Ummat Islam,

Sejarah telah membuktikan bahwa ketamakan terhadap dunia telah menimbulkan banyak kerusakan. Dusta, khianat, manipulasi, kezaliman dan kesemena-menaan telah menjadi kendaraan sejak ribuan tahun lalu untuk menguasai dunia. Pengalaman pahit negeri ini dalam menghadapi imperialisme barat adalah bukti nyata yang akan terus dikenang.

Penjajahan bangsa Eropa kepada orang bumi putra bukan hanya merampas kekayaan alam saja. Penjajahan mereka juga merengut jatidiri dan identitas penduduknya.

Ketamakan terhadap dunia, harta dan kedudukan adalah mesin perusak paling ampuh dalam menghancurkan satu peradaban. Sebelum kedatangan Portugis yang kemudian disusul oleh Belanda dan Inggris gugusan pulau-pulau Nusantara adalah negeri yang damai serta makmur. Tapi nafsu angkara murka untuk berkuasa dan ketamakan terhadap dunia telah menjadikan lautan dari selat Malaka hingga perairan Arafuru gelanggang pertempuran selama ratusan tahun.

Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda;

مَا ذِئْبَانِ جَائِعَانِ أُرْسِلَا فِي غَنَمٍ، بِأَفْسَدَ لَهَا مِنْ حِرْصِ الْمَرْءِ عَلَى الْمَالِ وَالشَّرَفِ لِدِينِهِ

“Tidaklah 2 ekor serigala yang dilepas kepada sekawanan domba lebih merusak mereka daripada (kerusakan yang menimpa agama akibat) ketamakan seseorang kepada harta dan kedudukan”

Tidak ubahnya dengan sekarang. Jika dahulu cara-cara keji ini dilakukan kaum penjajah yang berkolaborasi dengan penguasa pribumi, sekarang -tragisnya- terjadi antara anak bangsa sendiri. Nafsu terhadap kekuasaan telah merubah nilai-nilai luhur bangsa menjadi sikap saling sikut, cibir mencibir, menjelekkan, menjatuhkan bahkan pembunuhan karakter dan menghilangkan nyawa demi tercapainya tujuan.

Jika dahulu pertempuran terjadi di medan perang, sekarang media sosial yang sejatinya adalah wadah berbagi informasi telah berubah menjadi gelanggang perebutan simpati dengan cara-cara keji & murahan. Fitnah dari yang receh sampai konspirasi berdarah dilancarkan agar bisa merebut kekuasaan atau bisa lebih lama lagi menjabat. Karena nafsu akhirnya bangsa ini terbelah, persatuan terkoyak, nilai-nilai kemuliaan menjadi rendah, kehormatan rusak dan harga diri menjadi hilang.

Ummat Islam,

Fenomena yang kita saksikan ini jelas sangat jauh dari nilai-nilai luhur agama kita yang suci. Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam telah memperingatkan hal ini dalam banyak hadits. Diantaranya;

ما الفقرَ أخشى عليكم، ولكنى أخشى أن تُبسَط الدنيا عليكم كما بُسطتْ على من كان قبلكم، فتَنافَسوها كما تَنافسوها، فتُهلِكَكم كما أهلَكتْهم

“Bukan kefakiran yang aku khawatirkan menimpa kalian, melainkan aku khawatirkan dunia akan dibukakan untuk kalian seperti dibukakan untuk orang-orang sebelum kalian. Lalu kalian berlomba-lomba memperebutkannya seperti mereka dahulu memperebutkannya. Lalu ia membinasakan kalian seperti dahulu ia telah membinasakan mereka.”

Dan Allah Ta’aala sebelum itu telah berfirman;

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا يَسْخَرْ قَوْمٌ مِّن قَوْمٍ عَسَىٰ أَن يَكُونُوا خَيْرًا مِّنْهُمْ وَلَا نِسَاءٌ مِّن نِّسَاءٍ عَسَىٰ أَن يَكُنَّ خَيْرًا مِّنْهُنَّ ۖ وَلَا تَلْمِزُوا أَنفُسَكُمْ وَلَا تَنَابَزُوا بِالْأَلْقَابِ ۖ بِئْسَ الِاسْمُ الْفُسُوقُ بَعْدَ الْإِيمَانِ ۚ وَمَن لَّمْ يَتُبْ فَأُولَٰئِكَ هُمُ الظَّالِمُونَ

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah sekumpulan orang laki-laki merendahkan kumpulan yang lain, boleh jadi yang ditertawakan itu lebih baik dari mereka. Dan jangan pula sekumpulan perempuan merendahkan kumpulan lainnya, boleh jadi yang direndahkan itu lebih baik. Dan janganlah suka mencela dirimu sendiri dan jangan memanggil dengan gelaran yang mengandung ejekan. Seburuk-buruk panggilan adalah (panggilan) kefasikan sesudah iman dan barangsiapa yang tidak bertobat, maka mereka itulah orang-orang yang zalim.”

ليس المسلم بطعان ولا لعان ولا الفاحش البذي

“Seorang muslim bukan orang yang suka mengejek, suka melaknat, bicara cabul atau berkata rendah.” Kata Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam

Bahkan beliau mengingatkan kepada seorang shahabatnya;

يا عبدَ الرحمن بنَ سمرة، لا تسأل الإمارة؛ فإنكَ إنْ أُوتِيتَهَا عن مسألة وُكِلْتَ إليها، وإنْ أوتيتَها من غير مسألة أُعِنْتَ عليها

“Wahai Abdurrahman bin Samurah, jangan minta jabatan. Karena apabila jabatan itu kamu dapatkan karena memintanya kamu akan dijadikan bergantung kepadanya. Tapi kalau jabatan itu diberikan kepadamu tanpa memintanya kamu akan dibantu dalam menunaikannya.”

Allahu Akbar 9x Walillahil Hamd!

Ummat Islam,

Sesungguhnya menjadikan Islam dan ajarannya sebagai bahan olok-olok adalah kekufuran yang membatalkan Islam. Jika seseorang mengolok-olok Islam dengan maksud bercanda dan tujuan membuat orang lain tertawa saja menjadikan seorang muslim murtad keluar dari Islam, maka bagaimana dengan orang-orang yang mengambil keuntungan rupiah dari pekerjaannya mendeskreditkan Islam, memojokkannya dan membuat julukan-julukan jelek terhadap Islam atau ajarannya?! Pekerjaan nista ini tidak dilakukan kecuali oleh orang-orang yang didadanya tertanam kebencian terhadap syariat agung ini.

Allah berfirman tentang orang-orang yang mengolok-olok Islam dengan tujuan bergurau dalam Al Qur’an;

قُلْ أَبِاللَّهِ وَآيَاتِهِ وَرَسُولِهِ كُنتُمْ تَسْتَهْزِئُونَ لَا تَعْتَذِرُوا قَدْ كَفَرْتُم بَعْدَ إِيمَانِكُمْ ۚ

“Katakanlah (wahai Muhammad kepada mereka); Apakah Allah, dan ayat-ayat Nya dan rasul-Nya kalian mengolok-oloknya. Jangan kalian cari-cari alasan, kalian telah kafir setelah keimanan kalian.”

Maka wajib atas ummat ini untuk tidak berdiri dalam barisan orang-orang yang mengambil keuntungan dari menjelek-jelekkan Islam atau ajarannya karena Allah telah menurunkan sebuah ayat yang keras terhadap sikap ini.

وَقَدْ نَزَّلَ عَلَيْكُمْ فِي الْكِتَابِ أَنْ إِذَا سَمِعْتُمْ آيَاتِ اللَّهِ يُكْفَرُ بِهَا وَيُسْتَهْزَأُ بِهَا فَلَا تَقْعُدُوا مَعَهُمْ حَتَّىٰ يَخُوضُوا فِي حَدِيثٍ غَيْرِهِ ۚ إِنَّكُمْ إِذًا مِّثْلُهُمْ ۗ إِنَّ اللَّهَ جَامِعُ الْمُنَافِقِينَ وَالْكَافِرِينَ فِي جَهَنَّمَ جَمِيعًا

“Dan sungguh Dia telah menurunkan kepada kamu di dalam Al Quran bahwa apabila kamu mendengar ayat-ayat Allah diingkari dan diperolok-olokkan (oleh orang-orang kafir), maka janganlah kamu duduk beserta mereka, sehingga mereka memasuki pembicaraan yang lain. Karena sesungguhnya (kalau kamu berbuat demikian), tentulah kamu serupa dengan mereka. Sesungguhnya Allah akan mengumpulkan semua orang-orang munafik dan orang-orang kafir di dalam Jahannam.”

Allahu Akbar 9x Walillahil Hamd

Ummat Islam, Ummat Muhammad,

Sikap phobi atau risih terhadap Islam dan ajarannya bukan cermin jatidiri orang beriman. Sikap seperti ini sejatinya adalah warisan kaum kolonial penjajah yang datang dengan semangat perang salib.

Pada abad 15 setelah menguasai kerajaan Islam Malaka Alfonso L’Buquerque panglima perang Portugis berpidato di hadapan pasukannya dengan mengatakan; “Jika kita mampu mengusir orang-orang Arab dari negeri ini berarti kita benar-benar telah menunaikan ibadah kepada Allah karena ajaran Muhammad akan padam selama-lamanya…”

Sudah menjadi konsekwensi seorang yang beriman mencintai Allah dan segala hal yang Allah cintai. Seorang muslim wajib mencintai rasul-Nya, pada shahabat, para waliyullah dan orang-orang shalih. Bahkan Allah mengajarkan kepada kita untuk berhati bersih kepada sesama orang beriman. Allah berfirman;

وَالَّذِينَ جَاءُوا مِنْ بَعْدِهِمْ يَقُولُونَ رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلِإِخْوَانِنَا الَّذِينَ سَبَقُونَا بِالْإِيمَانِ وَلَا تَجْعَلْ فِي قُلُوبِنَا غِلًّا لِلَّذِينَ آمَنُوا رَبَّنَا إِنَّكَ رَءُوفٌ رَحِيمٌ

“Dan orang-orang yang datang sesudah mereka (Muhajirin dan Anshor), mereka berdoa: “Ya Rabb kami, beri ampunlah kami dan saudara-saudara kami yang telah beriman lebih dulu dari kami, dan janganlah Engkau membiarkan kedengkian dalam hati kami terhadap orang-orang yang beriman; Ya Rabb kami, Sesungguhnya Engkau Maha Penyantun lagi Maha Penyayang”.”

Seorang muslim/muslimah yang masih memendam kebencian terhadap ajaran Islam harus khawatir karena membenci satu saja dari syariat ini menggugurkan semua pahala amal shalih yang pernah dikerjakan;

ذَٰلِكَ بِأَنَّهُمْ كَرِهُوا مَا أَنْزَلَ اللَّهُ فَأَحْبَطَ أَعْمَالَهُمْ

“Yang demikian itu adalah karena Sesungguhnya mereka benci kepada apa yang diturunkan Allah (Al Quran) lalu Allah menghapuskan (pahala-pahala) amal-amal mereka.”

Allahu Akbar 9x Walillahil Hamd

Adanya orang yang mengaku muslim tapi benci kepada agamanya tidak lepas dari 4 sebab;

Yang pertama adalah keawamannya terhadap Islam. Karena bagaimana mungkin agama yang berasal dari Dzat yang Maha Rahman Maha Rahim dan dibawa oleh Nabi yang penuh kecintaan kepada ummatnya justru melahirkan ummat yang benci kepada agamanya?! Golongan pertama ini tidak ada obat baginya selain mulai mempelajari Islam dan bertanya kepada ahli ilmu yang dapat mengusir kerancuan di dalam pikirannya. Allah berfirman;

وَإِذَا جَاءَهُمْ أَمْرٌ مِنَ الْأَمْنِ أَوِ الْخَوْفِ أَذَاعُوا بِهِ ۖ وَلَوْ رَدُّوهُ إِلَى الرَّسُولِ وَإِلَىٰ أُولِي الْأَمْرِ مِنْهُمْ لَعَلِمَهُ الَّذِينَ يَسْتَنْبِطُونَهُ مِنْهُمْ ۗ وَلَوْلَا فَضْلُ اللَّهِ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَتُهُ لَاتَّبَعْتُمُ الشَّيْطَانَ إِلَّا قَلِيلًا

Dan apabila datang kepada mereka suatu berita tentang keamanan ataupun ketakutan, mereka lalu menyiarkannya. Dan kalau mereka menyerahkannya kepada Rasul dan Ulil Amri di antara mereka, tentulah orang-orang yang ingin mengetahui kebenarannya (akan dapat) mengetahuinya dari mereka (Rasul dan Ulil Amri). Kalau tidaklah karena karunia dan rahmat Allah kepada kamu, tentulah kamu mengikut syaitan, kecuali sebahagian kecil saja (di antaramu).

Yang kedua adalah karena terlalu percaya kepada media dan tokoh-tokoh yang anti Islam. Padahal Allah telah mengajarkan kepada kita untuk selalu cek dan ricek dalam menerima berita;

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنْ جَاءَكُمْ فَاسِقٌ بِنَبَإٍ فَتَبَيَّنُوا أَنْ تُصِيبُوا قَوْمًا بِجَهَالَةٍ فَتُصْبِحُوا عَلَىٰ مَا فَعَلْتُمْ نَادِمِينَ

Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu.

Ketiga, tidak dipungkiri sebagian sikap ummat Islam telah memperburuk citra Islam. Maka wajib bagi kita untuk tidak menisbatkan buruknya perbuatan sebagian ummat Islam kepada Islam.

Terakhir adalah karena kekhawatiran akan kebangkitan Islam. Alasan ini sejatinya hanya ada pada orang-orang non muslim atau kafir. Tapi disayangkan tidak sedikit orang Islam yang khawatir kalau kekuatan Islam berkuasa kebebasannya selama ini akan terkekang.

Allahu Akbar 9x Walillahil Hamd

Umma Islam,

Seharusnya sebagai ummat Islam kita wajib bersyukur karena tidak ada syariat yang paling sempurna daripada ajaran Islam, ajaran Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam.

الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ الْإِسْلَامَ دِينًا

Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu jadi agama bagimu.

Apabila kita mau mempelajari Islam lebih dalam akan kita dapati sekian banyak bukti bahwa tidak ada ajaran yang lebih indah dan sempurna daripada ajaran Islam. Diantaranya;

1- Islam tidak melarang ummatnya berbuat baik kepada orang-orang kafir yang tidak memerangi Islam. Bahkan apabila si kafir berbuat baik Islam justru mendorong untuk membalas kebaikan si kafir dengan balasan yang lebih agar dia tidak berhutang budi kecuali kepada Allah. Di dalam hadits Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda;

من صنع إليكم معروفا فكافؤوه فإن لم تستطع أن تكافؤوه فادعوا له حتى كأنكم قد كافأتموه

Barangsiapa berbuat baik kepadamu maka balaslah kebaikannya. Apabila kamu tidak sanggup membalas kebaikannya maka doakanlah sampai terkesan bahwa kamu telah tunai membalas kebaikannya

2- Apabila seorang muslim tidak sengaja hingga menghilangkan nyawa seorang kafir maka Islam mewajibkan kepada si muslim untuk membayar diyat/denda yang diserahkan kepada keluarga korban ditambah dengan membebaskan budak. Dan apabila si muslim tidak sanggup maka dia wajib berpuasa selama 2 bulan berturut-turut.

وَإِنْ كَانَ مِنْ قَوْمٍ بَيْنَكُمْ وَبَيْنَهُمْ مِيثَاقٌ فَدِيَةٌ مُسَلَّمَةٌ إِلَىٰ أَهْلِهِ وَتَحْرِيرُ رَقَبَةٍ مُؤْمِنَةٍ ۖ فَمَنْ لَمْ يَجِدْ فَصِيَامُ شَهْرَيْنِ مُتَتَابِعَيْنِ تَوْبَةً مِنَ اللَّهِ ۗ

Jika ia (si terbunuh) dari kaum (kafir) yang ada perjanjian (damai) antara mereka dengan kamu, maka (hendaklah si pembunuh) membayar diat yang diserahkan kepada keluarganya (si terbunuh) serta memerdekakan hamba sahaya yang beriman. Barangsiapa yang tidak memperolehnya, maka hendaklah ia (si pembunuh) berpuasa dua bulan berturut-turut untuk penerimaan taubat dari pada Allah.

3- Islam juga mewajibkan ummatnya memegang perjanjian sekalipun perjanjian itu antara muslim dan kafir

فَمَا اسْتَقَامُوا لَكُمْ فَاسْتَقِيمُوا لَهُمْ ۚ إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُتَّقِينَ

Maka selama mereka berlaku lurus terhadapmu, hendaklah kamu berlaku lurus (pula) terhadap mereka. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertakwa.

Bahkan jika ummat Islam khawatir orang-orang kafir mengkhianati perjanjian Allah tidak membenarkan ummat Islam menyerang orang-orang kafir itu secara diam-diam

وَإِمَّا تَخَافَنَّ مِنْ قَوْمٍ خِيَانَةً فَانْبِذْ إِلَيْهِمْ عَلَىٰ سَوَاءٍ ۚ إِنَّ اللَّهَ لَا يُحِبُّ الْخَائِنِينَ

Dan jika kamu khawatir akan (terjadinya) pengkhianatan dari suatu golongan, maka kembalikanlah perjanjian itu kepada mereka dengan cara yang jujur. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berkhianat.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *