatan kepadanya. Sedangkan tidak seorang pun mengatakan bahwa pecandu khamr musyrik disebabkan adanya kemiripan ini.

Dan bisa juga berpedoman kepada atsar Ali Radhiyallahu ‘Anhu ketika ia melewati suatu kaum yang sedang bermain catur. Ali berkata; Berhala apa ini yang kalian i’tikaf dihadapannya?!  Disini Ali menyerupakan mereka dengan orang yang i’tikaf dihadapan berhala-berhala.

Dari sini berarti penyerupaan dari satu sisi bukan berarti serupa pada segala macam sisinya.

Asy-Syaukani Rahimahullah berkata; Ini merupakan ancaman yang keras dan peringatan yang tidak ada lagi diatasnya peringatan. Karena kekufuran orang yang beribadah kepada berhala adalah yang paling jelek. Maka penyerupaan orang yang melakukan maksiat ini dengan orang yang beribadah kepada berhala diantara bentuk peringatan yang paling keras. Nailul Authar (10/129)

Dan seperti ini juga ucapan Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam ((Sesungguhnya kalian akan melihat Rabb kalian dengan jelas seperti kalian melihat bulan di malam purnama)) HR Al Bukhari.

Ibnu Abil Izz berkata; Ini bukan berarti menyerupakan matahari dan bulan dengan Allah, tapi pengelihatan yang serupa dengan pengelihatan, bukan yang dilihat serupa dengan yang dilihat. Syarh Al Aqidah At-Thahawiyah (1/219)

Oleh karena itu diyakini bahwa para shahabat tidak minta syirik besar, melainkan minta agar mereka punya pohon yang disitu mereka menggantungkan senjata dan minta kepada Allah melaluinya keberkahan dan kemenangan, bukan minta kepada pohon, karena perbedaan yang jelas antara minta kemenangan dan kekuatan dan keberkahan dari pohon, ini syirik besar karena terdapat perbuatan memberikan ibadah berupa doa dan minta kepada selain Allah Ta’aala. Dengan minta dari Allah perkara-perkara tersebut disitu atau dengan sebab perantaranya. Yang terakhir ini termasuk kebid’ahan dan syirik kecil. Keadaan orang ini seperti orang yang beribadah kepada Allah semata tidak ada sekutu bagi-Nya disisi kubur. Orang ini muwahhid tidak menyekutukan Allah dengan selain-Nya, hanya saja dia mubtadi’ karena dia memuliakan suatu tempat tanpa alasan syar’i, sehingga ia berpindah dari sunnah kepada bid’ah.

Dan serupa dengan ini, ucapan Ibnu Taimiyah Rahimahullah: ((Ketika orang-orang musyrikin memiliki pohon disitu mereka menggantungkan senjata-senjata mereka, dan pohon itu mereka namakan dengan Dzatu Anwath, lalu berkata sebagian orang: Wahai Rasulullah, buatkan untuk kami Dzatu Anwath seperti mereka punya Dzatu Anwath. Maka berkatalah beliau: Allah Akbar, apa yang telah kalian utarakan seperti ucapan kaum Musa: Buatkan untuk kami sesembahan seperti mereka memiliki sesembahan-sesembahan, sesungguhnya ini jalan hidup-jalan hidup (mereka). Kalian benar-benar akan mengikuti jalan hidup-jalan hidup orang-orang sebelum kalian)). Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam mengingkari sekedar penyerupaan mereka dengan orang-orang kafir dalam mengambil sebuah pohon yang mereka i’tikaf disana dengan menggantungkan disana senjata-senjata mereka. Maka bagaimana dengan perbuatan yang lebih jelek dari ini dari penyerupaan dengan musyrikin, atau perbuatan yang merupakan kesyirikan itu sendiri?!

Barangsiapa pergi ke satu tempat yang dia mengharapkan kebaikan dengan pergi kesana, sedangkan syariat tidak menganggap perbuatan ini mustahab maka ini termasuk kemungkaran-kemungkaran. Dan sebagian perbuatan ini lebih jelek dari sebagian lainnya, apakah tempat tersebut sebuah pohon atau mata air, atau saluran air, atau gunung, atau gua. Dan sama saja apakah dia pergi kesana untuk shalat disana, atau berdoa disana, atau tilawah disana, atau berdzikir mengingat Allah disana, atau mengerjakan ibadah disana, dimana dia mengkhususkan tempat tersebut dengan satu jenis ibadah, yang mana mengkhususkan tempat tersebut dengan ibadah itu tidak pernah disyariatkan, tidak ibadahnya (shalat, tilawah dstnya –pentj), tidak pula jenisnya. Iqtidha’ Shiraatul Mustaqim (2-157-158)

Kesimpulannya bahwa para shahabat Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam tidak minta kesyirikan yang besar, melainkan mereka hanya minta sekedar penyerupaan, dimana mereka bilang: ((Buatkan untuk kami Dzatu Anwath)) karena ini serupa dengan ucapan Bani Israil ((Buatkan untuk kami sesembahan)). Maka mengambil Dzatu Anwath serupa dengan mengambil sesembahan-sesembahan selain Allah dan bukan (berarti) mengambilnya (tapi hanya menyerupai –pentj).

Maka Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam memperingatkan para shahabatnya dan bersikap keras kepada mereka, meskipun mereka baru minta dan belum melakukan. Maka sikap keras sebagaimana berlaku pada syirik besar, berlaku pula pada syirik kecil. Dan yang seperti ini sabda beliau Shallallahu ‘Alaihi Wasallam kepada orang yang mengatakan kepadanya: Ini berkat kehendak Allah dan kamu. Lalu beliau berkata: ((Apa kamu menjadikan aku tandingan bagi Allah?!)) HR Ahmad dan dishahihkan oleh Al Albani. Maka pada peringatan beliau kepada para shahabatnya dari penyerupaan ini terdapat kekhawatiran dari terseret kepada syirik besar, sehingga beliau memutus sebab penyerupaan ini dari pangkalnya dalam rangka membawa mereka kepada sunnah dan akidah yang benar, karena kebid’ahan adalah benih-benih syirik besar.

Asy-Syaukani Rahimahullah berkata: Tidak ada pada maksud mereka beribadah kepada pohon tersebut atau minta darinya seperti yang dilakukan para penyembah kubur dari penghuni kubur. Maka Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam mengabarkan mereka bahwa hal itu setara dengan kesyirikan yang jelas, dan setara dengan minta sesembahan-sesembahan selain Allah. Ad-Durrun Nadhiidh

Wallahua’lam. Wa ‘aakhiru Da’waana Anil Hamdulillahi Rabbil ‘Aalamin.

Shalawat dan salam semoga tercurah kepada Nabi kita Muhammad dan keluarganya serta shahabatnya dan kawan-kawannya sampai hari kiamat.

 

Asy-Syaikh Abu Abdul Mu’iz Muhammad Ali Farkuz

http://ferkous.com/home/?q=fatwa-998

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *