Di antara fenomena yang terus berulang di tengah umat adalah praktik tabarruk (ngalap berkah) dan tawassul di kuburan orang-orang yang dianggap wali, termasuk kuburan Sunan Ampel. Bahkan menjelang haul yang akan digelar pada 7 Februari 2026, kuburan tersebut dihias layaknya pengantin, seolah-olah kuburan adalah pusat keberkahan dan tempat turunnya rahmat.

Fenomena ini patut dikritisi secara ilmiah dan syar‘i, karena menyangkut perkara paling agung dalam Islam yaitu Tauhid.

Berkah (al-barakah) adalah kebaikan yang banyak dan terus bertambah, dan sumber keberkahan hanyalah Allah. Allah berfirman:
“Mahasuci Allah yang di tangan-Nya segala keberkahan.”
(QS. Al-Mulk: 1)

Tidak ada satu pun orang yang di anggap wali, maupun orang shalih yang memiliki keberkahan dzatiyyah (melekat pada dirinya) setelah wafatnya, apalagi kuburannya. Segala bentuk keyakinan bahwa tempat tertentu dapat mendatangkan berkah secara khusus tanpa adanya penjelasan wahyu adalah batil.

Para sahabat adalah generasi yang paling cinta kepada Rasulullah. Namun, tidak pernah satu pun dari mereka yang mengambil berkah dari kuburan Beliau, apalagi dari kuburan selain beliau. Jika tabarruk di kuburan adalah kebaikan, tentu para sahabat adalah orang pertama yang melakukannya.

Tawassul yang disyariatkan adalah:
Bertawassul dengan nama dan sifat Allah
Bertawassul dengan amal shalih
Bertawassul dengan doa orang shalih yang masih hidup.

Adapun tawassul dengan orang yang sudah mati, terlebih dengan mendatangi kuburannya, berdoa di sana, atau meyakini doanya lebih mustajab karena “kedekatan wali dengan Allah”, maka ini tidak pernah diajarkan Nabi, dan merupakan perbuatan syirik.

Nabi shallallahu alaihi wasallam bersabda:
“Janganlah kalian menjadikan kuburanku sebagai tempat perayaan.”
(HR. Abu Dawud)

Menghias Kuburan dan Haul dikuburan adalah Bid‘ah yang Berbahaya. 

Menghias kuburan seperti pengantin, menjadikannya pusat perayaan tahunan, dan mengaitkannya dengan keberkahan adalah bentuk pengagungan kuburan yang berlebihan (ghuluw). Padahal Nabi sangat keras melarang hal ini:
“Ya Allah, jangan Engkau jadikan kuburanku sebagai berhala yang disembah.”
(HR. Ahmad)

Pengagungan kuburan adalah pintu terbesar menuju kesyirikan, sebagaimana yang terjadi pada umat-umat terdahulu. 
Ingatlah bahwa syirik tidak selalu diawali dengan menyembah, tapi sering bermula dari pengkultusan dan penghormatan berlebihan.

Cinta kepada Orang Shalih Bukan dengan Menyimpang dari Tauhid. 

Mencintai para ulama adalah bagian dari iman. Namun cinta sejati bukan dengan mengusap-usap kuburan mereka, atau menggantungkan harapan pada tempat yang di anggap keramat, menganggap lokasi tertentu membawa berkah, dan menghadirkan ritual yang tidak diajarkan syariat. 

Cinta sejati adalah mengikuti akidah dan manhaj mereka, yaitu memurnikan ibadah hanya kepada Allah.

Akhir kata.. 
Tabarruk dan ngalap berkah di kuburan Sunan Ampel bukan persoalan khilafiyah ringan, tetapi menyentuh inti tauhid uluhiyyah. Setiap amalan yang mengaitkan keberkahan dengan kuburan, jasad, atau ruh orang mati adalah penyimpangan dari ajaran Rasulullah dan menyeret pelakunya kepada syirik, baik disadari maupun tidak.

Sudah saatnya umat kembali kepada kemurnian Islam: beribadah kepada Allah tanpa perantara yang tidak disyariatkan, dan mencintai para wali dengan mengikuti sunnah, bukan dengan ritual warisan tradisi.

“Dan sesungguhnya masjid-masjid itu adalah milik Allah, maka janganlah kalian berdoa kepada siapa pun selain Allah.”
(QS. Al-Jinn: 18)

Semoga Allah menjaga kita dari syirik yang tampak maupun yang tersembunyi, dan meneguhkan kita di atas tauhid yang murni.

By admin

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *