Pada pembatal kesepuluh dari kitab “Nawaqidhul Islam”, Syaikh Muhammad Rahimahullah menyebutkan perkara: Berpaling dari agama Islam, tidak mempelajarinya dan tidak mengamalkannya. Pertanyaannya, apa yang dimaksud dengan pembatal ini?!

Asy-Syaikh Sulaiman bin Sahman Rahimahullah (w. 1349) menjelaskan maksud dari “Berpaling dari agama Allah..” yang menjadi pembatal keislaman. Berikut pertanyaan yang diajukan kepada beliau:

Tanya: Apa yang dimaksud dengan “Berpaling…” yang menjadi pembatal keislaman? Dan perbuatan seperti apa yang bisa dikatakan berpaling?

Jawab: Telah kami sebutkan jawaban akan perkara ini pada penjelasan yang telah lalu, maka silahkan diperiksa ke sana. Akan tetapi kami akan sebutkan disini apa yang disebutkan oleh guru kami Asy-Syaikh Abdullathif Rahimahullah ketika beliau ditanya tentang perkara ini. Beliau menjawab:

Bahwa kondisi manusia berbeda-beda dan perbedaan mereka mengikuti tingkatan mereka dalam keimanan, jika pokok keimanannya ada. Maka kelalaian dan pengabaian terjadi pada selain itu (perkara pokok) dari hal-hal yang wajib dan mustahab.

Adapun jika perkara pokok yang menjadi ukuran seseorang masuk ke dalam Islam telah hilang dan ia berpaling dari hal ini sama sekali, inilah yang disebut dengan kufur i’radh (berpaling). Berlaku padanya firman Allah:

((Dan sesungguhnya Kami jadikan untuk (isi neraka Jahannam) kebanyakan dari jin dan manusia, mereka mempunyai hati, tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami (ayat-ayat Allah) dan mereka mempunyai mata (tetapi) tidak dipergunakannya untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan Allah), dan mereka mempunyai telinga (tetapi) tidak dipergunakannya untuk mendengar (ayat-ayat Allah). Mereka itu sebagai binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat lagi. Mereka itulah orang-orang yang lalai)).
(QS: Al-A’raf Ayat: 179)

(( Dan barang siapa berpaling dari peringatan-Ku, maka sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit, dan Kami akan menghimpunkannya pada hari kiamat dalam keadaan buta)). Qs. Thaha: 124

Maka jelaslah dari perkataan beliau bahwa manusia tidak menjadi kafir dengan sebab keberpalingan kecuali keberpalingan dari jenis tidak mau mempelajari pokok yang dengannya seseorang menjadi muslim, bukan berpaling sehingga meninggalkan kewajiban dan hal-hal yang mustahab.

Minhaj Ahlilhaq wal Ittiba’ 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *