Kitab Ushul Sittah [Enam Landasan Beragama] karya Al Imam Muhammad bin Abdul Wahhab rahimahullah merupakan kitab mendasar yang seyogjanya menjadi landasan pemahaman setiap muslim. Karena pokok-pokok yang disebutkan didalamnya merupakan ajaran-ajaran dasar keislaman yang dalil-dalilnya populer dari Al Qur’an dan As-Sunnah. Untuk itu kami berupaya ketengahkan ke hadapan pembaca terjemahan dari kitab tersebut. Adapun penjabarannya bisa disimak pada link video berikut [https://www.youtube.com/watch?v=3HIDojFsFQU] yang dibawakan Al Ustadz Jafar Salih yang membacakan penjabaran Fadhilatus Syaikh Shalih Fauzan Al Fauzan hafidzahullah terhadap kitab ini.

بسم الله الرحمن الرحيم

Penulis berkata:

Diantara keajaiban yang paling mengherankan, dan bukti terbesar yang menunjukkan akan kekuasaan Raja Yang tak terkalahkan, adalah enam perkara pokok yang Allah Ta’ala terangkan dengan keterangan yang jelas bagi orang awam melebihi sangkaan semua sangkaan, kemudian setelah itu keliru pada perkara-perkara ini banyak dari orang-orang pintar di alam ini dan orang-orang berakal dari anak Adam, kecuali segelintir saja (yang selamat).

.

Pokok pertama:

Mengikhlaskan ibadah (Ad-Diin) hanya untuk Allah semata tidak ada sekutu bagi-Nya, dan keterangan akan lawannya yaitu kesyirikan kepada Allah. Serta kondisi mayoritas (ayat) Al Qur’an yang menerangkan pokok ini dari sisi yang beraneka ragam dengan bahasa yang bisa dipahami oleh orang awam sekali pun.

Kemudian ketika terjadi pada kebanyakan ummat apa yang terjadi, setan menampakkan dihadapan manusia keikhlasan dalam bentuk merendahkan orang-orang shalih dan menelantarkan hak-hak mereka. Dan menampakkan dihadapan mereka kesyirikan dalam bentuk mencintai orang-orang shalih dan mengikuti mereka.

Pokok kedua:

Allah perintahkan untuk bersatu diatas agama (tauhid) dan melarang dari berpecahbelah di dalamnya. Allah terangkan hal ini dengan keterangan yang melegakan yang bisa dipahami oleh orang-orang awam. Dan Allah melarang kita dari menjadi seperti orang-orang sebelum kita yang berpecahbelah dan berselisih sehingga mereka binasa. Dan Dia menyebutkan bahwa Dirinya memerintahkan muslimin untuk bersatu di atas agama dan melarang mereka dari berpecahbelah di dalamnya. Dan yang semakin memperjelas pokok ini adalah apa yang terdapat di dalam As-Sunnah (hadits-hadits) dari (keterangan) yang ajaib dan mengherankan.

Kemudian, yang terjadi adalah bahwa berpecahbelah dalam pokok-pokok agama dan cabang-cabangnya itulah ilmu dan fikih/pemahaman dalam beragama. Dan jadilah persatuan di dalam beragama tidak ada yang mengajak kepadanya kecuali zindiq atau orang gila!

Pokok ketiga:

Bahwa diantara sempurnanya persatuan adalah mendengar dan taat kepada pihak yang berkuasa atas kita (penguasa), walaupun dia seorang budak dari Habasyah (Afrika). Allah terangkan hal ini dengan keterangan yang jelas dan melegakan dengan berbagai bentuk-bentuk penjelasan, syar’i maupun qadari. Kemudian jadilah pokok ini tidak dikenal pada kebanyakan orang yang mengaku berilmu, maka apalagi mengamalkannya?!

 

Pokok keempat:

Keterangan (tentang) ilmu dan (siapakah yang disebut) ulama, dan (keterangan tentang) fikih dan (siapakah yang disebut) fuqaha’ dan keterangan tentang orang-orang yang menyerupai mereka padahal bukan tergolong mereka.

Allah telah terangkan pokok ini pada awal surat Al Baqarah yaitu dari firman-Nya; ((Hai Bani Israil, ingatlah nikmat-Ku yang telah Aku anugerahkan kepadamu, dan penuhilah janjimu kepada-Ku, niscaya Aku penuhi janji-Ku kepadamu; dan hanya kepada-Ku-lah kamu harus takut (tunduk)). (QS. 2:40) sampai kepada firman-Nya; ((Hai Bani Israil, ingatlah nikmat-Ku yang telah Aku anugerahkan kepadamu dan (ingatlah pula) bahwasanya Aku telah melebihkan kamu atas segala umat.)) (QS. 2:47)

Dan yang semakin memperjelas perkara ini adalah apa yang diterangkan oleh As-Sunnah pada penjelasan yang banyak lagi terang dan gamblang bagi orang awam yang bodoh sekalipun.

Kemudian jadilah hal ini perkara paling aneh dan jadilah ilmu dan fikih adalah bid’ah dan kesesatan-kesesatan. Dan yang “paling bagus” yang mereka miliki adalah mencampuradukkan kebenaran dengan kebatilan. Dan jadilah ilmu yang Allah wajibkan kepada makhluk-Nya dan Dia puji, tidak ada yang berbicara tentangnya kecuali zindiq atau orang gila. Dan jadilah orang yang mengingkari hal ini dan memusuhinya serta membuat tulisan memperingatkan darinya dan melarang darinya dialah yang disebut faqih atau alim.

 

Pokok kelima:

Keterangan Allah Ta’aala tentang wali-wali-Nya dan perbedaan antara mereka dengan orang-orang yang serupa dengan mereka dari musuh-musuh Allah dari kalangan munafik dan pendosa.

Cukup dalam perkara ini sebuah ayat dalam surat Ali Imran, yaitu firman-Nya ((Katakanlah, “Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihimu)) (Qs. 3:31)

Dan sebuah ayat dalam surat Al Maidah, yaitu firman-Nya: ((Hai orang-orang yang beriman, barangsiapa di antara kamu yang mutad dari agamanya, maka kelak Allah akan mendatangkan suatu kaum yang Allah mencintai mereka dan merekapun mencintai-Nya)) (QS. 5:54)

Dan sebuah ayat dalam surat Yunus, yaitu firman-Nya: ((Ingatlah, sesungguhnya wali-wali Allah itu, tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati. (Yaitu) orang-orang yang beriman dan mereka selalu bertaqwa.)) (QS. 10:62-63)

Kemudian jadilah perkara ini pada mayoritas orang yang mengaku berilmu dan mengaku sebagai pemberi petunjuk kepada manusia dan penjaga-penjaga agama adalah bahwa seorang wali harus ada pada mereka perbuatan meninggalkan ajaran para rasul, dan barangsiapa mengikuti para rasul maka dia bukan wali! Dan wali harus meninggalkan jihad, dan barangsiapa berjihad maka dia bukan termasuk wali! Dan wali harus meninggalkan keimanan dan ketakwaan, dan barangsiapa berpegang dengan keimanan dan ketakwaan maka dia bukan wali!

Wahai Rabb kami, kami mohon kepada-Mu keselamatan dan ampunan, sesungguhnya Engkau Maha Mendengar doa.

 

Pokok keenam:

Bantahan terhadap syubhat/kerancuan yang dibuat oleh syaithan untuk meninggalkan Al Qur’an dan As-Sunnah dan mengikuti pendapat-pendapat dan hawa-hawa nafsu (manusia) yang bersebrangan dan beraneka ragam.

Yaitu; Bahwa tidak ada yang mengerti Al Qur’an dan As-Sunnah kecuali seorang mujtahid mutlak, yaitu  orang yang memiliki sifat begini dan begitu dari kriteria-kriteria yang tidak didapati secara sempurna sekalipun pada diri Abu Bakr dan Umar! Dan apabila seseorang belum sampai seperti itu kriterianya maka wajib bagi dia untuk berpaling dari keduanya (Al Qur’an dan As-Sunnah), tanpa keraguan dan kesamaran.

Dan barangsiapa mencari petunjuk dari keduanya, maka dia seorang zindiq atau orang gila, karena sulitnya memahami keduanya!

Maha suci Allah dan Maha terpuji Dia. Berapa banyak (ayat) yang Allah jelaskan secara syar’i dan qadari, ciptaan dan perintah dalam membantah syubhat terlaknat ini dari banyak sisi hingga sampai pada kondisi diketahui oleh semua orang secara darurat. Akan tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui ((Sesungguhnya telah pasti berlaku perkataan (ketentuan Allah) terhadap kebanyakan mereka, karena mereka tidak beriman. Sesungguhnya Kami telah memasang belenggu di leher mereka, lalu tangan mereka (diangkat) ke dagu, maka karena itu mereka tertengadah. Dan Kami adakan di hadapan mereka dinding dan di belakang mereka dinding (pula), dan Kami tutup (mata) mereka sehingga mereka tidak dapat melihat. Sama saja bagi mereka apakah kamu memberi peringatan kepada mereka ataukah kamu tidak memberi peringatan kepada mereka, mereka tidak akan beriman. Sesungguhnya kamu hanya memberi peringatan kepada orang-orang yang mau mengikuti peringatan dan takut kepada Yang Maha Pemurah walaupun dia tidak melihat-Nya. Maka berilah mereka kabar gembira dengan ampunan dan pahala yang mulia.)) (QS. 36:11)

Selesai, segala puji hanya milik Allah Rabb semesta alam. Shalawat dan salam semoga tercurah kepada penghulu kita Muhammad dan keluarganya dan para shahabatnya sampai hati perhitungan. 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *