Siapakah yang disebut majzub? Benarkah mereka memiliki keutamaan yang melebihi manusia pada umumnya? Dan benarkah kelebihan mereka tersebut merupakan karamah?

Saat menjelaskan sebab-sebab yang menjerumuskan ke dalam kesyirikan Al Imam Ash-Shan’ani rahimahullah menyebutkan bahwa diantaranya adalah tertipu dalam menilai kaum majzub ini. Beliau berkata;

Apabila kamu katakan; telah didapati pada orang-orang hidup atau mati sekelompok orang yang berhubungan dengan mereka yang melakukan perbuatan-perbuatan khawariq (diluar nalar), mereka ini dikenal dengan para majzub. Apa hukum perbuatan yang mereka kerjakan itu, karena itu diantara perkara yang hati-hati terpatri untuk meyakininya?

              Saya katakan; adapun orang-orang yang dinamakan dengan kaum majzub yang mulutnya komat-kamit mengucapkan lafdzul jalalah, mengucapkannya dengan lisan-lisan mereka tapi mengeluarkannya dari huruf arab yang asli, mereka diantara balatentara Iblis yang tercela, dan diantara keledai alam yang paling besar, yang mana syaithan telah berhasil menipu dan memperdayanya. Karena sesungguhnya melafalkan lafdzul jalalah tersendiri tanpa diikuti khabar (keterangan) yakni mengatakan; Allah, Allah… ini tidak disebut kalam apalagi tauhid, tapi ini bentuk mempermainkan lafal yang agung yakni dengan mengeluarkannya dari pelafalan bahasa Arab yang asli. Kemudian disamping itu menjadikannya kosong dari makna apa pun. Seandainya ada seorang yang agung, shalih bernama zaid, kemudian sekelompok orang mengucapkan; zaid, zaid… tentu ucapan ini akan dianggap sebagai penghinaan dan pelecehan, apalagi jika ditambah dengan penyelewengan lafal.

              Kemudian perhatikanlah, apakah ada satu lafal dari Al Kitab dan As-Sunnah yang menyebutkan lafdzul jalalah sendirian dan berulang-ulang? Atau justru yang ada di dalam Al Kitab dan As-Sunnah adalah permintaan dzikir dan tauhid, tasbih dan tahlil. Lihatlah kepada dzikir-dzikir Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam dan doa-doa ahlul bait dan para shahabat beliau semuanya bersih dari nafas yang tersenggal-senggal seperti hewan yang tercekik. Yang mana hal seperti ini didapati pada orang-orang yang berada jauh dari Allah dan petunjuk Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam serta adab dan tuntunannya.

              Kemudian disamping itu mereka terkadang menambah pada lafal jalalah yang mulia nama-nama sekelompok orang mati, seperti: Ibnu Alwan, Ahmad bin Al Husain, Abdul Qadir (Jailani) dan Al Aydarus. Bahkan keadaannya sampai mereka berlindung kepada penghuni kuburan dari orang-orang zalim dan pembangkang (agama) seperti: Ali Ruman dan Ali Al Ahmar serta selain mereka berdua. Sungguh Allah telah melindungi rasulnya dan ahli kisa’  serta para shahabat dari diikut sertakan ke dalam ucapan-ucapan orang-orang jahil dan sesat tersebut, sehingga mereka menghimpun beragam jenis kejahilan dan kesyirikan serta kekufuran.

              Apabila kamu katakan: sesungguhnya telah didapati dari orang-orang yang mulutnya komat-kamit mengucapkan lafzul jalalah dan menambahkan padanya perbuatan orang-orang pembangkang, khawariq adat (kemampuan di luar nalar) dan hal-hal yang dikira karamah. Seperti menusuk diri mereka sendiri dengan benda tajam, dan kehebatan menundukkan ular dan kalajengking, memakan api dan menyentuhnya dengan tangan, dan dengan badannya mereka melemparkan diri-diri mereka kepada api.

              Saya katakan: Ini semua adalah perbuatan setan. Sesungguhnya kamu tertipu saat mengira hal itu sebagai karamah orang mati, atau kebaikan orang yang hidup. Yakni saat orang sesat ini memanggil-manggil namanya dan menjadikan mereka sebagai tandingan dan sekutu bagi Allah Ta’aala dalam penciptaan dan pengaturan.

              Orang-orang mati itu, anggap bahwa mereka adalah wali-wali Allah Ta’aala, apakah seorang waliyullah ridha dijadikan oleh kaum majzub atau salik sebagai sekutu dan tandingan Allah Ta’aala? Apabila menurutmu iya (mereka ridha) sungguh kamu telah mendatangkan hal yang munkar! Dan kamu telah jadikan orang-orang mati itu musyrik dan kamu telah mengeluarkan mereka -sungguh jauh yang demikian ini dari mereka- dari lingkup keislaman dan agama, dimana kamu telah menjadikan mereka sebagai tandingan-tandingan Allah yang ridha dan bergembira (dengan kesyirikan). Dan kamu juga telah menetapkan karamah bagi kaum majzub yang sesat dan musyrik, orang-orang yang mengikuti semua kebatilan, tenggelam di lautan kehinaan. Yakni orang-orang yang tidak pernah sujud kepada Allah meski sekali dan tidak berdzikir mengagungkan Allah semata. Maka jika begini anggapanmu, berarti kamu telah menetapkan karamah kepada orang-orang musyrik kafir dan orang-orang gila. Dengan itu berarti kamu telah menghancurkan kaidah-kaidah Islam dan pilar-pilar agama yang terang serta syariat yang kuat.

              Apabila kamu telah mengetahui batilnya dua perkara ini, tahulah kamu bahwa kesaktian setan ini dan perbuatan para thaghut serta iblis dilakukan oleh setan-setan untuk saudara mereka dari orang-orang sesat. Sebagai bentuk kerjasama timbal balik dalam menyesatkan manusia.

              Dan telah benar riwayatnya dalam hadits-hadits bahwa setan-setan dan jin-jin bisa berubah-ubah bentuk menjadi ular. Yang demikian ini adalah perkara yang tidak diperdebatkan kebenarannya. Ular-ular yang disaksikan manusia berada di tangan kaum majzub itu adalah kawanan jin. Atau bisa jadi hal ini termasuk sihir dan sihir ada banyak macamnya. Dan mempelajarinya tidak mudah. Bahkah gerbangnya yang terbesar adalah kufur kepada Allah dan menghinakan apa-apa yang Allah agungkan, seperti meletakkan mushaf di jamban dan yang semisalnya. Maka jangan sampai orang yang menyaksikan kejadian yang mengherankan pandangannya dari kesaktian kaum majzub dari hal-hal diluar nalar menjadi tertipu. Karena sesungguhnya sihir memiliki pengaruh besar pada kejadian-kejadian.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *