Bersamaan dengan berhembusnya isu perebutan kekuasaan antara kelompok Islam dan kafir belakangan ini, muncul pula anggapan ditengah-tengah pemuda bahwa tidak perlu membantah Ahlulbid’ah dan orang-orang yang jelas-jelas menampakkan penyimpangan terhadap ajaran Islam dengan alasan menjaga persatuan. Mereka mengatakan;

“Sesungguhnya ummat Islam dewasa ini berada dalam kondisi lemah dan musuh-musuh mencengkram mereka. Maka apa gunanya memecah barisan mereka dengan cara membantah kelompok-kelompok Islam, apakah yang menyelisihi dalam bab akidah dan manhaj atau keduanya.”

Pertanyaannya, benarkah anggapan seperti ini? Perhatikanlah penjelasan berikut.

 

Anggapan membantah Ahlulbid’ah dan menjelaskan kesesatan mereka hanya melemahkan barisan dan persatuan muslimin adalah anggapan para hizbiyyin yang berorientasi kepada pengumpulan massa dan kekuasaan. Anggapan ini batil dari beberapa sisi. Berikut sanggahannya:

Sanggahan:

1- Lemahnya muslimin dan berkuasanya musuh kepada mereka sebabnya adalah dosa-dosa muslimin sendiri. Hal ini seperti yang Allah Ta’aala nyatakan:

Dan mengapa ketika kamu ditimpa musibah (pada peperangan Uhud), padahal kamu telah menimpakan kekalahan dua kali lipat kepada musuh-musuhmu (pada peperangan Badar), kamu berkata: “Darimana datangnya (kekalahan) ini?” Katakanlah: “Itu dari (kesalahan) dirimu sendiri”. Sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.
(QS: Ali Imran Ayat: 165)

Ibnu Jarir mengatakan: Yakni apa yang menimpa kalian dari bencana ini adalah disebabkan diri-diri kalian sendiri yang menyelisihi perintahku, meninggalkan ketaatan kepadaku. Musibah ini bukan disebabkan orang lain dan bukan disebabkan siapa pun selain kalian sendiri.

Beliau menukil pendapat serupa dari beberapa salaf seperti Ikrimah, Hasan, Ibnu Juraij dan Suddi.

Abu Darda’ Radhiyallahu ‘Anhu juga mengatakan; “Kalian diperangi karena disebabkan amal perbuatan kalian (sendiri).”

Ibnu Taimiyah Rahimahullah mengatakan: ((Dan berkuasanya orang-orang kafir (terhadap muslimin) adalah karena dosa-dosa muslimin sendiri yang berakibat merosotnya keimanan mereka. Kemudian kapan mereka bertaubat dengan menyempurnakan keimanan, Allah kembali akan memenangkan mereka…)) Al Jawab Ash-Shahih

Ibnul Qayyim Rahimahullah mengatakan: ((Andai seorang hamba kembali kepada sebab dan faktor (utama dalam perkara ini), tentulah kesibukan mereka dengan memperbaiki kemerosotan iman lebih berguna dan lebih tepat sebagai solusi bagi mereka daripada meladeni makar musuh-musuh mereka. Karena sesungguhnya meskipun musuhnya dzalim, tapi dia sendiri yang menjadikan musuh berkuasa atas dirinya dengan dosa-dosa yang ia perbuat))

2- Bahwa dalam menerangkan kesesatan mereka justru merupakan bentuk kasihsayang terhadap pelaku bid’ah tersebut

3- Kapan muslimin bersatu melawan musuh-musuh dari luar (kaum kafir), sedangkan barisan muslimin sendiri berbeda-beda dalam hal akidah dan manhaj, lalu mereka menang melawan musuh-musuh mereka, sesungguhnya kelak mereka akan saling serang, saling memerangi, saling usir karena berlomba-lomba merebut kepemimpinan dan kekuasaan. Contoh dalam hal ini adalah ketika muslimin berperang melawan Rusia.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *