1- Sultan Orkhan I (w. 761)

Dia adalah sultan ke-2 setelah ayahnya -Utsman 1 (w. 726)- berkuasa selama 35 tahun. Dia seorang sufi tarikat Bektashi. Tarikat ini merupakan tarikat sufi, syi’ah, kebatinan. Didirikan oleh Khinkar Mohammad Bektashi Khorasani dan disebarluaskan di Turki pada masa pemerintahan Sultan Orkhan I. Tarikat ini percampuran dari akidah Wihdatul Wujud dan peribadatan kepada masyaikh dan menuhankan mereka serta akidah Rafidhah terhadap imam-imam mereka. Mereka sangat ghuluw kepada Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam sampai kepada batas yang mengeluarkan mereka dari lingkup keislaman. Diantaranya adalah ucapan seorang thalib dan murid apabila ingin masuk ke dalam tarikat ini; “Aku datang ke pintu al haq dengan kerinduan meminta, mengakui-Nya dan Muhammad dan Haidar (Ali). Dan meminta kerahasiaan dan curahan dari keduanya, dan dari Az-Zahra’, Syubbar & Syubair (Hasan & Husain).”

Lalu ia berkata; “Wajahmu adalah misykat, dan Menara bagi petunjuk. Wajahmu isyarat bagi gambaran petunjuk, dan wajahmu adalah haji, umrah dan ziarah. Wajahmu bagi orang-orang yang taat adalah kiblat dan menara. Wajahmu adalah ringkasan bagi Al Qur’an.

Sedangkan wirid-wirid kaum Bektashi berada di atas akidah Rafidhah Itsna ‘Asyariyah. Banyak didapati pada akidah mereka wirid-wirid kebatinan dan tarikat ziarah yang sejalan dengan kesyirikan. Persoalan ini jelas sekali.

Lihat Tarikh Daulah Al ‘Aliyah Al ‘Utsmaniyah halaman 123, Al Fikr Ash-Shufi halaman 411.

Kadang Bektashiyah disebut juga dengan Bekdashiyah dan Bekthashiyah.

Para ahli sejarah telah menyebutkan bahwa Sultan Orkhan pernah membantu Raja Romawi melawan Raja Sharb dengan imbalan menikahi putrinya. Lihat Tarikh Ad-Daulah halaman 125 dan Al Fikr Ash-Shufi fi Dhau’ Al Kitab was-Sunnah halaman 409-424

Tarikh Ad-Daulah Al ‘Aliyyah Al Utsmaniyah halaman 125

2- Sultan Muhammad II (Al Fatih) (w. 886)

Dia diantara sultan Utsmani yang paling populer. Berkuasa selama 31 tahun. Setelah menaklukkan Konstantinopel pada tahun 857 H ia berhasil menemukan kuburan Abu Ayyub Al Anshari Radhiyallahu ‘Anhu dan membangun dharih (petilasan) di atasnya dan disampingnya dibangun sebuah masjid. Ia menghiasi masjid tersebut dengan marmer putih dan di atas kuburan Abu Ayub didirikan sebuah kubah.

Dan diantara kebiasaan kaum Utsmaniyun dalam mengangkat sultan baru mereka datang dengan rombongan besar ke masjid ini kemudian sultan yang baru diangkat memasuki masjid menuju ke kuburan lalu seorang Syaikh dari tarikat Al Maulawiyah  memberikan pedang kebesaran milik Sultan Utsman I dan diserahterimakan kepadanya. Lihat Ad-Daulah Al Utsmaniyah Daulatun Islamiyah Muftara ‘Alaiha (1/64)

Kuburan Abu Ayyub Al Anshari Radhiyallahu ‘Anhu dari dekat
Bangunan kuburan dari luar
Masjid di samping kuburan Abu Ayyub Al Anshari Radhiyallahu ‘anhu

3- Sultan Sulaiman Al Qanuni (w. 974)

Dia termasuk sultan Daulah Utsmaniyah yang paling masyhur. Memerintah selama kurang lebih 46 tahun. Dia berhasil meraih kepemimpinan tertinggi setelah membunuh saudara persusuannya Ahmad. Diantara kisahnya, saat memasuki Baghdad ia membangun kuburan Abu Hanifah dan diatasnya didirikan sebuah kubah. Dia juga menziarahi tempat-tempat suci kaum Rafidhah di Najaf dan Karbala’ dan merenovasi yang telah hancur.

Lihat Daulah Utsmaniyah, Daulatun Islamiyah (1/25) (1/64), Tarikh Ad-Daulah Al Aliyyah halaman (161, 223)

4- Sultan Abdul Hamid II (w. 1327)

Dia adalah seorang sufi fanatik pengikut tarikat Syadziliyah. Berikut ini surat Sultan Abdul Hamid II kepada syaikh tarikat Syadziliyah di zamannya; “Alhamdulillah…aku angkat harapanku ini kepada syaikh tarikat Al ‘Aliyah Asy-Syadziliyah, dan kepada penerang ruh dan kehidupan!! Guru manusia di zamannya, Syaikh Mahmud Afandi Abi Syamat. Dan aku mencium kedua tangannya yang penuh keberkahan, dengan mengharap doa-doanya yang shalih. Wahai sayyidi, sesungguhnya aku, berkat taufik dari Allah Ta’aala senantiasa menjaga kebiasaan membaca wirid-wirid  Syadziliyah siang dan malam. Dan aku senantiasa butuh kepada doa-doa Anda dengan sepenuh hati yang tiada henti.”

Tarikat Syadziliyah adalah tarikat sufi quburi yang syirik. Padanya terdapat banyak kekufuran dimana sebagiannya saja cukup sebagai bukti bahwa tarikat ini sejalan dengan akidah orang-orang kafir penyembah berhala.

Lihat Imam At-Tauhid, karya Ahmad Al Qaththan dan Muhammad Az-Zain, halaman 148, At-Thariq ila Al Jama’ah Al Umm halaman 56, Majallah Al ‘Arabi edisi 157-169

Lihat contoh-contoh kesyirikan tarikat ini, kesesatan dan kebid’ahan mereka Dirasat fit-Tasawwuf halaman 235,  At-Tasawwuf fi Mizan Al Bahts wat-Tahqiq, halaman 327.

Adapun bukti bahwa Daulah Utsmaniyah mengangkat orang-orang Yahudi, Kristen dan orang-orang kafir lainnya dalam memegang posisi-posisi penting dan membantu mereka serta menyetarakan mereka dengan muslimin ada banyak sekali. Silahkan lihat kepada Tarikh Ad-Daulah Al ‘Aliyyah dan Ad-Daulah Al Utsmaniyah Daulatun Islamiyah. Hampir tidak didapati satu pun penguasa Daulah Utsmaniyah kecuali memiliki peran dalam hal ini. Silahkan lihat sebagai contoh sirah Abdul Majid bin Mahmud yang mencetuskan Farman Al Kalkhanah pada tahun 1255 H. Disitu ditegaskan tentang kebebasan individu dan pemikiran dan dia menyetarakan muslimin dengan non muslim. Lihat Tarikh Ad-Daulah Al ‘Aliyyah halaman 455, Al Islam wal Hadharah Al Gharbiyyah halaman 15

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *