Sebagian pelajar mengatakan: jika kamu melihat seseorang sujud kepada berhala, jangan kamu kafirkan secara personal karena bisa jadi hatinya tenang diatas keimanan.

Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin rahimahullah berkata;

Dan diantara faidah ayat yang mulia ini, bahwa yang menjadi ukuran dalam keimanan adalah hati, berdasarkan firman Allah Ta’aala: ((Yaitu diantara orang-orang yang mengatakan dengan mulut mereka: “Kami telah beriman”, padahal hati mereka belum beriman)) (QS. 5:41)

Maka keimanan dengan lisan bukan merupakan iman, sampai berdiri diatas keimanan hati, karena jika tidak demikian (keimanan seperti ini) tidak berguna bagi pemiliknya.

Dan diantara faidah ayat yang mulia ini, bahwa keimanan tempatnya dihati, berdasarkan firman Allah ((padahal hati mereka belum beriman)) [QS. 5:41]

Akan tetapi jika ada yang mengatakan, bukankah kita diperintah untuk menilai seseorang sesuai lahirnya?! Kita jawab: tentu, kita diperintahkan dengan ini. Akan tetapi orang yang tampak kemunafikannya, sesungguhnya kami memperlakukan dia sesuai keadaannya, seperti jika dia menampakkan kemunafikan, kita tidak diam dari orang ini.

Adapun orang yang tidak diketahui kemunafikannya, maka kita tidak punya selain kondisi lahirnya, adapun batinnya kembali kepada Allah. Sama seperti jika kita melihat orang kafir, maka kita perlakukan dia dengan perlakuan kepada orang kafir dan tidak kita katakan bahwa kita tidak mengkafirkannya secara personal, sebagaimana masalah ini rancu pada sebagian penuntut ilmu sekarang. Mereka mengatakan; Jika kamu lihat orang tidak shalat, jangan kafirkan dia secara ta’yin (personal). Jika kamu lihat orang sujud kepada berhala, jangan kafirkan dia secara ta’yin (personal) karena bisa jadi hatinya tenang diatas keimanan!

Kita katakan; ini salah besar! Kami menilai sesuai lahir. Jika kami dapati seseorang tidak shalat, kami katakan dengan tegas: orang ini kafir. Dan apabila kami lihat seseorang sujud kepada berhala, kami katakan: orang ini kafir, dan kami menta’yin dia dan kami tuntut dengan hukum-hukum Islam. Dan jika dia tidak tunduk, kami bunuh dia.

Adapun perkara akhirat, iya kami tidak mempersaksikan person mana pun dengan surga atau neraka, kecuali yang dipersaksikan oleh Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam, atau ada keterangannya dari Al Qur’an.

Sumber: Tafsir surat Al Ma’idah: 41

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *