Pertanyaan: Semoga Allah memberkati anda dan ilmu anda. Seorang penanya berkata, tampaknya pertanyaan ini dari pelajaran pagi. Dia berkata; Apa sifat yang layak diberikan terhadap orang yang meyakini orang yang mencaci Allah dengan sengaja tidak kafir, apa bisa kita bilang dia seorang murji’?

Jawaban, oleh Fadhilatus-Syaikh Shalih As-Suhaimi:

Tidak cukup baginya kalimat murji’, tidak cukup baginya kalimat murji’, bahkan dia kafir.

Ishaq bin Rahuyah rahimahullah berkata; “Ahlussunnah wal Jama’ah sepakat bahwa orang yang mencaci Allah atau mencaci Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam atau mencaci agama, ia kafir.” Ijma’ ini siapa yang menukil? Ishaq bin Rahuyah, seorang ulama agung yang terkenal, hidup sezaman dengan Imam Ahmad rahimahullah. Dia berkata; “Telah sepakat.” Hafalkan redaksi ini; “Ahlussunnah telah sepakat bahwa orang yang mencaci Allah, atau mencaci apa? (mencaci) Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam, atau mencaci agama, maka dia kafir.” Tidak ada keraguan akan kafirnya orang yang melakukan ini.

Saya ingat sekarang, saya pernah mendengar di banyak negeri Arab. Dan maaf, saya mendengarnya dengan telinga sendiri, bukan melalui carita seseorang. Orang mencaci Allah, mencaci agama, mencaci Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam. Sampai-sampai saat dia kesal kepada mobilnya, kepada kendaraannya (dia bilang); Yal’an diinakal-Ba’iidah (biar orang melaknat agamamu). Dia apa agamanya? Kendaraan tidak punya agama, tapi yang disebut agama adalah agama Islam, wahai saudaraku. Tidak ada yang layak disebut dien (agama) (selain Islam). “Sesungguhnya agama disisi Allah…” apa? Islam!

Maka apa yang telah menjadikanmu begitu lancang mengeluarkan ucapan seperti ini. Oleh karena itu barangsiapa melakukan perbuatan ini, mana lebih ringan? Saya tanya (sekarang). Mana lebih ringan dan mana lebih berat dan berbahaya, ucapan orang yang mengatakan: “Kami tidak dapati orang seperti para ahli Al Qur’an kami itu, paling besar perutnya, paling dusta lisannya dan paling takut saat bertemu musuh…” (Ucapan ini) atau orang yang mencaci Allah dan rasul-Nya dan agama-Nya (yang lebih berat dan berbahaya)?”

Mana lebih berbahaya? Yang kedua (lebih berbahaya).

Baiklah, pertama: Bukankah Allah telah mengkafirkan orang yang mengucapkannya?! “Jika kamu tanya kepada mereka, mereka pasti akan berkata; Sesungguhnya kami hanya main-main dan senda gurau saja. Katakan (kepada mereka): Apakah Allah dan ayat-ayat-Nya dan rasul-Nya kalian jadikan olok-olokan. Jangan kalian mencari-cari alasan…” sempurnakan! “Kalian telah kafir setelah keimanan kalian.”.

Yang benar ayat ini tidak berbicara tentang orang-orang munafik. Pendapat ini yang kuat sesuai tahqiq. Bukankah begitu?

Jadi, yang dimaksud ayat ini bukan orang-orang munafik. Orang-orang munafik sebelumnya sudah kafir. Akan tetapi disini Allah berkata; “Kalian telah kafir..” apa? “Setelah keimanan kalian.” Maka orang ini sebelumnya beriman, lalu menjadi kafir karena ucapannya.

Tentunya hal ini dengan mengenyampingkan beberapa riwayat yang menceritakan bahwa orang ini kemudian bertaubat di akhir hayatnya, lalu Allah menerima taubatnya. Namun yang menjadi perhatian disini bahwa orang ini menjadi kafir dikarenakan ucapannya, kemudian bertaubat. Artinya dia memperbaharui apa? Dia memperbaharui keislamannya. Sesungguhnya perkara ini adalah riddah (kemurtadan).

Seperti ini juga, aku ingat ucapan yang diutarakan mereka; “Bagimu”. Sebagian orang jika kamu diskusi dengannya dalam perkara agama mengatakan: Wahai saudaraku, sudahlah. Bagimu agamamu dan bagiku agama (sendiri).” Asyhaduallaa Ilaaha Illallah…apa agamamu berbeda dengan agamaku?! Ini ucapan yang berbahaya sekali. Agama hanya satu. Jika kamu meyakini bahwa ada dua agama, ini musibah. “Sesungguhnya agama disisi Allah adalah Islam.” “Barangsiapa mencari selain Islam sebagai agamanya, tidak akan diterima darinya.”

Maafkan saya, saya ingin memberikan perhatian terhadap masalah ini. Karena Alhamdulillah ada banyak tamu di masjid Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam. Semoga Allah menerima ibadah mereka. Semoga orang-orang yang selamat dari penyakit ini bisa mengingatkan, siapa? Mengingatkan saudara-saudaranya. Kemudian aku tanya kalian akan perkara ini yang telah aku sebutkan. Apakah (yang seperti ini) ada di dunia Islam atau tidak ada? Ada! Bahkan disebarluaskan secara massif. Sedangkan sebagian orang tidak mengetahui apa-apa tentang ini. Dia mengucapkan ucapan ini, padahal itu berbahaya. Mengucapkan ucapan tanpa memikirkan maknanya sama sekali, tanpa memikirkan akibatnya, subhanallah!! Yakni dia tidak memikirkan bahwa ucapannya adalah kekufuran. Dia tidak tahu. Karena dia tidak memperhatikan ucapannya saat dia mengeluarkannya. Maka wajib atas seorang muslim tafaqquh (belajar agama). Ucapan apa pun yang dia ragu akan hukumnya, tanyakan. Kepada siapa? (Tanya) kepada ahli ilmu. “Maka bertanyalah kepada orang yang berilmu apabila kamu apabila kamu tidak mengetahui.”

Sampai bertemu kembali di pelajaran besok. Astaudi’ukumullah…, semoga Allah memberi taufik untukku dan untuk kalian semua kepada setiap kebaikan. Semoga shalawat, salam dan keberkatan senantiasa tercurah kepada nabi kita Muhammad… -selesai.

Sumber: http://www.ajurry.com/vb/showthread.php?t=20657

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *