Berikut ringkasan lahirnya firqah-firqah yang menisbatkan dirinya kepada Islam

1- Hingga Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam wafat, tidak terdapat satu pun bid’ah dan penyelewengan yang dilakukan muslimin kala itu kecuali dari seorang arab badui yang bernama Dzul Khuwaisirah. Ia memprotes pembagian rampasan perang yang dipimpin oleh Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam kepada para shahabatnya.

2- Kemudian lahirlah pada masa Khalifah Ali bin Abi Thalib Radhiyallahu ‘Anhu kelompok yang dikenal dengan sebutan Khawarij. Kelompok ini membuat beberapa pokok kebid’ahan, diantaranya; mengkafirkan muslimin dengan sebab dosa, menghalalkan darah muslimin tanpa alasan yang dibenarkan. Mereka diperangi Khalifah Ali hingga kalah di Nahrawan.

3- Kira-kira sesudah tahun 70 H lahirlah kelompok Qadariyah yang dipimpin oleh pendirinya yang bernama Ma’bad Al Juhani. Ma’bad mengambil bid’ahnya ini dari seorang Kristen yang bernama Sausan yang pura-pura masuk Islam kemudian murtad kembali. Diantara murid Ma’bad yang terkenal adalah Ghailan Ad-Dimasyqi yang dibunuh oleh Khalifah Hisyam bin Abdul Malik. Peristiwa ini terjadi pada tahun 105 H.

4- Kemudian pada akhir kurun pertama lahirlah bid’ah Irja’. Orang yang pertama kali membawanya adalah Jahm bin Shafwan As-Samarqandi. Sampai-sampai salah seorang dari mereka mengatakan:

“Perbanyaklah olehmu kemaksiatan **** Jika kelak datangnya kepada Yang Maha Dermawan

Pada tahun 128 H Jahm akhirnya terbunuh dalam barisan pemberontak yang memberontak kepada penguasa ketika itu.

5- Pada awal kurun ke 2 lahirlah bid’ah I’tizal yang menyangka bahwa pelaku maksiat di dunia tidak disebut mukmin dan tidak juga disebut kafir, melainkan ia berada di “satu tempat diantara dua tempat” . Adapun di akhirat kelompok ini menganggap pelaku maksiat kekal di neraka.

Orang yang pertama kali memperkenalkan bid’ah ini adalah Washil bin  Atha’ dan diikuti oleh Amr bin Ubaid.

6- Pada pertengahan kurun ke 2 lahir bid’ah ta’thil yang menafikan sifat-sifat Allah Ta’aala. Orang yang pertama kali membawanya adalah Ja’d bin Dirham. Dan Ja’d juga yang pertama kali mengatakan Al Qur’an makhluk. Sehingga ia pun dicari oleh Bani Umayyah dan melarikan diri ke Kufah. Kemudian ia berhasil ditangkap oleh Gubernur Kufah Khalid Al Qusariy dan disembelih pada hari raya Idul Adhha tahun itu.

Gubernur Khalid berkata pada penutup khutbah hari raya ketika itu: Wahai Muslimin, berkurbanlah! Semoga Allah menerima kurban-kurban kalian. Adapun aku, hari ini aku mengurbankan Ja’d bin Dirham.

Peristiwa ini direkam oleh Ibnul Qayyim dalam syair Nuniyahnya

ولأجل ذا ضحى بجعد خالد ال **** قسري يوم ذبائح القربان

إذ قال إبراهيم ليس خليله **** كلا ولا موسى الكليم الداني

Karena itulah Khalid menyembelih Ja’d

Al Qusariy pada hari raya kurban

Karena dia bilang Ibrahim bukan kekasih-Nya (khalilullah)

Bukan pula Musa sebagai teman bicara-Nya

 

Kemudian bid’ah ini diambil oleh Jahm bin Shafwan dan disebarkan hingga ia lebih dikenal dengan bid’ah ini ketimbang pendirinya (Ja’d bin Dirham). Inilah yang dikenal dengan bid’ah Jahmiyah.

Kesimpulan bid’ah Jahmiyah ada 3:

– Dalam perkara sifat, Jahmiyah menolaknya. Dari sini mereka disebut juga dengan Mu’atthilah dan bid’ahnya disebut ta’thil.

– Dalam perkara takdir, Jahmiyah menganggap hamba dipaksa dalam perbuatannya dan tidak memiliki pilihan. Sampai-sampai salah seorang mereka mengatakan dalam syairnya:

ألقاه في البحر مكتوفا وقال له **** إياك إياك أن تبتل بالماء

Allah melempar hamba-Nya kelautan dengan tangan terikat

Dan Dia berkata: Jangan sampai kalian basah karena air!

 

Dari sini Jahmiyah dikenal juga dengan Jabriyah.

– Dalam masalah iman Jahmiyah meyakini kemaksiatan tidak mengurangi iman.

 

Dari 3 pokok bid’ah ini lahirlah setelahnya kelompok-kelompok Murji’ah (bid’ah Irja’), Jabriyah (bid’ah Jabr), Mu’tazilah (bid’ah menafikan sifat)

Maka pada akhir kurun ke 2 atau awal kurun ke 3, ulama salaf mulai memberikan perhatian lebih dalam membantah semua kelompok-kelompok bid’ah ini.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *