Dahulu aku punya seorang sopir pribadi yang tinggal bersamaku selama 16 tahun, dimana kebanyakan sopir yang ada hanya mampu bertahan 2 tahun saja.

Sering aku memintanya untuk pulang ke keluarganya mengunjungi anak istrinya, tapi dia selalu menolak. Hingga berlalulah masa 16 tahun dia menemani saya, kemudian jatuh sakit.

Saya bilang kepadanya, kamu sakit. Pulanglah ke keluargamu dan bulanan kamu tetap aku berikan. Setiap kali aku buka pembicaraan ini dengannya dia menangis dan berkata: “Aku tidak mau keluar dari Madinah”.

Lalu sampailah akhirnya dia sepakat pulang ke negerinya. Dan aku uruskan untuknya visa keluar, pasport dan tiket pesawat.

Hingga pada hari H dan ketika itu 3 jam sebelum take off, aku sengaja mendatanginya di kamarnya untuk melihat persiapannya. Aku terperanjat, aku dapati ternyata Allah telah lebih dulu memanggilnya, dia wafat padahal ketika itu tidak tersisa dari perjalanannya kecuali hanya 3 jam saja.

Kejujurannya, “Aku tidak mau keluar dari Madinah” benar-benar Allah penuhi, sehingga dia pun Allah wafatkan di Madinah. Lalu aku pun menguburnya dengan tanganku sendiri di pekuburan Baqi’.

Dikisahkan oleh Prof. Dr. Asy-Syaikh Anis Thahir hafidzahullah tadi pagi di Gren Alia Prapatan.

27/7/2015

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *