Kaum Muslimin dan Muslimat yang berbahagia

Diantara sekian banyak nikmat dan karunia Allah Swt adalah terus berulangnya musim-musim kebaikan. Belum lama berlalu bulan Ramadhan sekarang kita berada pada bulan Dzulhijjah salah satu dari 4 bulan suci di dalam Islam di Hari Raya ‘Iedul Adh-ha.

إِنَّ عِدَّةَ الشُّهُورِ عِنْدَ اللَّهِ اثْنَا عَشَرَ شَهْراً فِي كِتَابِ اللَّهِ يَوْمَ خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ مِنْهَا أَرْبَعَةٌ حُرُمٌ ذَلِكَ الدِّينُ الْقَيِّمُ فَلا تَظْلِمُوا فِيهِنَّ أَنْفُسَكُمْ

“Sesungguhnya bilangan bulan di sisi Allah ialah dua belas bulan dalam ketetapan Allah di waktu Dia menciptakan langit dan bumi, diantaranya empat bulan haram. Itulah (ketetapan) agama yang lurus, maka janganlah kalian menganiaya diri-diri kalian pada bulan yang empat itu” (Qs. At-Taubah: 36)

Alangkah besar anugrah Allah Swt kepada ummat Islam. Dengan berulangnya musim-musim kebaikan, orang-orang yang lalai kembali bertaubat dan orang-orang yang beriman berlomba-lomba dalam melaksanakan kebajikan.

وَهُوَ الَّذِي يَقْبَلُ التَّوبَةَ عَنْ عِبَادِهِ وَيَعْفُو عَنِ السَّيِّئَاتِ وَيَعْلَمُ مَا تَفْعَلُونَ

“Dan Dialah yang menerima taubat dari hamba-hamba-Nya dan memaafkan kesalahan-kesalahan dan mengetahui apa yang kamu kerjakan,”(Qs. Asy-Syura: 25)

فَأَمَّا الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ فَيُوَفِّيهِمْ أُجُورَهُمْ وَيَزِيدُهُمْ مِنْ فَضْلِهِ

“Adapun orang-orang yang beriman dan berbuat amal saleh, maka Allah akan menyempurnakan pahala mereka dan menambah untuk mereka sebagian dari karunia-Nya…”.(QS. 4:173)

Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar Walillahil Hamd

 

Hadirin sekalian…

Pada hari ini seluruh ummat Islam berbahagia atas segenap karunia Allah Swt yang tidak terhingga. Para jamaah haji berbahagia dengan kesempatan menjadi tamu Allah dan rampungnya ibadah mereka. Ummat Islam di setiap penjuru dunia berbahagia dengan datangnya hari yang besar hari Raya ‘Iedul Adh-ha.

Pada hari ini Allah Swt mensyariatkan kepada yang mampu untuk berkorban. Di dalam haditsnya Rasulullah Saw bersabda,

من وجد سعة فلم يُضَحِّ فلا يقربن مصلاّنا

“Barangsiapa mampu (untuk berkurban) dan tidak berkurban maka jangan sekali-kali dia mendekati tempat shalat kami”.

Dan di dalam hadits yang lain Rasulullah Saw menegaskan,

ما عمل ابن آدم يوم النحر عملا هو أعظم عند الله -أو أحب إلى الله- من إراقة الدم

“Tidak ada amalan dari ibnu adam di hari ‘Iedul Adh-ha yang paling dicintai Allah Swt selain mengalirkan darah (binatang sembelihan)”

           

Berkurbanlah sebagai wujud syukur kepada Allah Swt atas segenap karunia-Nya!

لِيَشْهَدُوا مَنَافِعَ لَهُمْ وَيَذْكُرُوا اسْمَ اللَّهِ فِي أَيَّامٍ مَّعْلُومَاتٍ عَلَى مَا رَزَقَهُم مِّن بَهِيمَةِ الْأَنْعَامِ فَكُلُوا مِنْهَا وَأَطْعِمُوا الْبَائِسَ الْفَقِيرَ

“supaya mereka mempersaksikan berbagai manfa’at bagi mereka dan supaya mereka menyebut nama Allah pada hari yang telah ditentukan atas rezeki yang Allah telah berikan kepada mereka berupa binatang ternak. Maka makanlah sebahagian daripadanya dan (sebahagian lagi) berikanlah untuk dimakan orang-orang yang sengsara lagi fakir”.(Qs. Al Hajj: 28)

 

Ummatal Islam…

Tidak diragukan lagi bahwa terorisme pada zaman ini telah menjadi isu besar yang menyibukkan semua orang. Dan negeri-negeri Islam mengalami nasib yang sama dalam hal ini, semuanya mendapat bagian dari serangan aksi teror walau dengan skala yang berbeda. Bahkan aksi tersebut juga menimpa negeri dua tanah suci, Saudi Arabia!!

Sungguh tragis memang, aksi dan serangan brutal yang banyak memakan korban manusia yang tidak berdosa, orang tua kehilangan anaknya, istri kehilangan suaminya, justru diberi lebel jihad dan bom bunuh diri dibela dengan disebut bom syahid dan para pelakunya digelari  syuhada’…fa hasbunallahu wani’mal wakiil.

 

Ketahuilah bahwa jihad di dalam Islam adalah amalan yang paling mulia, bahkan Nabi Saw menyebutnya sebagai “Dzirwatu Sanaamil Islam” puncak tertinggi ajaran Islam atau panjinya Islam. Ayat-ayat serta hadits yang memerintahkan dan menjelaskan keutamaan-keutamaan jihad banyak. Dan cukup menjadi keutamaan bagi jihad, bahwa ia adalah sunnahnya para Nabi dan Rasul sejak sebelum datangnya Nabi Muhammad Saw, bahkan jihad fi sabilillah adalah agama Nabi Ibrahim Alaihissalam yang Nabi kita Saw diperintahkan untuk mengikutinya

 

وَجَاهِدُوا فِي اللَّهِ حَقَّ جِهَادِهِ هُوَ اجْتَبَاكُمْ وَمَا جَعَلَ عَلَيْكُمْ فِي الدِّينِ مِنْ حَرَجٍ مِلَّةَ أَبِيكُمْ إِبْرَاهِيمَ هُوَ سَمَّاكُمُ الْمُسْلِمِينَ مِنْ قَبْلُ

“Dan berjihadlah kamu di jalan Allah dengan jihad yang sebenar-benarnya. Dia telah memilih kamu dan Dia sekali-kali tidak menjadikan untuk kamu dalam agama suatu kesempitan. (Ikutilah) agama orang tuamu Ibrahim. Dia (Allah) telah menamai kamu sekalian orang-orang muslim dari dahulu”. (QS. 22:78).

 

Dan Jihad juga ada pada syari’at Musa Alaihissalam. Musa berkata kepada kaumnya,

 

يَا قَوْمِ ادْخُلُوا الْأَرْضَ الْمُقَدَّسَةَ الَّتِي كَتَبَ اللَّهُ لَكُمْ وَلا تَرْتَدُّوا عَلَى أَدْبَارِكُمْ فَتَنْقَلِبُوا خَاسِرِينَ

 

“Hai kaumku, masuklah ke tanah suci (Palestina) yang telah ditentukan Allah bagimu, dan janganlah kamu lari kebelakang (karena kamu takut kepada musuh), maka kamu menjadi orang-orang yang merugi”.(Qs. Al Maidah: 21)

Demikian pula bani israil sepeninggal Musa Alaihissalam, jihad juga ajaran yang disyariatkan pada mereka, Allah Swt berfirman,

 

أَلَمْ تَرَ إِلَى الْمَلأِ مِنْ بَنِي إِسْرائيلَ مِنْ بَعْدِ مُوسَى إِذْ قَالُوا لِنَبِيٍّ لَهُمُ ابْعَثْ لَنَا مَلِكاً نُقَاتِلْ فِي سَبِيلِ اللَّهِ

           

“Apakah kamu tidak memperhatikan pemuka-pemuka Bani Israil sesudah Nabi Musa ketika mereka berkata kepada seorang nabi mereka, “Angkatlah untuk kami seorang raja supaya kami berperang (di bawah pimpinannya) di jalan Allah.”(Qs. Al Baqarah: 246)

 

Dan Nabi Sulaiman Alaihissalam berkata kepada utusan Bilqis Penguasa Negeri Saba’,

 

ارْجِعْ إِلَيْهِمْ فَلَنَأْتِيَنَّهُمْ بِجُنُودٍ لا قِبَلَ لَهُمْ بِهَا وَلَنُخْرِجَنَّهُمْ مِنْهَا أَذِلَّةً وَهُمْ صَاغِرُونَ

 

“Kembalilah kepada mereka sungguh Kami akan mendatangi mereka dengan balatentara yang mereka tidak kuasa melawannya, dan pasti kami akan mengusir mereka dari negeri itu (Saba) dengan terhina dan mereka menjadi (tawanan-tawanan) yang hina dina”.(Qs. An-Naml: 37)

 

Dalil-dalil ini merupakan petunjuk bahwa jihad adalah syari’at yang sudah ada pada ummat-ummat terdahulu.

Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar Walillahil Hamd!

 

Ummat Islam…

Lantas apa hikmahnya disyariatkan jihad? Allah Swt syariatkan jihad karena Dialah Yang menciptakan setiap makhuluk untuk beribadah kepada-Nya, dan Dia pula yang menanggung rizki setiap mereka, Allah berfirman,

 

وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْأِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ

“Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah-Ku”. (Qs. Adz-Dzariyaat: 56)

 

Dan tatkala ada dari sebagian hamba-hamba-Nya yang menolak untuk tunduk kepada-Nya dan sombong dari beribadah kepada-Nya, Allah Swt menghukum mereka.

 

Pada ummat-ummat terdahulu, apabila suatu kaum tidak mau tunduk kepada Nabi-nya, Allah hukum mereka dengan adzab yang membinasakan, seperti yang menimpa kaum Nuh, ‘Ad dan Tsamud dan kaum-kaum setelah mereka. Dan tidak ada yang selamat dari mereka kecuali orang-orang yang beriman dengan Nabinya.

 

Kemudian setelah itu Allah mensyariatkan jihad sebagai ganti dari adzab yang ditimpakan secara merata. Allah syariatkan jihad sebagai hukuman bagi orang-orang kafir yang menolak untuk beribadah kepada Allah. Sehingga jadilah jihad fi sabilillah diantara sunnah para Nabi sampai datangnya Nabi kita Muhammad Saw, sebagai rahmat bagi seluruh alam. Yang diantara rahmat dan tuntunannya adalah berjihad di jalan Allah dengan sebenar-benarnya jihad dalam rangka menegakkan kalimatullah, menghilangkan kesyirikan, kekufuran, dan memurnikan agama itu sebagai miliki Allah semata.

 

وقاتلوهم حتى لا تكون فتنة ويكون الدين كله لله

“Dan perangilah mereka seluruhnya sampai tidak ada lagi kesyirikan dan ibadah seluruhnya hanya menjadi milik Allah semata.”

 

Dan Rasulullah Saw bersabda;

بُعِثْتُ بِالسَّيْفِ حَتىَّ يُعْبَدَ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ

 

“Aku diutus dengan pedang sampai Allah I satu-satunya yang diibadahi, tidak ada sekutu bagi-Nya”HR Muslim dari Jabir Radhyallahu ‘anhu.

Inilah hikmah disyariatkannya jihad, yaitu agar manusia beribadah kepada Allah semata. Bukan untuk memperluas kekuasaan atau mencari rampasan perang, atau membunuhi manusia. Oleh karena itu, tatkala mereka bertaubat dan menerima Islam sebagai ajarannya mereka tidak lagi diperangi,

 

فَإِنْ تَابُوا وَأَقَامُوا الصَّلاةَ وَآتَوُا الزَّكَاةَ فَخَلُّوا سَبِيلَهُمْ إِنَّ اللَّهَ غَفُورٌ رَحِيمٌ

“Jika mereka bertaubat dan mendirikan shalat dan menunaikan zakat, maka biarkan mereka pergi. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”.(Qs. At-Taubah: 5)

 

Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar Walillahil Hamd!

 

Ummatal Islam…

Penting diketahui bersama bahwa jihad melawan musuh dari dalam, jihad melawan hawa nafsu, melawan kebodohan terhadap agama dengan cara menuntut ilmu dan mengamalkannya di dalam Islam, lebih didahulukan dan utama daripada jihad melawan musuh dari luar. Karena barangsiapa tidak berjihad melawan dirinya terlebih dahulu untuk mengerjakan yang diperintahkan kepadanya dan meninggalkan hal-hal yang dilarang darinya, dan berjihad memerangi hawa nafsunya fi sabilillah, dia tidak akan mampu memerangi musuh yang berada di luar. Bagaimana ia dapat meraih kemenangan dari musuhnya sedangkan musuhnya yang ada di dalam dirinya telah mengalahkan dia dan berhasil menguasainya?!

 

Demikianlah jihad dengan ilmu, memerangi hawa nafsu dan kebodohan serta pembangkangan kita terhadap aturan-aturan Allah  lebih didahulukan dari yang lainnya. Dan dengan inilah ummat ini kembali meraih kejayaannya,

 

وَعَدَ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنْكُمْ وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ لَيَسْتَخْلِفَنَّهُمْ فِي الْأَرْضِ كَمَا اسْتَخْلَفَ الَّذِينَ مِنْ قَبْلِهِمْ وَلَيُمَكِّنَنَّ لَهُمْ دِينَهُمُ الَّذِي ارْتَضَى لَهُمْ وَلَيُبَدِّلَنَّهُمْ مِنْ بَعْدِ خَوْفِهِمْ أَمْناً يَعْبُدُونَنِي لا يُشْرِكُونَ بِي شَيْئاً وَمَنْ كَفَرَ بَعْدَ ذَلِكَ فَأُولَئِكَ هُمُ الْفَاسِقُونَ

 

Dan Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman diantara kamu dan mengerjakan amal-amal yang saleh bahwa Dia sungguh-sungguh akan menjadikan mereka berkuasa di bumi, sebagaimana Dia akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah diridhai-Nya untuk mereka, dan Dia benar-benar akan merobah (keadaan) mereka, sesudah mereka berada dalam ketakutan menjadi aman sentausa. Mereka tetap menyembah-Ku dengan tiada mempersekutukan sesuatu apapun dengan Aku. Dan barangsiapa yang (tetap) kafir sesudah (janji) itu, maka mereka itulah orang yang fasik”. (Qs. An-Nur: 55)

Maka jalan mendasar untuk mengembalikan kejayaan ummat pada masa sekarang ini adalah dengan tafaqquh fid diin (belajar agama). Karena hanya dengannya lah seseorang dapat menjalankan apa yang Allah perintahkan kepadanya dan meninggalkan apa yang Allah larang.

 

أَلَمْ تَرَ إِلَى الَّذِينَ قِيلَ لَهُمْ كُفُّوا أَيْدِيَكُمْ وَأَقِيمُوا الصَّلَاةَ وَآتُوا الزَّكَاةَ

Tidakkah kamu perhatikan orang-orang yang dikatakan kepada mereka:“Tahanlah tanganmu (dari berperang), dirikanlah salat dan tunaikanlah zakat!” An-Nisaa: 77

فَلَا تُطِعِ الْكَافِرِينَ وَجَاهِدْهُم بِهِ جِهَادًا كَبِيرًا

“Maka janganlah kamu mengikuti orang-orang kafir, dan berjihadlah terhadap mereka dengan al-Qur’an dengan jihad yang besar.”  Al Furqan: 52

 

Adapun melancarkan perlawanan kepada musuh dalam kondisi ummat yang sakit seperti ini, lemah, terjebak dalam kemerosotan iman, akhlak dan mental adalah kekonyolan, berapa banyak aksi-aksi teror yang hanya menghasilkan semakin kuatnya negara-negara kafir mendikte dan memaksakan kehendaknya kepada ummat Islam. Dan begitu pula perbuatan mengadakan perlawanan kepada pemerintah yang sah dengan menudingnya dzalim. Bukankah lahirnya pemerintah yang dzalim adalah dari rakyatnya yang gemar melakukan kedzaliman?!

 

Kemudian apa hikmahnya melancarkan permusuhan kepada pemerintahan muslimin, sedangkan mengusir negara yahudi dari tanah Palestina saja ummat ini tidak mampu?!

 

Dan sungguh musuh tidak akan masuk rumah, kecuali kalau bangunannya yang memang rapuh. Yakni ummat ini tidak akan kalah dikarenakan kekuatan musuh-musuh mereka, tapi kekalahan mereka disebabkan keimanan mereka yang lemah. Tapi apabila keimanan mereka kokoh, meskipun ditangan-tangan mereka tidak terpenuhi perangkat dan peralatan-peralatan untuk meraih kemenangan, cukuplah bagi mereka Allah Swt sebagai Pelindung satu-satunya.

 

فَاصْدَعْ بِمَا تُؤْمَرُ وَأَعْرِضْ عَنِ الْمُشْرِكِينَ إِنَّا كَفَيْنَاكَ الْمُسْتَهْزِئينَ الَّذِينَ يَجْعَلُونَ مَعَ اللَّهِ إِلَهاً آخَرَ فَسَوْفَ يَعْلَمُونَ

“Maka sampaikanlah olehmu segala apa yang diperintahkan (kepadamu) dan berpalinglah dari orang-orang yang musyrik. Sesungguhnya Kami memelihara kamu dari (kejahatan) orang-orang yang memperolok-olokan (kamu) yaitu orang-orang yang menganggap adanya sesembahan lain di samping Allah, maka mereka kelak akan mengetahui (akibat-akibatnya)”(Qs. Al Hijr: 94-96)

 

Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar Walillahil Hamd!

 

Sudah menjadi prinsip ajaran ini, taat kepada pemerintah dan menganggap haram membangkang kepada mereka dalam perkara yang ma’ruf. Dan telah banyak nukilan dari para Imam Ahlussunnah yang menegaskan hal ini. Diantaranya yang datang dari Imam mereka, Nabi Muhammad Saw dalam hadits yang shahih, beliau bersabda,

مَنْ كَرِهَ مِنْ أَمِيْرِهِ شَيْئاً فَلْيَصْبِرْ، فَإِنَّهُ مَنْ خَرَجَ مِنَ السُلْطَانِ شِبْراً، مَاتَ مِيْتَةً جَاهِلِيَّةً

 

“Barangsiapa yang tidak suka dari pemerintahnya satu kebijakan, hendaklah ia bersabar, karena barangsiapa membangkang kepada pemerintahnya sedikit saja, mati dalam keadaan jahiliyah”. Muttafaqun ‘Alaihi dari Ibnu Abbas Radhyallahu ‘anhuma.

Suatu hari Salamah bin Yazid Al Ju’fi bertanya kepada Rasulullah Saw, “Wahai Nabiyallah, bagaimana kiranya apabila ada pemimpin yang memerintah kami, menuntut hak-haknya dan menahan hak-hak kami, apa perintahmu kepada kami? Beliau menjawab,

 

اسْمَعُوْا وَأَطِيْعُوْا، فَإِنَّمَا عَلَيْهِمْ مَاحُمِّلُوْا، وَعَلَيْكُمْ مَاحُمِّلْتُمْ

 

“Dengar dan taatilah mereka, karena mereka bertanggung jawab atas kewajiban-kewajiban  mereka dan kalian bertanggung jawab atas kewajiban-kewajiban kalian”.  HR Muslim dari Wa’il bin Hujr Radhyallahu ‘anhu.

Bahkan menurut Islam membangkang kepada pemerintah adalah termasuk adat dan kebiasaan kaum jahiliyah yang sengaja diselisihi oleh Islam.

 

Disebutkan oleh Al Imam Mujaddid Dakwah Salafiyah Muhammad bin Abdul Wahhab Rahimahullah dalam kitabnya Masa’il Al Jahiliyah pada poin ketiga;

إنَّ مُخَالَفَةَ وَلِيِّ الأَمْرِ وَعَدَمَ الانْقِيَادِ لَهُ فَضِيْلَةٌ، وَالسَّمْعَ وَالطَّاعَةَ لَهُ ذُلَّةٌ وَمُهَانَةٌ، فَخَالَفَهُمْ رَسُوْلُ اللهِ، وَأَمَرَ بِالسَّمْعِ وَالطَّاعَةِ لَهُمْ وَالنَّصِيْحَة، وَغَلَّظَ فِيْ ذَالِكَ وَأَبْدَى وَأَعَاد

 

“(Orang-orang jahiliyah menganggap), membangkang kepada pemimpin dan tidak tunduk kepadanya adalah kemuliaan sedangkan mendengar dan taat kepadanya adalah kerendahan dan kehinaan. Maka Rasulullah Saw datang menyelisihi ajaran mereka, beliau memerintahkan mereka untuk mendengar dan taat kepada pemimpin dan menyampaikan nasihat, beliau tegas dalam hal ini, menampakkan dan terus mengulang-ngulang prinsip ini”

Dan pada risalahnya kepada ahli Qashim beliau berkata, “Saya meyakini wajibnya mendengar dan taat kepada pemerintah kaum muslimin, apakah pemerintah tersebut pemerintahan yang baik ataupun jahat, selagi mereka tidak memerintahkan kepada maksiat…” Ad-Durarus Sanniyah (1/33)

Asy-Syaikh Sa’d bin Hamad bin ‘Atiq Rahimahullah juga berkata, “…dan diantara ajaran orang-orang jahil adalah menggampang-gampangkan perbuatan menyelisihi pemerintahnya dan membangkang dari ketaatan kepadanya serta mengusiknya dengan memerangi dan cara-cara yang lainnya. Ini semua merupakan kebodohan dan perbuatan merusak di muka bumi yang diketahui oleh setiap yang memiliki akal dan keimanan.

 

Dan telah darurat diketahui dari ajaran Islam bahwa tidak ada agama kecuali dengan jamaah dan tidak ada jamaah kecuali dengan pemimpin dan tidak ada pemimpin kecuali dengan mendengar dan taat. Dan membangkang dari ketaatan kepada pemerintah muslim diantara sebab terbesar munculnya kerusakan negeri dan rakyat, dan merupakan penyimpangan dari jalan yang lurus dan keberpalingan dari petunjuk”. Durarus Sanniyah(7/282)

 

Asy-Syaikh Muhammad bin Abdullathif Rahimahullah berkata, “Juga diantara hal-hal yang disusupkan syaithan kepada orang-orang yang taat adalah, berburuk sangka kepada pemerintah dan tidak mau taat kepadanya. Sesungguhnya ini adalah diantara bentuk kemaksiatan terbesar dan ajaran jahiliyah yang mana mereka tidak menganggap perbuatan mendengar dan taat kepada pemerintahnya sebagai sikap beragama (yang benar)”.

Diriwayatkan dari Anas bin Malik Radhyallahu ‘anhu, ia berkata,

 

نَهَانَا كُبَرَاؤُنَا مِنْ أَصْحَابِ رَسُوْلِ اللهِ أَلاَّ تَسُبُّوا أُمَرَاءَكُمْ، وَلاَ تَغُشُّوْهُمْ، وَلاَ تَعْصُوْهُمْ، وَاصْبِرُوا، وَاتَّقُوا اللهَ فَإِنَّ الأَمْرَ قَرِيْبٌ

“Para pembesar shahabat Rasulullah Saw telah melarang kami dari mencela pemerintah kami dan jangan kalian menipu dan bermaksiat kepada mereka, bersabar dan bertakwalah kalian kepada Allah, karena hari perhitungan itu dekat”

 

اللهم صل على محمد وعلى آل محمد كما صليت على إبراهيم وعلى آل إبراهيم إنك حميد مجيد

وبارك على محمد وعلى آل محمد كما باركت على إبراهيم وعلى آل إبراهيم إنك حميد مجيد

Ya Allah Yang Menciptakan dan Mengatur hamba-Nya.

Kami patuh dan tunduk kepada ketetapan dan aturan-Mu.

 

Tunjukilah kami dan pemimpin kami kepada kebaikan. Perbaikilah jajaran pemerintahannya. Bimbinglah mereka kepada apa-apa yang memperbaiki keadaan kaum muslimin.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *