Kapan satire berhenti menjadi kritik, dan mulai berubah menjadi pembenaran kebencian?
Aksi Panji dalam acara Mens Rea bukan sekadar perkara lucu atau tidak lucu. Ini adalah persoalan serius tentang rusaknya etika berkarya di ruang publik. Ketika kata-kata kasar seperti “anjing”, tuduhan mabuk, dan serangan personal dijadikan bahan lawakan, maka kita tidak lagi berbicara tentang kritik sosial, melainkan penghinaan terbuka yang dinormalisasi atas nama komedi.
Islam tidak anti kritik. Bahkan amar ma’ruf nahi munkar adalah bagian dari iman. Namun Islam sangat tegas melarang penghinaan dan perendahan martabat. Apalagi jika pihak yang dihina adalah seorang tokoh masyarakat atau pemimpin.
Allah Ta’ala berfirman:
“Wahai orang-orang yang beriman, janganlah suatu kaum mengolok-olok kaum yang lain, boleh jadi mereka lebih baik dari mereka.”
(QS. Al-Hujurat: 11)
Satire yang cerdas tidak membutuhkan makian. Justru di situlah letak kualitasnya: menggugah akal tanpa merusak adab.
Para ulama dan tokoh besar umat mengkritik penyimpangan dengan hujjah yang kuat, bukan dengan cacian murahan. Ketika kritik berubah menjadi ejekan, itu pertanda akal telah dikalahkan oleh syahwat popularitas dan tepuk tangan.
Lebih berbahaya lagi, ketika penghinaan disebarkan di ruang publik dan dinikmati secara massal, ia membentuk budaya yang menganggap remeh dosa lisan. Padahal Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda:
“Sesungguhnya seorang hamba mengucapkan satu kata yang ia anggap sepele, namun karenanya ia tergelincir ke dalam neraka sejauh antara timur dan barat.”
(HR. Bukhari dan Muslim)
Karena itu, keberadaan aturan seperti UU ITE tidak patut selalu dicurigai sebagai alat pembungkaman. Ia dapat berfungsi sebagai rem sosial agar kebebasan tidak berubah menjadi kebuasan lisan.
Wahai kaum Muslimin,
jangan sampai kita tertipu oleh tawa dan tepuk tangan. Tidak semua yang menghibur itu halal, dan tidak semua yang viral itu benar. Ukurlah setiap ucapan dengan timbangan syariat dan akhlak, bukan dengan jumlah penonton.
Bagi para komedian dan penggiat konten:
bertakwalah kepada Allah dalam setiap kata. Gunakan kecerdasan untuk menyampaikan kritik, bukan lisan yang kasar. Kritiklah kebijakan, bukan merendahkan pribadi.
Bagi para penonton dan pendengar:
jangan ikut menikmati hiburan yang menormalisasi penghinaan. Diam dan meninggalkan kebatilan adalah bentuk amar ma’ruf.
Mari kita jaga lisan, pena, dan jari-jemari kita.
Karena setiap kata akan kita pertanggungjawabkan di hadapan Allah.
Dan ketahuilah, Islam tidak pernah membutuhkan cacian untuk menegakkan kebenaran.
“Barang siapa beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia berkata yang baik atau diam.”
(HR. Bukhari dan Muslim)
Salah satu musibah terbesar umat Islam hari ini bukan hanya soal kemiskinan atau kebodohan, tetapi juga rusaknya sikap terhadap agama. Dan ini yang paling parah.
Kita hidup di zaman ketika syariat Allah dijadikan bahan candaan, ibadah ditertawakan, dan simbol Islam dilecehkan di ruang publik, baik lewat panggung hiburan, media sosial, maupun ucapan sehari-hari.
Dan yang yang lebih menyedihkan, sebagian pelakunya adalah mereka yang mengaku Muslim.
Mereka berkata, “Ini cuma bercanda,” “Ini kritik,” atau “Ini seni.” Padahal demi Allah, agama tidak pernah boleh menjadi bahan olok-olokan.
Penistaan Terhadap Agama Bukan Perkara Ringan.
Allah Ta’ala telah menurunkan peringatan yang sangat keras dalam Al-Qur’an:
“Apakah dengan Allah, ayat-ayat-Nya, dan Rasul-Nya kamu selalu berolok-olok? Jangan kamu minta maaf, karena kamu telah kafir setelah beriman.”
(QS. At-Taubah: 65–66)
Ayat ini turun kepada orang-orang yang mengaku beriman, bukan kepada orang kafir. Mereka berdalih hanya bercanda, tetapi Allah menolak alasan itu. Ini menunjukkan bahwa mengolok-olok agama adalah dosa akidah yang sangat besar, bukan sekadar dosa lisan.
Para ulama Ahlus Sunnah sepakat, bahwa Menghina Allah, Rasul-Nya, Al-Qur’an, atau syariat-Nya, termasuk perbuatan istihza’, dan membatalkan keislaman seseorang.
Islam tidak anti kritik. Para sahabat dan ulama berbeda pendapat dalam banyak masalah. Tapi perbedaan itu dibangun dengan ilmu dan adab, bukan dengan ejekan dan hinaan.
Hari ini yang terjadi bukan kritik, tetapi penistaan:
Hijab disebut simbol keterbelakangan.
Syariat Allah dijadikan bahan tertawaan.
Ibadah diparodikan demi tepuk tangan. Wallahi Ini bukan keberanian berpikir. Ini adalah keberanian melawan Allah.
Ketika agama dihina dan kaum Muslimin hanya diam, tersenyum, atau bahkan ikut menertawakan, maka kehormatan Islam runtuh bukan karena musuh kuat, tetapi karena umat lemah iman.
Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda:
“Barang siapa melihat kemungkaran, maka ubahlah dengan tangannya. Jika tidak mampu, maka dengan lisannya. Jika tidak mampu, maka dengan hatinya, dan itu selemah-lemahnya iman.”
(HR. Muslim)
Dan diam tanpa sikap bukanlah toleransi. Tapi itu kelemahan iman.
Akidah Menuntut Ketegasan.
Allah Ta’ala berfirman:
“Tidak pantas bagi seorang mukmin, apabila Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu perkara, lalu mereka memiliki pilihan lain.”
(QS. Al-Ahzab: 36)
Islam bukan agama yang menyesuaikan diri dengan selera zaman. Justru manusialah yang diperintahkan tunduk kepada wahyu, bukan sebaliknya.
Tulisan ini bukan ajakan membenci, tetapi peringatan untuk menyelamatkan iman.
Jika pernah mengolok-olok agama, segera lah bertaubat.
Jika pernah diam ketika melihat penistaan, maka perbaiki sikap.
Jika mencintai Islam, maka jagalah kehormatannya. Karena iman tidak diukur dari pengakuan lisan, tetapi dari sikap terhadap agama Allah.
“Barang siapa mengagungkan syiar-syiar Allah, maka itu berasal dari ketakwaan hati.”
(QS. Al-Hajj: 32)
Wallahu a‘lam bish-shawab.